J. Il. Tan. Lingk., 24 (2) Oktober 2022: 103-109 ISSN 1410-7333| e-ISSN 2549-2853 KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN COLLEMBOLA PADA TINGKAT KESUBURAN TANAH DI LAHAN PERCONTOHAN REKLAMASI TAMBANG TIMAH DESA BUKIT LAYANG, BANGKA Abundance and Diversity of Collembola at the Soil Fertility Level of Tin Mine Pilot Reclamation Project in Bukit Layang Village, Bangka Frista Chairunnisa 1) , Riko Irwanto 1)* dan Rion Apriyadi 2) 1) Program Studi Biologi Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung, Kampus Terpadu Universitas Bangka Belitung, Balunijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. 2) Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung, Kampus Terpadu Universitas Bangka Belitung, Balunijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. ABSTRACT Bangka Island is the largest tin producer in Indonesia, dominated by onshore mining. Various ex-tin mining land reclamation programs have been implemented in Bangka and to monitor its success, indicators that characterize soil quality improvement are needed. One of the bioindicators that has potential as an indicator of the success of the reclamation program is the soil mesofauna community, such as Collembola (Springtail). Further research and variations in the correlation of data are needed to support this statement. This study calculates the abundance, diversity, species richness, evenness, and dominance of Collembola family associated with several soil fertility parameters. The research location is a pilot reclamation land of the alluvial inland tin mine “Air Kundur 3”. Seven families of Collembola were found with the abundance of 6,642 inviduals. The category of this land reclamation is low soil fertility. The results showed that an increase in the diversity, richness and evenness index values was followed by an increase in the parameters C-Organic, Cation Exchange Capacity, thickness and dry weight of litter. The increase in the relative abundance and dominance of Collembola was followed by a decrease in the index of diversity, richness and evenness of species. This study confirm the prediction that the diversity, richness, and evenness index of Collembola species can be used as an indicator of soil fertility in post-tin mining reclamation. Key words: bioindicator, mesofauna, springtail. ABSTRAK Pulau Bangka merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia, didominasi dengan tambang darat. Berbagai program reklamasi lahan bekas tambang timah telah dilakukan di pulau Bangka, dan untuk memantau keberhasilannya diperlukan indikator-indikator yang mencirikan perbaikan kualitas tanah. Salah satu bioindikator yang memiliki potensi sebagai indikator keberhasilan program reklamasi adalah komunitas mesofauna tanah, seperti Collembola (Ekor pegas). Penelitian lebih lanjut dan variasi korelasi data diperlukan untuk mendukung pernyataan tersebut. Penelitian ini menghitung kelimpahan, keanekaragaman, kekayaan jenis, kemerataan jenis, dan dominansi jenis Collembola yang dihubungkan dengan beberapa parameter kesuburan tanah. Lokasi penelitian merupakan lahan percontohan reklamasi tambang timah darat aluvial “Air Kundur 3”. Collembola yang ditemukan berjumlah 7 famili sebanyak 6.642 invidu. Lahan Reklamasi Air Kundur 3 berdasarkan parameter C-Organik, Kapasitas Tukar Kation, dan Kejenuhan Basa termasuk kategori kesuburan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan nilai indeks keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan jenis diikuti dengan peninggatan parameter C-Organik, Kapasitas Tukar Kation, ketebalan dan berat kering serasah. Peningkatan Kelimpahan relatif dan dominansi Collembola diikuti dengan penurunan indeks keanekaragaman, kekayaan dan nilai kemerataan jenis. Penelitian ini memperkuat dugaan bahwa Indeks keanekaragaman, kekayaan, dan kemerataan jenis Collembola berpotensi dapat digunakan sebagai indikator kesuburan tanah reklamasi lahan pascatambang timah. Kata kunci: bioindikator, ekor pegas, mesofauna. PENDAHULUAN Latar Belakang Pulau Bangka merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia, sebanyak 27.56% dari total luas daratan pulau Bangka (1,294,050 ha) merupakan area Kuasa Penambangan Timah (Supriadi et al., 2016). Indikator- indikator kesuburan tanah seperti tekstur, pH, KTK (Kapasitas Tukar Kation), unsur hara makro dan indikator lain pada lahan pasca tambang timah menunjukkan kualitas yang rendah (Nurcholis et al., 2013; Nurtjahya et al,. 2016, Hamid, 2017). Penggunaan lahan untuk penambangan yang tidak diiringi dengan pemulihan lahan tambang inaktif akan mengurangi jumlah lahan produktif. Upaya yang harus dilakukan yaitu dengan reklamasi untuk mengembalikan lahan yang telah ditambang ke kondisi alami sebelum ditambang, atau setidaknya mengubah lahan ke tipe *) Penulis Korespondensi: Telp. +628xxxxxxxxx; Email: riko-irwanto@ubb.ac.id DOI: http://dx.doi.org/10.29244/jitl.24.2.103-109