Savana Cendana 3 (2) 33-37 (2018)
Jurnal Pertanian Konservasi Lahan Kering
International Standard of Serial Number 2477-7927
A. Banu & A. Tefa / Savana Cendana 3 (2) 33–37 33
Pengaruh Penggunaan Kombinasi Kompos Teh dan Arang Kesambi terhadap Pertumbuhan Tanaman Bayam
Hijau (Amaranthus Sp)
Apolinaris Banu
a
, dan Anna Tefa
b
a
Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kefamenanu, TTU – NTT, Indonesia.
b
Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kefamenanu, TTU – NTT, Indonesia.
Article Info Abstrak
Article history:
Received 8 Februari 2018
Received in revised form 19 Maret 2018
Accepted 4 April 2018
Bayam hijau merupakan salah satu sayuran daun terpenting di Asia dan Afrika. Pupuk yang sangat baik bagi pertumbuhan bayam adalah
pupuk organik. Pupuk organik yang dikenal salah satunya adalah teh kompos yang dapat dikombinasikan dengan arang kesambi. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teh kompos dan arang kesambi terhadap pertumbuhan bayam hijau. Penelitian menggunakan
rancangan acak kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah arang kesambi yang terdiri dari tiga level, yaitu kontrol, 5 t/ha, 10 t/ha.
Faktor kedua adalah konsentrasi teh kompos yang terdiri dari tiga level, yaitu: kontrol, 1:5, 1:10. Teh kompos diberikan setiap minggu
semenjak tanaman berumur 7 sampai 28 hari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Februari 2017 di lahan percobaan Fakultas
Pertanian, Universitas Timor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian arang kesambi 5 t/ha dan teh kompos dengan konsentrasi
perbandingan 1:5 secara nyata memberikan hasil tanaman terbaik yaitu pada bobot segar tanaman (122,30 g) dan bobot segar tajuk (106,24
g). ©2018 dipublikasikan oleh Savana Cendana.
Keywords:
Kompos Teh
Arang Kesambi
Bayam Hijau
1. Pendahuluan
Bayam hijau merupakan salah satu sayuran daun terpenting di Asia dan
Afrika. Sayuran ini mengandung sumber kalsium, zat besi, vitamin A dan
Vitamin C. Bayam hijau adalah tanaman yang berumur pendek dan dapat
dibudidayakan dengan mudah di pekarangan rumah atau lahan pertanian. Selain
digunakan sebagai sayur, bayam hijau juga dapat digunakan sebagai bahan obat
tradisional dan kecantikan. Daun dan bunga bayam berduri berkhasiat dalam
pengobatan penyakit asma. Akar bayam hijau dapat digunakan sebagai obat
disentri. Sebagai bahan pengobatan luar, bayam hijau dapat dijadikan campuran
bahan kosmetika (Rukmana, 1994). Dewasa ini dalam budidaya bayam,
umumnya masyarakat menggunakan pupuk kimia sintetik. Masalah lain yang
patut diperhatikan dalam penggunaan pupuk kimia di Indonesia adalah adanya
indikasi proses pengurangan kandungan 10 jenis unsur hara meliputi sebagian
unsur hara makro yaitu N, P dan K serta unsur hara mikro yaitu Fe, Na, Mo, Cu,
Mg, S dan Ca (Suriatna, 2002). Berdasarkan hal tersebut makin berkembang
alasan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia. Salah satu solusi dari
pengurangan pupuk kimia adalah melakukan pembudidayaan tanaman dengan
sistem pertanian organik.
Menurut Suriatna, (2002), pupuk an-organik atau kimia sintetik mampu
meningkatkan produktivitas tanah dalam waktu singkat, tetapi akan
mengakibatkan kerusakan pada struktur tanah (tanah menjadi keras) dan
menurunkan produktivitas tanaman yang dihasilkan, sedangkan bayam
merupakan tanaman yang mudah menyerap pupuk kimia. Hal ini akan
berdampak pada kesehatan manusia yang menyebabkan penyakit. Pupuk yang
sangat baik bagi pertumbuhan bayam adalah pupuk organik (Sinaga, 2010).
Pupuk organik yang dikenal salah satunya adalah teh kompos yang dapat
dikombinasikan dengan arang kesambi. Teh kompos berasal dari kompos padat
dan hijauan daun, sedangkan arang terbentuk dari sisa-sisa pembakaran kayu
kesambi yang berfungsi sebagai pemadat tanah. Penggunaan teh kompos sebagai
pupuk sangat baik karena dapat memberikan manfaat antara lain menyediakan
unsur hara bagi tanaman, menggemburkan tanah, memperbaiki struktur dan
tekstur tanah, meningkatkan daya ikat tanah terhadap air, memudahkan
pertumbuhan akar tanaman, menyimpan air tanah lebih lama, mencegah lapisan
kering pada tanah, mencegah beberapa penyakit akar, harganya lebih murah,
berkualitas dan ramah lingkungan, pemakaiannya lebih hemat, bersifat multi
lahan karena bisa digunakan di lahan pertanian, perkebunan dan reklamasi lahan
kritis (Irwan et al., 2015).
Selain itu dalam teh kompos terdapat mikroorganisme yang menguntungkan
yaitu jamur dan bakteri. Jamur yang berhasil di identifikasi terdapat dalam
kompos adalah jamur Mucor sp, Rhizopus, Aspergillus sp, sedangkan bakteri
adalah Bacillus sp, Enterobacter sp, Eschericia coli (Yuli et al., 2003).
Arang kesambi dapat membantu pertumbuhan tanaman sehingga menjadi
subur, karena arang merupakan pengatur kesuburan tanah. Menurut (Ogawa,
1994), arang aktif efektif dalam meningkatkan sifat fisik tanah seperti agregat
tanah dan kemampuan tanah mengikat air. Pada tanah berliat, arang aktif dapat
membantu menurunkan kekerasan tanah dan mempertinggi kemampuan
pengikatan air tanah, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas
mikroorganisme tanah. Di dalam tanah, arang aktif memainkan peranan sebagai
rumah untuk mikroorganisme. Pori-pori kecil pada karbon aktif digunakan
sebagai tempat tinggal bakteri, sedangkan pori besar dan retakan digunakan
sebagai tempat berkumpulnya mikroorganisme. Penggunaan arang aktif di lahan
dapat meningkatkan jumlah bakteri dalam tanah terutama di sekitar akar
tanaman pangan. Arang akan mengikat secara baik setiap unsur baik tanaman
yang melewatinya dan akan memberikan nutrisi tersebut pada tanaman.
Penggunaan pupuk kimia sebaiknya harus dikurangi, sehingga penggunaan
pupuk organik seperti teh kompos yang dikombinasikan dengan arang kesambi
dapat meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman bayam. Penelitian (Bria, 2016)
telah membuktikan bahwa aplikasi kompos teh pada tanaman bayam merah
meningkatkan pertumbuhan tanaman (jumlah daun) dan hasil (berat segar total)
berkisar dari 106,9-126,3% dan 136,6%-237,3%. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi teh kompos dan arang
kesambi terhadap pertumbuhan tanaman bayam hijau.
2. Metode
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2017, di
Kebun percobaan Fakultas pertanian, Universitas Timor, Kelurahan Sasi,
Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Bahan
yang di gunakan dalam penelitian ini adalah benih bayam hijau, kotoran sapi
kering, daun gamal (Gliricidia sepium), daun kirinyu (Chromolaena odorata),
arang kesambi, EM4 dan air. Alat yang digunakan adalah aerator, cangkul,
parang, meter, tali rafia, ember, gembor, termometer, timbangan, oven, alat tulis
dan saringan.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAK) faktorial.
Faktor pertama adalah arang kesambi yang terdiri dari tiga aras, yaitu kontrol 0
t/ha (a0), 5 t/ha (a1), 10 t/ha (a2). Faktor kedua adalah teh kompos dan air yang
terdiri dari tiga aras, yaitu: konsentrasi 0:0 (k0), 1:5 (k1), 1:10 (k2). Kombinasi
perlakuannya adalah a0k0, a0k1, a0k2, a1k0, a1k1, a1k2, a2k0, a2k1, a2k2. Perlakuan ini
di ulang tiga kali sehingga terdapat 27 satuan percobaan.
Proses pembuatan kompos dilakukan dengan cara kotoran sapi dicampur
secara merata dengan hijauan daun yang telah di haluskan kemudian disirami
sambil diaduk secara merata dengan air yang di dalamnya telah dilarutkan EM4
dan gula cair. Adonan kemudian dibuat tumpukan setebal 2-3 cm, ditutup dengan
karung dan dibalik setiap 3 hari. Sedangkan pembuatan teh kompos dilakukan
dengan cara air bersih disiapkan dalam ember sebanyak 10 l, selanjutnya 1 kg
kompos yang telah dibungkus dengan kain kasa dimasukkan ke dalam ember
tersebut, dan ditambahkan larutan gula 50 ml. Campuran tersebut diaduk selama
24 jam menggunakan aerator. Setelah 24 jam (1 hari), teh kompos yang harum
baunya disaring menggunakan saringan air dan siap untuk diaplikasikan.
Areal yang digunakan untuk bedengan terlebih dahulu dibersihkan dari
gulma, kemudian dilakukan pengolahan tanah. Pembuatan bedengan sesuai petak
perlakuan 100 cm x 120 cm. Pemberian arang kesambi di berikan 4 minggu
sebelum tanam sesuai dosis perlakuan, kemudian diratakan dengan tanah.
Setelah bibit tanaman bayam hijau berumur 21 hari di persemaian, maka bibit
tanaman bayam hijau tersebut dipindahkan ke petak percobaan yang berukuran
100 x 120 cm dengan jarak tanam 20 x 20 cm, kemudian tanah di sekitar lubang
dipadatkan dan diratakan agar tidak terdapat rongga udara di antara akar dan
tidak terjadi genangan air. Bibit yang dipindahkan kelapangan adalah bibit yang
mempunyai pertumbuhan yang baik yang berbatang lurus, daunnya hijau
mengkilap dan jumlah daunnya 3-5 helai daun atau berumur 21 hari serta bebas
hama dan penyakit. Penanaman dilakukan pada sore hari agar tanaman tidak
mengalami kelayuan. Penyiraman dilakukan pagi dan sore kecuali pada hari
pemberian teh kompos dilakukan. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan
botol semprot agar volume air yang diberikan pada setiap tanaman sama.
Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, penyulaman, pembersihan
gulma dan pengendalian hama penyakit. Penyiraman dilakukan sehari 2 kali
yaitu pagi dan sore kecuali dalam kondisi hari hujan. Penyulaman dilakukan 7
hari setelah tanam untuk benih yang tidak normal atau tanaman yang mati,
sedangkan pengendalian gulma dilakukan secara manual. Pengendalian hama
dan penyakit di lakukan sesuai kondisi gejala serangan.
Teh kompos diberikan pada pagi hari sekitar jam 7-9, dimulai dari tanaman
berumur 7 HST (hari setelah tanam) dan dilakukan setiap 7 hari sekali hingga
tanaman berumur 28 hari (seminggu sebelum panen). Aplikasi sesuai dengan
perlakuan. Panen dapat dilakukan setelah tanaman berumur 35 HST (hari setelah
tanam). Pemanenan dilakukan dengan cara memotong bagian pangkal batang.
Parameter pengukuran dalam penelitian ini adalah:
a. Suhu tanah (
o
C)
Suhu tanah diukur dengan cara menancapkan termometer suhu tanah pada
kedalaman 5 cm selama 3 menit pada tiga titik untuk setiap petak, pada siang hari
pukul 12.00-14.00 WITA dan dicatat suhunya. Selama penelitian pengukuran
suhu tanah sebanyak empat kali yakni pada 7, 14, 21 dan 28 HST. Pengukuran
suhu tanah dilakukan sesuai petunjuk (Budhyastoro et al., 2006).