116 | Jurnal Teknik, Volume 16, Nomor 2, Oktober 2022 , pp 116 -122 p-ISSN : 1858-4217, e-ISSN : 2622-710X, DOI : https://doi.org/10.31849/teknik.v16i2 ANALISIS KARAKTERISTIK SPASIAL DAN TEMPORAL KEBAKARAN LAHAN GAMBUT DI KHG PULAU RANGSANG Nur Hidayati 1 , Sigit Sutikno 2 , Nurul Qomar 3 1 Program Pasca Sarjana, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau 2 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau 3 Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau Kampus Bina Widya, Jl. HR Soebrantas km 12,5, Simpang Baru, Pekanbaru Telp. (0761) 63272 Email: nur.hidayati6965@grad.unri.ac.id, sigit.sutikno@lecturer.unri.ac.id, nqomar@lecturer.unri.ac.id ABSTRAK Kebakaran lahan gambut yang terjadi hampir setiap tahunnya menjadi permasalahan serius di Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) Pulau Rangsang dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Tingkatan kebakaran lahan gambut yang cukup parah hanya mampu dipadamkan oleh hujan. Analisis karakteristik spasial dan temporal kebakaran lahan gambut merupakan analisis yang berkaitan dengan distribusi sebaran hotspot (selang kepercayaan >60%) menggunakan citra Landsat serta pola yang terbentuk sebagai indikasi areal bekas kebakaran yang ditimbulkan oleh data hotspot tersebut dalam kurun waktu 20 tahun terakhir (2001-2020). Analisis ini diharapkan dapat memberikan referensi yang mampu menjelaskan tentang karakteristik kebakaran lahan gambut diantaranya yaitu luas area bekas terbakar, durasi kebakaran dan laju kebakaran yang terjadi di setiap tahun. Rekomendasi upaya pencegahan sebaiknya mengambil pembelajaran dan sejarah terjadinya kebakaran yang hampir setiap tahun terjadi, agar kejadian tersebut tidak terulang kembali. Data hasil analisis hotspot tersebut di tumpang-susunkan dengan teknik on-off layer citra Landsat yang sebelumnya telah dilakukan composite band untuk dilakukan proses deleniasi dengan menggunakan GIS (Geographic Information System). Hasil deleniasi tersebut dijadikan dasar untuk memperoleh karakteristik kebakaran lahan gambut pada KHG Pulau Rangsang. Pada penelitian ini menunjukkan total luas areal kebakaran yang terjadi pada KHG Pulau Rangsang dalam kurun waktu 20 tahun yang mencapai 114.982,71 ha, dengan total durasi kebakaran selama 308 hari sehingga diperoleh laju kebakaran sebesar 373,32 ha/hari. Kata Kunci: lahan gambut, kebakaran, spasial, temporal, titik panas. ABSTRACT Peatland fires are a serious problem in the Peat Hydrological Unit (PHU) of Rangsang Island for the last 20 years. The level of peatland fires that are quite severe can only be extinguished by rainfall. The analysis of spatial and temporal characteristics of peatland fires related to distribution of hotspots with a confidence level >60%, using Landsat imagery and pattern formed as an indication of the burned area caused by the hotspot data in the last 20 years (2001-2020). This analysis is expected to provide a reference that is able to explain the characteristics of peatland fires, including total area burned, duration of peat fire and the rate of peat fire that occurs every year. The results of hotspot analysis are overlapped with on-off layer technique of Landsat imagery that has been composited band using GIS (Geographic Information System). delineation results are used as the basis for obtaining the characteristics of peatland fires in the Rangsang Island KHG.The results of the delineation were used as the basis for obtaining the characteristics of peatland fires in the Rangsang Island KHG. In this study, the total area of fires that occurred in Rangsang Island KHG in a period of 20 years reached 114,982.71 ha, with a total duration of 308 days of fire. Keywords: peatland, fire, spatial, temporal, hotspot 1. PENDAHULUAN Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang terbesar di kawasan tropika sekitar 21 juta ha, hanya 8% gambut tropis dari luas total lahan gambut di dunia. Namun, degradasi lahan gambut di Indonesia terjadi dalam skala besar, sehingga hanya tersisa kurang dari 4% lahan gambut asli (pristine peat swamp forest), sementara 37% lainnya mengalami degradasi dengan berbagai tingkatan serta > 20% lahan gambut di Indonesia dalam kondisi sebagai lanskap terdegradasi yang tidak dikelola [10].