WARTAZOA Vol. 32 No. 3 Th. 2022 Hlm. 143-150 DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v32i3.3078 143 Tanaman Pakan Ternak Toleran Salin: Karakteristik, Kandungan Nutrisi, Produktivitas dan Budidaya (Tolerant Saline Forage: Characteristic, Nutrient Content, Productivity and Cultivation) Harmini 1 , A Fanindi 1 dan MC Hadiatry 2 1 Pusat Riset Peternakan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Cibinong Science Center, Jalan Raya Jakarta-Bogor, Bogor 2 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten Kontributor utama: harm004@brin.go.id (Diterima 27 Juni 2022 – Direvisi 22 Agustus 2022 – Disetujui 2 September 2022) ABSTRACT The area of saline land in Indonesia will continue to expand which are potential to be used for forage development. The usage of saline land has a limiting factor of high salt content, that affects the productivity and nutritional quality forage. Several saline-tolerant fodder plants, including Pennisetum notatum, Pennisetum hybrida, Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Setaria sphacelata, and Cynodon plectostachyus, have the potential to be developed. Plants respond to salinity by decreasing morphological performance, transpiration, and stomata. The productivity and nutrient content of grass are influenced by salinity. Saline-tolerant forage have similar productivity and nutrient content to those grown on optimal land. Fertilization, soil media, and the use of saline tolerant varieties can all be used to grow saline tolerant grass. Key words: Productivity, nutrient content, saline, grass, tolerant ABSTRAK Luas lahan salin di Indonesia akan terus meningkat dan berpotensi untuk pengembangan tanaman pakan ternak (TPT). Pengembangan lahan salin memiliki faktor pembatas kadar garam yang tinggi sehingga berpengaruh terhadap produktivitas dan kualitas nutrisi TPT. Beberapa jenis TPT toleran salin seperti Pennisetum notatum, Pennisetum hybrida, Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Setaria sphacelata dan Cynodon plectostachyus sehingga potensial untuk dikembangkan. Tanaman beradaptasi terhadap salinitas dengan menurunkan keragaan morfologi, memperkecil transpirasi tanaman, dan penurunan stomata. Salinitas berpengaruh terhadap produktivitas dan kandungan nutrisi TPT. Tanaman Pakan Ternak toleran salin memiliki produktivitas dan kandungan nutrisi yang relatif sama dengan TPT pada lahan optimal. Budidaya TPT toleran salin dapat dilakukan dengan pemupukan, modifikasi media tanah, dan penggunaan varietas toleran salin. Kata kunci: Produktivitas, kandungan nutrisi, salin, rumput, toleran PENDAHULUAN Lahan salin adalah lahan dengan kandungan garam mudah larut, seperti NaCl, Na2CO3, Na2SO4 yang tinggi, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Total luas lahan salin di Indonesia mencapai 440.300 ha dengan kriteria lahan agak salin 304.000 ha dan lahan salin 140.300 ha (Rachman et al. 2007), luasnya diperkirakan akan terus mengalami peningkatan setiap tahun. Proses perubahan lahan menjadi lahan salin disebut salinisasi. Salinisasi disebabkan oleh penggunaan irigasi dengan kadar garam tinggi secara berkesinambungan sehingga terakumulasi di perakaran tanaman. Faktor pemicu lain adalah perubahan iklim yang meningkatkan salinitas tanah karena evaporasi dari air dibawah permukaan di daerah pesisir. Wilayah pesisir yang rentan dan berdampak langsung terhadap salinisasi pesisir di pulau-pulau yang berjumlah 17.000 pulau (Sukarman, 2018). Lahan salin di Indonesia sebagian besar terjadi pada daerah pesisir dengan air tanah yang dangkal akibat terjadinya penguapan air laut, sehingga terjadi peningkatan kadar garam. Lahan salin juga diakibatkan oleh tsunami yang menyebabkan daerah berelevasi rendah tergenang air laut. Lahan-lahan di daerah ini sekarang kembali digunakan untuk kegiatan pertanian, memiliki faktor pembatas berupa tingkat salinitas yang tinggi sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman (Arabia et al. 2012). Lahan salin adalah lahan yang mendapat intrusi air laut lebih dari empat bulan dalam setahun serta kandungan natrium tanahnya 8 sampai 15% (Sopandie 2013). Lahan salin juga dicirikan oleh nilai persentase natrium dapat ditukar (ESP) > 15%,