PEMBUATAN BRIKET DARI BOTTOM ASH DAN ARANG SEKAM PADI SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF ( Studi Kasus : Industri tekstil X, Ungaran Semarang ) Bunga Natalia H, Badrus Zaman, Syafrudin. ABSTRACT Briquette is a fuel substitute that can be used as an alternative and renewable energy. Bottom ash including B3 waste materials are hazardous and toxic while rice husk is an agricultural waste both solid waste is not optimal reuse. The calorific value of each waste are bottom ash according Samadhi (2008) of 3324 cal/g and rice husk according to the Ministry of Agriculture (2010), 1 kg of rice husk has a calorific value of 3300 cal/g. In this case, waste bottom ash and rice husk deserves to be reused because it has a fairly high calorific value. This study was conducted with a variety of compositions between rice husk and bottom ash using a comparison are 100%:0% ; 80%:20% ; 60%:40% ; 50%:50% ; 40%:60% ; 20%:80% ; 0%:100%. This study uses briquettes quality testing standards including : test characteristics include heating value, moisture content, ash content (residue) ; compressive strength test ; testing of air pollutants ; and heavy metal content test using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). The results showed that the optimum variation of briquettes is a variation of 80% rice husk and 20% bottom ash, this briquettes has a water content of 3.340%, ash content of 51.023%, calorific value of 3478.455 cal/g, compressive stength of 2.037 kg/cm 2 , CO 893.57 mg/Nm 3 , Zn 31.207 mg/l and Cu 12.987 mg/l. The result of the briquttes characteristics test showed that with increasing amounts of rice husk can increase the moisture content and calorific value, and be able to lower ash content and compressive strength. Keywords : Briquette , Methods , Bottom ash , Rice Husk, Renewable Energy PENDAHULUAN Krisis energi bahan bakar terus meningkat, sebagian besar energi yang digunakan berasal dari bakar fosil yang tergolong energi tidak terbarukan (nonrenewable), sehingga kita dituntut untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Efisiensi energi dapat dilakukan dengan mencari dan mengembangkan sumber sumber energi konvensional. Di Semarang dan sekitarnya banyak terdapat industri besar menggunakan bahan bakar batu bara, seperti industri tekstil di Ungaran. Dari mesin pembangkit uap (blower) dihasilkan limbah ± 2 sampai 5 ton per hari yang terdiri dari fly ash dan bottom as. Nilai kalor bottom ash menurut Samadhi (2008) sebesar 3324 kal/gr yang tergolong cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan kembali dan berpotensi sebagai sumber energi alternatif terbarukan. Berdasarkan PP. No. 85 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), fly ash dan bottom ash dikategorikan sebagai limbah B3 karena terdapat kandungan oksida logam berat yang akan mengalami pelindihan secara alami dan mencemari lingkungan. Limbah bottom ash yang dihasilkan belum diolah secara optimal, sebagian besar hanya ditimbun di ash disposal area dan tidak dimanfaatkan kembali sehingga akan terus menerus dibutuhkan lahan untuk menampungnya. Selain itu, dapat berpotensi menimbulkan polusi tanah dan air akibat perlindian logam berat dari bottom ash. Disisi lain, potensi biomassa di Indonesia yang bisa digunakan sebagai sumber energi jumlahnya sangat melimpah. Briket yang terkenal adalah briket batubara namun tidak hanya batubara saja