Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2018; 1 : 8 -14 Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia http://ojs.unud.ac.id/index.php/ijlfs Loly Anastasya Sinaga , Dwi Kartika Apriyono, Masniari Novita Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember Bagian Odontologi Forensik, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember GAMBARAN ERUPSI GIGI PERMANEN PADA ANAK SINDROM DOWN USIA 10 – 16 TAHUN DI SEKOLAH LUAR BIASA KABUPATEN JEMBER Loly Anastasya Sinaga a , Dwi Kartika Apriyono b , Masniari Novita b a) Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember b) Bagian Odontologi Forensik, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember E-mail: lolysinaga2@gmail.com Abstract Background: Down Syndrome is a genetic disorder that occurs because of chromosome 21 has three chromosome (trisomy 21). The extra chromosome changes the genetic balance, physical characteristic, intellectual abilities, and physiological body function. Tooth eruption in Down Syndrome children typically delayed in both the timing and sequence of eruption up to two or three years. Objective: To observe the permanent teeth eruption in Down syndrome children at age 10-16 years old, boys and girls in Special Needs School in Jember. Materials and Methods: This research was a descriptive study with 7 subjects. Each subject was examined then calculated teeth that had emerged or functionally eruption with articualting paper. Result and Conclusion: Both permanent teeth that is still partially erupted tooth (emerged/ EM) and had erupted perfectly (functionally eruption/ FE) delayed in eruption in Down Syndrome boys and girls at age 10-16 years old. Keywords: Down Syndrome, Emerged of Permanent Teeth, and Functionally Eruption of Permanent Teeth. Pendahuluan Down Syndrome atau Sindrom Down merupakan kelainan genetik yang terjadi karena kromosom 21 memiliki tiga kromosom (trisomi 21) [1]. Sindrom Down terjadi pada sekitar 1 dari 700 kelahiran bayi dan lebih sering terjadi pada ibu hamil berusia di atas 35 tahun [2]. Kelebihan kromosom pada penderita Sindrom Down akan mengubah keseimbangan genetik tubuh dan mengakibatkan perubahan karakteristik fisik dan kemampuan intelektual, serta gangguan dalam fungsi fisiologi tubuh [3]. Manifestasi pada gigi dan mulut Sindrom Down adalah keterlambatan perkembangan dan erupsi gigi geligi, hipodonsia, mikrodonsia, dilaserasi akar, maloklusi klas III, open bite anterior, fissured tongue, maksila yang kecil dan tingginya insiden penyakit periodontal [4]. Erupsi gigi didefinisikan sebagai pergerakan atau proses munculnya gigi ke arah rongga mulut yang dimulai sejak gigi berada di dalam tulang alveolar [5]. Gigi dikatakan muncul (emerged) jika sebagian gigi sudah tampak atau sudah menembus gusi tetapi belum menyentuh dataran oklusal atau belum ada kontak dengan gigi antagonisnya. Gigi dikatakan erupsi fungsional (functionally eruption) jika sudah mencapai dataran oklusal atau sudah ada kontak dengan gigi antagonisnya [6]. Erupsi gigi pada anak Sindrom Down biasanya mengalami keterlambatan erupsi baik pada waktu dan urutan erupsi giginya terkhusus pada gigi permanen anterior dan molar pertama permanen rahang atas dan rahang bawah [7]. Sindrom Down mengalami keterlambatan erupsi gigi dua sampai tiga tahun daripada normal [8]. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran erupsi gigi permanen pada anak Sindrom Down di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Jember. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan di SLB-C Negeri Patrang, SLB-C TPA, dan SLB-C Yayasan Pendidikan dan Asuhan Bintoro Jember yang dilaksanakan pada bulan November 2016 sampai dengan bulan Januari 2017. Subjek penelitian berjumlah 7 orang dan pada setiap subjek dilakukan pemeriksaan rongga mulut dengan menggunakan kaca mulut nomor 3 dan nomor 4. Kemudian subjek diinstruksikan untuk menggigit articulating paper. Setelah itu, dilihat dan diperiksa teraan