Jurnal ECOTIPE, Volume 7, No.1, April 2020, Hal. 20-25 p-ISSN 2355-5068, e-ISSN 2622-4852 Akreditasi Kemenristekdikti (SINTA 4), SK. No.10/E/KPT/2019 DOI: 10.33019/ecotipe.v7i1.1390 Jurnal ECOTIPE, Vol. 7, No.1, April 2020: 20-25 Rancang Bangun Antena…(Denny H.T.N. dkk. ) 20 Rancang Bangun Antena Yagi 433 Mhz pada Automatic Antenna Tracker untuk Pesawat Terbang Tanpa Awak Denny H.T. Nugroho 1 , M. Farid Hasan 2 1,2 Program Studi Teknik Elektro, Institut Teknologi Sumatera *denny.nugroho@el.itera.ac.id 1 , mfarid.13115012@student.itera.ac.id 2 ABSTRACT Small Scale Mapping Sector uses UAV (Unmanned Aerial Vehicle) as a mapping tool. UAVs require wireless and long- distance communication. For this reason, an antenna with a far beam pattern and a high gain are needed. This research uses the Yagi antenna because it has a directional beam pattern but has a weakness that is, the Yagi antenna must be directed by pointing to connect the communication between the antenna and the UAV. Based on the results of the calculation and simulation of the Yagi antenna with a frequency of 433 MHz, a gain of 14.2 dBi was obtained. Yagi antenna designs are made using aluminum and copper. From the results of the communication distance test, obtained a range of ± 5 km. The test is carried out by attaching the Yagi antenna to the receiver of the 433 MHz telemetry module, then the transceiver module is installed in the UAV. Keywords : Antenna, Yagi antenna, Wireless communication, Unmanned aerial vehicle, Telemetry INTISARI Bidang pemetaan lahan skala kecil menggunakan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) sebagai sarana pemetaan. UAV memerlukan komunikasi tanpa kabel (wireless) dengan jarak yang jauh dan stabil. Untuk itu dibutuhkan sebuah antena dengan pola pancaran yang jauh dan penguatan (gain) yang tinggi. Penelitian ini menggunakan antena Yagi karena memiliki pola pancaran yang terarah (directional) tetapi memilki kelemahan yaitu, antena Yagi harus diarahkan secara pointing untuk menjaga komunikasi antara antena dan UAV. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi antena Yagi dengan frekuensi 433 MHz, diperoleh penguatan (gain) sebesar 14,2 dBi. Rancangan antena Yagi dibuat menggunakan Almunium dan tembaga berbentuk pipa. Dari hasil pengujian jarak komunikasi diperoleh jarak jangkauan ± 5 km. Pengujian dilakukan dengan memasangkan antena Yagi ke modul receiver telemetri 433 MHz, kemudian modul transceiver dipasang pada pesawat tanpa awak (UAV) yang diterbangkan. Kata kunci: antena, antena Yagi, komunikasi wireless, pesawat tanpa awak, telemetri I. PENDAHULUAN Pada bidang pemetaan lahan, informasi merupakan hal yang sangat vital, karena digunakan untuk mengetahui lokasi, ketinggian UAV serta untuk mengetahui kondisi UAV sehingga stasiun penerbangan atau Ground Control Station (GCS) dapat mengambil keputusan apakah UAV tersebut tetap bisa melakukan penerbangan (flight) atau pendaratan (landing). Maka dari itu, komunikasi antar UAV dengan GCS harus dalam kondisi yang baik alias tanpa gangguan. Komunikasi antara UAV dengan GCS merupakan komunikasi jarak jauh tanpa kabel (wireless). Oleh sebab itu, membutuhkan sebuah antena dengan jarak jangkauan komunikasi yang jauh. Ada bermacam-macam jenis antena yang biasa digunakan, seperti antena dipole, antena helical, antena parabolik, antena Yagi, antena moxon, dan lain-lain. Berbeda jenis antena, berbeda pula bentuk atau pola pancarannya. Ada jenis pancaran omni-directional (segala arah), bi- directional (dua arah), dan directional (searah)[1][2]. Berdasarkan kebutuhan, dimana antena harus memiliki jarak jangkauan