Indriani, N., Nala, I. W. L., Uhai, S., Adha, A. A. and Sinaga, F. (2022) “Warisan Budaya Tradisi Lisan di Era Modernisasi sebagai Potensi Wisata di Desa Kedang Ipil Kabupaten Kutai Kartanegara”, Sebatik, 26(2) Submitted: 2022-10-24 Accepted: 2022-11-22 Published: 2022-12-21 Sebatik Vol. 26 No. 2. Desember 2022 ISSN: 1410-3737(p) 2621-069X(e) Open access article licensed under CC-BY DOI:10.46984/sebatik.v26i2.2010 866 WARISAN BUDAYA TRADISI LISAN DI ERA MODERNISASI SEBAGAI POTENSI WISATA DI DESA KEDANG IPIL KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Novita Indriani 1) , I Wayan Lanang Nala 2) , Sabalius Uhai 3) , Arif Aidil Adha 4) , dan Firman Sinaga 5) 1,2 Pariwisata, Politeknik Negeri Samarinda 3,4 Usaha Perjalanan Wisata, Politeknik Negeri Samarinda 5 Institut Pariwisata dan Bisnis International 1,2,3,4 Jl. Ciptomangunkusumo Kampus Gunung Panjang, Kota Samarinda, kode pos 75131 5 Jl. Kecak No.12, Tonja, Kec. Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali 80239 E-mail : novita20@polnes.ac.id 1) , wayanlanang@polnes.ac.id 2) , sabaliusuhai@polnes.ac.id 3) , arifaidiladha9@gmail.com 4) , firmansinaga@stpbi.ac.id 5) ABSTRAK Warisan budaya tradisi lisan di era modernisasi sebagai potensi wisata. Seiring dengan perkembangan zaman, warisan leluhur yang memiliki nilai-nilai penting dalam kehidupan masyarakat mulai hilang. Tradisi yang biasanya diturunkan turun temurun oleh nenek moyang dari generasi ke generasi mulai memudar, salah satunya adalah tradisi lisan. Tradisi ini merupakan warisan yang peninggalannya hanya melalui mulut ke mulut atau tindak tutur. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Desa Kedang Ipil Kecamatan Kota Bangun Darat Kabupaten Kutai Kartanegara, hal ini tentulah patut dilestarikan, budaya lisan menjadi tradisi yang harus dilestarikan, dijaga dan dipertahankan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tradisi lisan apa saja yang masih tersisa, upaya pelestarian dan melihat sisi potensi sebagai daya tarik wisata, apakah tradisi lisan dapat menjadi daya tarik wisata sehingga para pengunjung mau datang ke Desa Kedang Ipil. Warisan budaya lisan yang saat ini masih dilestarikan di Desa Kedang Ipil adalah menjamu benua, ritual juhan, beluluh, penyembuhan orang sakit dengan menggunakan acara belian, erau kaluangan, nutuk beham. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan upaya melihat nilai-nilai dari tradisi lisan tersebut dari sisi potensi yang memiliki daya tarik wisata. Tradisi lisan tersebut dapat menjadi daya tarik wisata bagi para pengunjung yang datang ke Desa Kedang Ipil. Kata Kunci: Warisan budaya, Tradisi lisan, Menjamu Benua, Nutuk Beham, Kedang Ipil 1. PENDAHULUAN Kebudayaan adalah adat-istiadat masyarakat lokal yang tinggal di daerah tersebut. Budaya ini dapat terus hidup di antara orang-orang secara turun-temurun. Dengan kata lain, warisan kepada generasi muda memungkinkan budaya untuk tetap hidup dalam jangka waktu yang sangat lama. Namun, proses pelestarian budaya bisa terhambat jika generasi muda kehilangan minat terhadap budaya lokal (Hasanah, Luluk Ulfa, 2021). Meskipun berkurang di zaman modern ini, tradisi lisan masih ditemukan di masyarakat setempat. Tradisi lisan yang berkembang di masyarakat merupakan media untuk menyampaikan nilai- nilai masa lalu yang sudah ada di masyarakat. Kesenian lisan yang diturunkan dari budaya rakyat masa lalu sebagai warisan budaya semakin kurang mendapat perhatian karena kurangnya warisan kepada generasi berikutnya (Sendari, 2021), Dewasa ini, dengan berkembangnya zaman modern dimana teknologi terus berkembang dalam kehidupan masyarakat, mungkin saja hal-hal seperti budaya lisan yang telah diajarkan dan diturunkan dari nenek moyang semakin dilupakan dan tidak diketahui secara luas. Menurut Abdul Rozak, tradisi lisan harus dilestarikan sebagai kekuatan budaya dan sumber pembangun peradaban dalam berbagai aspek penting kehidupan (Puspawati, 2015). Tradisi lisan dianggap sebagai bagian dari warisan budaya suatu negara dan diabadikan dalam Konvensi UNESCO 17 September 2003. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tradisi lisan bagi peradaban manusia saat ini. Tradisi lisan tidak hanya menjadi identitas suatu masyarakat dan salah satu sumber penting pembentuknya karakter suatu bangsa, tetapi juga merupakan narasi situasi dan kondisi kehidupan para penganutnya. Tradisi biasanya berkembang seiring dengan perubahan masyarakat dan kehidupan penganutnya, namun perubahan yang terjadi tidak pernah menyimpang jauh dari akarnya. Tradisi lisan Indonesia berkembang sebelum orang Indonesia mengenal aksara. Pada dasarnya tradisi lisan Indonesia berasal dari bahasa inggris yaitu oral tradition. Setiap daerah memiliki corak tradisi lisan yang berbeda-beda. Setiap wilayah etnis dan budaya memiliki budaya dan adat istiadat yang berbeda yang pada akhirnya membentuk tradisi lisan Indonesia yang kaya. Tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja sebagai salah satu aset budaya bangsa Indonesia. Selain nilai penting dalam kehidupan mereka yang masih menjaga dan melestarikan tradisi lisan, tradisi ini juga berpotensi sebagai produk pariwisata. Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan