Available at http://jurnal.stie-aas.ac.id/index.php/jap Jurnal Akuntansi dan Pajak, 22(01), 2021, Hal. 346-353 Jurnal Akuntansi dan Pajak, ISSN1412-629X l E-ISSN2579-3055 PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, REMUNERASI CEO DAN MODAL INTELEKTUAL TERHADAP STICKY COST PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR BEI TAHUN 2018-2019 Verdiana Hendrawati Santoso 1) , Dyna Rachmawati 2) 1 Pascasarjana Akuntansi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya E-mail: verdiana1997@gmail.com 21 Pascasarjana Akuntansi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya E-mail: penulis dyna@ukwms.ac.id Abstract Sticky cost occured when costs increase by the time activity increases, but it does not decrease as fast as it increases when sales decreases. The sticky cost had a bad effect for companywhere the level of sticky cost is increase company will more difficult to achieve the level of profit. This study aims to analyze and examine the effect of company size, CEO remuneration and intellectual capital on sticky costs. The population of this research is the manufacture companies listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) in 2018-2019. The total samples of this research are 56 companies were selected using purposive sampling method. The data analysis technique used multiple linear regression analysis.The results of the research show that company size have a significant negative effect on sticky costs, the company with a large size can manage costs properly to minimize the sticky costs, while CEO remuneration has a positive effect on sticky costs, the higher the amount of remuneration will increase the total selling, general administrative (SG&A) cost that triggers sticky cost, and intellectual capital has no effect on sticky costs, the greater or the smaller the intellectual capital investment will not triggers sticky costs. Keywords:Sticky Cost, Size, CEO Remuneration and Intellectual Capital. DOI: http://dx.doi.org/10.29040/jap.v22i1.1892 1. PENDAHULUAN Pandemi COVID-19 memberikan efek pelambatan pertumbuhan ekonomi diungkapkan oleh Sri Mulyani Menteri Keuangan Indonesia, pada kuartal kedua diprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi minus 4,3% yang disebabkan karena penurunan pada sektor perdagangan, manufaktur, transportasi dan wisata yang sangat tajam (Yuniar, A., 2020). Pada sektor manufaktur PT Astra Daihatsu Motor (ADM) mengalami penurunan penjualan sebesar 38,6% dibandingkan tahun 2019, menyadari bahwa permintaan sedang menurun PT ADM memutuskan untuk menutup sementara pabriknya pada 10 April 2020 (indozone.id, 2020). Namun pada kondisi seperti ini PT Astra Daihatsu Motor tidak melakukan pengurangan sumber daya. Disampaikan oleh PT ADM tidak ada PHK karena perusahaan berkomitmen untuk mempertahankan semua sumber daya termasuk tenaga kerja. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk mengefisiensikan pengeluaran biaya yang dimiliki hal ini membuat pengelolaan sumber daya harus dilakukan dengan tepat.Sumber daya adalah suatu hal yang bernilai ekonomi untuk perusahaan. Sumber daya fleksibel adalah sumber daya yang disediakan pada saat diperlukan, sedangkan sumber daya yang terikat adalah sumber daya yang disediakan bahkan sebelum diperlukan. Penggunaan sumber daya fleksibel akan menimbulkan biaya variabel sedangkan penggunaan sumber daya yang terikat akan menimbulkan biaya tetap. Perusahaan yang memiliki lebih banyak sumber daya terikat maka