242 DETERMINAN KEJADIAN INFERTILITAS PRIA DI KABUPATEN TULANG BAWANG Yasmin Julianti S.Ningsih 1 , Achmad Farich 2 1 Puskesmas Gedong Meneng, Tulang Bawang ,2 Program Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat, Universitas Malahayati Email: yasmin.julianti@yahoo.co.id Abstract: Determine Factors of Men Infertility in Tulang Bawang. Based on the report MCH (2015) in Tulang bawang 2015 there were 186 cases of infertility. This study aims to determine the factors associated with the infertility in Tulang Bawang years 2015. The result of the bivariate analisys showed that there was a significant relationship between occupation (p-value=0,006; OR=4,117), genetics (p-value=0,039; OR=2,952), smooking (p-value=0,004; OR=4,154), alcohol (p-value=0,042 OR=2,864), and sport (p-value=0,045; OR=2,752). Multivariat analisys result can be explained that occupation (p-value=0,032; OR=3,661) experiencing infertility incidence 4,664 times. Its important for a scrining and using a self protection. Keyword: Infertility, Men, Incidence Abstrak: Determinan Kejadian Infertilitas Pria di Kabupaten Tulang Bawang. Berdasarkan laporan seksi kesehatan keluarga Dinas kesehatan Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2014 jumlah kasus kejadian infertilitas pria sebanyak 186 kasus. Metode penelitian case control. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui determinan kejadian infertilitas pria di Kabupaten Tulang bawang tahun 2015. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan (p-value=0,006; OR=4,117), riwayat infertilitas dalam keluarga (p-value=0,039; OR=2,952), perilaku merokok (p-value=0,004; OR=4,154), kebiasaan mengkonsumsi alkohol (p- value=0,042; OR = 2,864) dan olahraga (p-value=0,045; OR=2,752) dengan kejadian kejadian infertilitas pria. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan terhadap kejadian infertilitas pria adalah pekerjaan (p-value=0,032; OR=3,661) dimana responden dengan pekerjaan terpapar berisiko 3,661 kali lebih tinggi untuk mengalami kejadian infertilitas pria dibandingkan dengan responden dengan pekerjaan tidak terpapar. Perlu adanya program skrining pranikah dan penyuluhan pentingnya penggunaan alat pelindung diri. Kata Kunci: Infertilitas, Pria, Kejadian Infertilitas atau ketidak suburan merupakan ketidakmampuan pasangan usia subur (PUS)untuk memperoleh keturunan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur dan benar tanpa usaha pencegahan lebih dari satu tahun. Angka satu tahun ditetapkan karena biasanya 85% pasangan dalam satu tahun sudah memiliki keturunan. Ini berarti, 15% pasangan usia subur mempunyai masalah infertilitas (Andhyantoro dan Kumalasari, 2012). Infertilitas atau ketidaksuburan merupakan masalah umum yang mempengaruhi sekitar 10- 15% pasangan. Sepertiga masalah infertilitas pada pasangan terkait dengan organ reproduksi pria. Infertilitas pada pria adalah kondisi kelemahan pria untuk membuat pasangan wanitanya hamil. Selama ini wanita seringkali dianggap sebagai penyebab pasangan suami istri sulit untuk memiliki momongan. Ternyata, berdasarkan penelitian dari organisasi kesehatan dunia (WHO), 11-15% pasangan sulit memiliki keturunan disebabkan oleh faktor infertilitas dari suami (Triwani, 2013). Infertilitas sekunder adalah ketidakmampuan seseorang memiliki anak atau mempertahankan kehamilannya (HIFERI, 2013). Masalah infertilitas dapat memberikan dampak besar bagi pasangan suami isteri yang mengalaminya, selain menyebabkan masalah medis, infertilitas juga dapat menyebabkan masalah ekonomi maupun psikologis. Secara garis besar, pasangan yang mengalami infertilitas akan menjalani proses panjang dari evaluasi dan pengobatan, dimana proses inidapat menjadi beban fisik dan psikologis bagi pasangan infertilitas (HIFERI, 2013). Menurut data demografis dunia 12,5 persen pasangan usia subur mengalami kesulitan mendapatkan anak (Triwani, 2013). Indonesia memiliki jumlah penduduk sekitar 238 juta dan diperkirakan prevalensi infertilitas sebanyak 2.647.695. Di Inggris jumlah sperma yang rendah atau kualitas sperma yang jelek merupakan