Copyright ©2022 ARCADE:This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License[CC BY SA]
290 Jurnal Arsitektur ARCADE: Vol. 6 No.2, Juli 2022
SISTEM PENGHAWAAN PADA KAMAR HOTEL
Maria Carizza Pandora Raharjo
1
, Wahyu Setia Budi
2
, Eddy Prianto
3
Magister Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
1
, Fakultas Sains dan Matematika,
Universitas Diponegoro
2
, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
3
E-mail:carizzally@gmail.com, wahyu.sb@fisika.fsm.undip.ac.id, eddyprianto@arsitektur.undip.ac.id
Abstract: Nowadays, development in urban areas is progressing very rapidly, accompanied by
an increase in the number of residents and various kinds of activities carried out. Seeing this
phenomenon, many developers are competing to build multi-layered high buildings. Air
conditioning systems in high-rise buildings are generally carried out with artificial air
arrangements. The Grand Edge Hotel Semarang building is one of the multi-layered high-rise
buildings that will be the case study. This hotel building is located in Semarang on an area of
2860 m2, 7 floors above ground and 3 basement floors as deep as 9 meters from ground level,
total floor area is 15,958 m2. The electricity used from PLN is 700 KVA, equipped with 1
generator unit with a capacity of 650 KVA. The ventilation system used in this building is in the
form of an artificial air system, including: Direct Air Conditioning (AC) Fan Coil Unit with Split
Ducting system, as many as 117 units, with capacities of 1.5 PK, 2 PK, 3.5 PK and 10 PK. The
ventilation system used in terms of the specifications of the AC unit used is able to produce
conditions according to the PERMENKES No. 1077/MENKES/PER/V/2011, especially in hotel
rooms. The information obtained at this time is a prelude to obtaining quantitative-qualitative
data about the existing problems, as well as the form of the solution, it is necessary to deepen
and add cases in the project.
Keyword: ventilation, energy, hotel
Abstrak: Dewasa ini pembangunan di perkotaan melaju sangat pesat yang disertai dengan
jumlah peningkatan penduduk dan berbagai macam aktivitas yang dilakukan nya. Melihat
fenomena tersebut maka banyak dari para developer berlomba-lomba untuk membangun
bangunan tinggi berlapis. Sistem penghawaan pada bangunan tinggi umum nya dilakukan
dengan tatanan udara buatan. Bangunan Hotel Grand Edge Semarang adalah salah satu
bangunan tinggi berlapis yang akan menjadi studi kasus ini. Bangunan hotel ini terletak di
Semarang diatas lahan 2860 m2, berlantai 7 lapis diatas tanah dan 3 lantai basement sedalam
9 meter dari permukaan tanah, luas lantai total 15.958 m2. Tenaga listrik yang digunakan dari
PLN sebesar 700 KVA, dilengkapi 1 unit genset dengan kapasitas 650 KVA. Sistem
penghawaan yang digunakan bangunan ini berupa tatanan udara buatan, meliputi : Air
Conditioning (AC) langsung Fan Coil Unit dengan sistem Split Ducting, sebanyak 119 buah,
dengan kapasitas 1,5 PK, 2 PK, 3,5 PK dan 10 PK. Sistem penghawaan yang digunakan dari
sisi spesifikasi unit AC yang dipakai mampu menghasilkan kondisi yang sesuai standar
PERMENKES No. 1077/MENKES/PER/V/2011, khususnya pada kamar hotel. Info yang
didapatkan saat ini adalah sebuah awalan untuk mendapatkan data kuantitatif-kualitatif tentang
permasalahan yang ada, serta bentuk solusinya perlu diadakan pendalaman dan penambahan
kasus di proyek.
Kata Kunci: penghawaan, energi, hotel
PENDAHULUAN
Hotel merupakan sarana akomodasi untuk
beristirahat maupun sebagai tempat tinggal
sementara, sebagai tempat diadakannya pertemuan
formal maupun informal, serta tempat untuk
menghabiskan waktu bersantai dan menikmati
fasilitas yang ada di dalamnya. (Rejeki, Aziz, &
Maryadi, 2020). Perbedaan atas fungsi hotel
tersebut membuat adanya pembagian jenis hotel,
antara lain city hotel, resort hotel, budjet hotel,
residential hotel, down town hotel, dan motel. Setiap
tamu hotel berhak mendapatkan kenyamanan untuk
beraktifitas di dalam bangunan khususnya di dalam
kamar hotel. Dalam kondisi iklim tropis lembab sulit
sekali mendapatkan kenyamanan khususnya secara
termal ditambah bangunan tinggi tidak
menggunakkan ventilasi alami untuk alasan
keselamatan. Dalam mendapatkan lingkungan yang
nyaman diperlukan mesin penyejuk udara atau yang
biasa dikenal dengan istilah air conditioner (AC).
Penggunaan AC perlu spesifikasi dan penempatan
yang tepat sesuai dengan dimensi dan desain ruang
serta tata letak furniture dalam ruang, agar AC
bekerja optimal dan hemat energi listrik khususnya.
Pada bangunan tinggi khususnya hotel
perancangannya dilakukan dengan teknologi yang
Informasi Naskah:
Diterima:
24 April 2022
Direvisi:
10 Mei 2022
Disetujui terbit:
16 Juni 2022
Diterbitkan:
Cetak:
29 Juli 2022
Online
15 Juli 2022