200 PENGEMBANGAN SISTEM DATABASE ONLINE MONITORING (OnLimo) KUALITAS AIR Oleh : Heru Dwi Wahjono Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan, BPPT Abstract Recent water quality decrease has caused difficult in finding clean water source for people and their daily life. Monitoring on water quality had been carried out many times, from up stream to down stream. It’s necessary to do Online Monitoring on ground and underground water quality continuously, so that the effect of water quality decrease could be detected earlier and handle directly. The output of water quality data needs to be processed so that the society and the decision makers could see the information publicly. So, we need a design of structured database of online and real-time water quality data processing. Water quality data management using structured data base system could make water source data retracing easier. Katakunci : database struktur, online monitoring, real time monitoring 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penurunan kualitas air merupakan salah satu bentuk penurunan kualitas lingkungan sebagai akibat dari tingkat pertambahan penduduk yang semakin tinggi dan peningkatan jumlah industri di Indonesia. Penurunan kualitas air yang terjadi saat ini mengakibatkan sulitnya mendapatkan sumber air bersih yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat baik untuk keperluan hidup sehari- hari maupun untuk keperluan industri. Sebagian daerah di tanah air malah mengalami kehilangan sumber air bersih bahkan beberapa daerah ada yang mengalami kekeringan. Krisis air yang terjadi saat ini tidak lain adalah akibat dari perusakan lingkungan perairan baik oleh industri ataupun oleh masyarakat itu sendiri. 0 50 100 Domestik Komersial Industri 2010 72,7 17,3 9,9 1989 78,9 13,1 8 Domestik Komersial Industri % Gambar 1: Grafik Prosentase Sumber Penghasil Limbah Cair ke Sungai-sungai di Jakarta Sumber : JICA Report, “The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project In The City Of Jakarta“, 1990 Studi pengamatan limbah cair yang telah dilakukan oleh JICA pada tahun 1990 memberi- kan kesimpulan bahwa limbah cair domestik lebih banyak mencemari sungai-sungai yang ada di Jakarta. Gambar grafik di atas menunjukkan prosentase perbandingan air limbah yang dibuang di sungai-sungai di Jakarta. Pada tahun 1989 kontribusi limbah cair domestik sebanyak 78,9% sedangkan limbah cair industri hanya 8%. Pada tahun 2010 perkiraan kontribusi limbah cair domestik adalah menurun 72.7% sedangkan limbah cair industri meningkat menjadi 9,9% (1) . Dalam rapat antar Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, dan Menteri Pekerjaan Umum pada tahun 1984 mengenai penangan-an konservasi air tanah dalam rangka pengamanan Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas telah menyatakan sejumlah 22 DAS sebagai super prioritas, artinya mendapatkan prioritas utama dalam pembangunan dan peningkatan kualitas air di dalamnya. Sejak itu penanganan DAS kritis yang seharusnya dapat mengurangi jumlah DAS kritis, ternyata menghasilkan hal sebaliknya, yaitu peningkatan jumlah DAS yang kritis seperti terlihat pada tabel di bawah ini. (2) Tabel 1. Jumlah DAS Kritis 1984~2003 Tahun Jumlah DAS Kritis 1984 22 1994 39 1998 42 2000 58 2003 62