Copyright© 2022; BIA’, ISSN: 2655-4666 (print), 2655-4682 (online)| 98
Rekonstruksi Apokaliptis Antara Wahyu 22 1-5 Dengan Tradisi Kebo-
Keboan
Ricky Atmoko,
*1
Andreas Hauw
2
1,2
Seminari Alkitab Asia Tenggara
*1
rickyatmoko33@gmail.com
DOI: https://doi.org/10.34307/b.v5i1.356
Abstract: "Kebo-keboan" tradition has been widely discussed in various journals
nowadays. But no one has studied the gospel bridge from Christian apocalyptic literature
with "kebo-keboan" tradition. The author asked, can the apocalyptic concept in
Revelation 22:1-5 be a gospel bridge for the “kebo-keboan” tradition? The author uses
Paul Hiebert's critical contextualization concept as a research methodology. This
methodological procedure consist of cultural analysis, Bible analysis, critical responses,
and making new contextualization practices. From the cultural and Bible analysis, the
author compares the vision receiver, apocalyptic environment, vision, and trancendent
person. The author gives two critical response. The trancendent person replaced by God
and the Lamb. The vision receiver, apocalyptic environment, and the Using community ’s
vision is acceptable. The author proposes three things for the new contextualization
practice. The sowing seeds practice can be seen as a consumnation from God through tree
and water of life. Offerings can be interpreted as an expression of gratitude for God as He
lifted the curse. Then the dependence and eminence of Dewi Sri are diverted to God. In
conclusion, the writer proves that the apocalyptic concept in Revelation 22:1-5 can be a
gospel bridge for the “kebo-keboan” tradition.
Keywords: Revelation 22:1-5, apocalyptic, kebo-keboan tradition, and critical
contextualization
Abstrak: Tradisi “kebo-keboan” ramai diperbincangkan dalam banyak jurnal kekinian.
Namun belum ada yang mengkaji jembatan injil dari literatur apokaliptik Kristen
dengan tradisi “kebo-keboan”. Penulis bertanya, apakah konsep apokaliptik dalam
Wahyu 22:1-5 dapat menjadi jembatan injil bagi tradisi “kebo-keboan”? Penulis
memakai konsep kontekstualisasi kritis Paul Hiebert sebagai metodologi penelitian.
Prosedur metodologi ini yaitu analisa kultur, analisa Alkitab, memberi respons kritis,
serta membuat praktik kontekstualisasi baru. Dari analisa kultur dan Alkitab, penulis
membandingkan sosok pahlawan yang menerima visi, lingkungan apokaliptik, visi yang
diterima, dan pribadi transenden yang disembah. Penulis memberikan dua respon
kritis. Respons pertama adalah pribadi transenden yang dipercayai masyarakat Using
perlu diganti dengan Allah dan Anak Domba. Respons kedua adalah sosok pahlawan,
lingkungan apokaliptik, dan visi yang diterima masyarakat Using dapat diterima.
Penulis mengusulkan tiga hal dalam praktik yang diperbaharui. Penyemaian bibit dapat
dilihat sebagai pemulihan Allah melalui pohon dan air kehidupan. Sesaji dapat
dimaknai sebagai ungkapan syukur atas kutukan yang telah diangkat oleh Tuhan. Lalu
kebergantungan dan keutamaan dari Dewi Sri dialihkan kepada Allah. Pada akhirnya
Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN 2655-4666 (print), 2655-4682 (online)
Volume 5, No 1, Juni 2022; (98-114) Available at: http://www.jurnalbia.com/index.php/bia