Jurnal Ilmiah ESAI Volume 6, Edisi Khusus, April 2012 ISSN No. 1978-6034 Kemampuan Guru SMA dalam Menulis Wacana Eksposisi: Studi Kasus di Bandar Lampung High School Teachers’ Expository Writing: A Case Study in Bandar Lampung Refdi Akmal 1) 1) Dosen Bahasa Inggris Jurusan Ekonomi dan Bisnis Politeknik Negeri Lampung Jl. Soekarno Hatta Rajabasa Bandar Lampung Abstract Penelitian ini menelaah kemampuan guru sekolah menengah atas di Bandar Lampung dalam menulis wacana eksposisi. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif kualitatif dengan data berupa wacana-wacana eksposisi Analitikal dan Hortatori yang ditulis oleh para guru yang dianalisis dengan pendekatan Systemic Functional Linguistics (SFL) dan dikemudian divalidasi melalui interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian dari para guru telah mampu menulis menggunakan strategi yang sesuai dengan kebutuhan wacana. Para guru telah memahami struktur generik wacana guna mencapai tujuan dan fungsi wacana eksposisi. Analisis gramatika pada wacana menunjukkan bahwa para guru telah mampu menyampaikan makna ideasional, tekstual dan interpersonal melalui wacana tertulis. Hal tersebut ditunjukan dalam bentuk penggunaan fitur pengembangan tema (thematic progression) berupa pola tema zigzag, reiterasi tema dan pengembangan tema bertingkat (multy-layer Theme development), fungsi konjungsi, variasi bentuk kata kerja (process type), bentukan fungsi sirkumstansial, bentukan nominalisasi, penggunaan mudalisasi dan modulasi dalam wacana serta penggunaan referensi pronomina (pronoun referent) dalam wacana. Namun penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak semua guru mampu mengembangkan argumentasi dalam wacana tulis dengan baik yang ditunjukkan dengan kurangnya penggunaan fakta dan bukti yang obyektif dalam wacana, ketidakpastian pendapat, tidak adanya penggunaan fitur dialogis antar wacana (intertextuality), penerapan bentukan kalimat perintah (imperative) dan pernyataan realis serta sejumlah kesalahan (errors) dalam tataran tata bahasa (syntax). Hal ini disebabkan beberapa hal seperti kurangnya pemahaman guru dalam pengembangan wacana berbasis genre (Genre Based Approach/(GBA)) dan Systemic Functional Linguistics (SFL) yang telah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan bahasa Inggeris di Indonesia, juga kemampuan professional berbahasa guru (professional competence), dan kurangnya motivasi dan komitmen dalam menulis. Kata kunci: Systemic Functional Lingistics (SFL), kemampuan menulis wacana eksposisi Introduction The English teaching curriculum in Indonesia stated by Ministry of National Education has been concerned with communicative competence of the students. In turn, in high school level, the students are targeted to be able to communicate through spoken and written language appropriately (Depdiknas, 2003). Concerning the communicative competence through written mode, the national curriculum prescribes that the writing competence to be achieved by the high school students is not determined by the number of words that the students can produce but more on the quality of the writing they produce (Depdiknas, 2003). In order to pursue this goal, teachers are expected to take