998 Karakteristik Tokoh Influencer dalam Novel “Hidup ini Keras Maka Gebuklah”:Kajian Psikologi Sastra Abdul Hamid H Narahaubun 1 , Wahyudi Siswanto 1 , Taufik Dermawan 1 1 Pendidikan Bahasa Indonesia-Universitas Negeri Malang INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Diterima: 05-06-2021 Disetujui: 05-07-2021 Abstract: This study aims to determine the character of the influencer in this novel. Starting from sociable behaviour, forgiving soul, helpful, and not giving up. This research is qualitative research with inductive method. The data of this research is the text in the novel. The source of the data is the novel Life Is Hard, So Gebuklah by Prie GS. This data analysis activity is data reduction, data presentation, and conclusion. The results of this analysis show that Ipung's personality leads to characters such as easy to get along with other people, likes to forgive people's mistakes, likes to help people who need help, and doesn't give up easily when he faces problems. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter tokoh influencer dalam novel ini. Mulai dari perilaku mudah bergaul, jiwa pemaaf, suka membantu, dan tidak berputus asa. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode induktif. Data penelitian ini adalah teks yang ada dalam novel. Sumber datanya adalah novel Hidup Ini Keras Maka Gebuklah karya Prie GS. Aktivitas analisis data ini adalah reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil analisis ini menunjukkan kepribadian tokoh Ipung ini mengarah pada karakter-karakter seperti mudah bergaul dengan orang lain, suka memaaafkan kesalahan orang, suka membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan tidak mudah berputus asa saat ia menghadapi masalah. Kata kunci: character characteristics; literature psychology; karakteristik tokoh; psikolgi sastra Alamat Korespondensi: Abdul Hamid H Narahaubun Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang E-mail: abdulhamid.1802118@students.um.ac.id Indonesia menjadi kawasan yang memiliki berbagai macam lokalitas budaya sebagai sebuah kekayaan dan keunggulan. Indonesia memiliki 300 suku bangsa dan 742 bahasa serta dialek dengan catatan 123.357 peninggalan purbakala sehingga tidak heran Indonesia dijuluki sebagai laboratorium antropologi terbesar di dunia (Kemendikbud, 2018a). Sejumlah 981 peninggalan purbakala dinyatakan sebagai cagar budaya. Cagar budaya sendiri dapat diidentifikasi sebagai susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, serta beratap (Puspitasari & Yuliani, 2019). Dari sekian banyak peninggalan cagar budaya yang masih terjaga kelestariannya, setidaknya ada empat peninggalan yang diakui sebagai World Tangiable Heritage Cultural Sites dan delapan peninggalan yang diakui sebagai World Intangible Heritage Culture Elements. Secara ringkas, cagar alam yang juga tergolong kebudayaan lokalitas ini dapat dipisahkan menjadi dua kelompok besar, yaitu tangible (benda) dan intangible (bukan benda). Sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam hal ini tanggapan, fantasi, perasaan, pikiran, dan kehendak yang dituangkan dalam suatu karya yang bersatu padu dan diwujudkan dengan menggunakan bahasa. Sastra merupakan kreasi manusia yang diangkat dari realita kehidupan. Sastra tidak hanya dinilai sebagai suatu karya seni yang imajinatif, tetapi juga sebagai suatu karya kreatif yang bermanfaat memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan (Hikma, 2015). Sastra merupakan sebuah kreativitas seni dari seorang pengarang yang memuat pengalaman hidup dirinya/orang lain. (Rusmayanthi dkk, 2020) menyatakan bahwa “karya sastra termasuk salah satu seni yang mengungkapkan kehidupan manu sia pada umumnya. Biasanya para sstrawan memaparkan dan mengungkapkan berbagai gejala kehidupan yang dialami manusia melalui karya sastranya.” Sattari dkk (2019) menyatakan bahwa “karya sastera adalah wadah untuk menyampaikan gagasan, ide, serta pikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Karya sastra terlahir dari imajinasi pengarang yang dituangkan ke dalam tulisan dan kemudian dibaca oleh penikmat sastra.” Sejalan dengan pernyataan tersebut, “karya sastra merupakan pengungkapan ide kreatif seseorang yang bersifat imajinatif. Imaji adalah daya pikir untuk menggambarkan atau membayangkan suatu kejadian sehingga dapat terciptanya kisah dalam bentuk karya sastra. Salah satunya adalah novel” (Harliana dan Ayu, 2020). Lubis (2018) menyatakan bahwa “novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh secara utuh.” Khusnin (2012) menyatakan bahwa novel merupakan karya seni yang berhubungan sangat erat dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Hikma (2015) menyatakan Tersedia secara online http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 6 Nomor: 7 Bulan Juli Tahun 2021 Halaman: 998—1010