©2020Ririh Yudhastuti et al., JKLI, ISSN: 1412-4939 – e-ISSN: 2502-7085. All rights reserved.
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia
19 (1), 2020, 27 – 34
DOI : 10.14710/jkli.19.1.27-34
Gambaran Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Bali Tahun
2012-2017
Ririh Yudhastuti
1
, Muhammad Farid Dimjati Lusno
1*
1
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
*Coresponding author:faridlusno@fkm.unair.ac.id
Info Artikel : Diterima 30 Agustus 2019 ; Disetujui 11 Desember 2019 ; Publikasi 1 April 2020
ABSTRAK
Latar Belakang:Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia, termasuk pulau Bali. Provinsi bali yang terdiri dari 9 kabupaten/kota adalah daerah
endemis DBD, padahal Provinsi Bali adalah destinasi wisata baik lokal maupun mancanegara. Penelitian ini
bertujuan untuk memberikan pemaparan berupa gambaran kejadian DBD di Provinsi Bali.
Metode:Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancang bangun case series. Sumber data pada
penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu Profil Kesehatan provinsi Bali tahun 2015 hingga 2017, dan
data iklim di Provinsi Bali tahun 2015-2017 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik provinsi Bali.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan insiden DBD per 100000 penduduk di Provinsi Bali tahun 2012 hingga
tahun 2017 berturut turut 65,5: 174,5: 210,2; 259,1; 483; 105. Puncak insiden tertinggi Demam Berdarah
Dengue (DBD) ada pada tahun 2016. Pada tahun 2017 ada 4 kabupaten/kota yang insidennya tinggi seperti
kabupaten Badung , kota Denpasar , kabupaten Buleleng dan kabupaten Gianyar. Penyebab meningkatnya
insiden DBD adalah banyaknya genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti saat musim
hujan, sehingga populasi nyamuk Aedes aegypti meningkat. Insidens DBD terjadi pada bulan Januari hingga
Mei, yang di pengaruhi oleh cuaca lokal, kondisi sosial ekonomi masyarakat, curah hujan, topografi maupun
kepadatan, serta mobilitas penduduk.
Simpulan:Insiden DBD dipengaruhi oleh pola musim hujan , di bulan Januari, Februari, Maret, April dan Mei
didukung kepadatan dan mobilitas dari penduduk.
Kata Kunci: Cuaca; Bali; DBD; Kepadatan dan migrasi penduduk
ABSTRACT
Title:An Overview of Dengue Haemorrhagic Fever Cases in Bali Island 2012-2017
Background:Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a public health problem in Indonesia, including the
island of Bali. Bali province consists of 9 regencies / cities is a dengue endemic area, whereas the island of
Bali is a tourist destination both locally and internationally. This study aims to provide an overview of the
incidence rates (IR) of DHF in the island of Bali.
Methods:This research is a descriptive study with case series design. Data sources in this study use
secondary data obtianed from Bali Health Profile 2015 – 2017, and the climate data of Bali Province in
2015-2017 was obtained from the Central Statistics Agency (BPS) of Bali Province.
Results:The results showed the Incidence Rates (IR) of Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) in the island of
Bali in 2012- 2017 were 65.5; 174.5; 210.2; 259.1; 483 and 105.7 respectively. The highest incidence rates
(IR) of DHF was notified in 2016. Up to 2017 there were 4 districts that had reported high incidence of DHF,
such as Badung Regency, Denpasar City, Buleleng Regency, and Gianyar Regency. Factors contributing to
the increasing incidence of DHF in Bali were the existence of water container as the potential breeding
places for mosquitos vector of Aedes aegypti, particularly during rainy season. This condition initiated the
increased population of Aedes aegypti. The incidence of dengue fever cases intensively occurred during
January – May influenced by local weather climate, socio- economic condition, rainfall, topography, as well
as population density and mobility