Wanastra, Vol X No.1Maret 2018 Memaknai Nilai-nilai Kemanusiaan Tokoh Utama dalam Novel “Hijrah Bang Tato” Karya Fahd Pahdepie Dina Purnama Sari ABA BSI Jakarta/Bahasa Inggris e-mail: dina.dms@bsi.ac.id Abstract Novel "Hijrah Bang Tatato" by Fahd Pahdepi is a novel based on the true story of the main character, Lalan or Bang Tattoo who experienced the inner struggle to migrate from the dark as a thug to a better and obedient man. As a former thug, Bang Tato as the main character in the novel "Hijrah Bang Tattoo" experienced several phases of life that made him migrate. The phases are experienced by implementing the values of humanity in accordance with the religion it embraces, namely Islam. The meaning of humanity's values of the main character consists of guidance, endeavor, and go home. Therefore, the humanitarian values of the main characters are used as the background of the discussion and the title of this article. The method used is descriptive with the approach of sociology of literature and the meaning of human values itself. The data are examined based on the meaning of the text in the novel by using literature study data collection. Thus, the result is an understanding of the meaning of humanity values of the main characters can be used as a reflection for their readers as a reflection of social reality in society, especially in Indonesia. Keywords : the values of humanity, meaning, the main character, the sociology of literature. I. PENDAHULUAN Novel ”Hijrah Bang Tato” merupakan karya Pahd Pahdepi yang ditulis berdasarkan kisah nyata tokoh utama, Lalan atau Bang Tato. Penuturan kisah Bang Tato dirangkai dalam kalimat yang mudah dipahami dan memiliki pesan moral yang cukup kuat berkaitan dengan human interest. Yaitu, mengenai hijrah seorang preman menjadi orang yang lebih baik dan taat kepada agamanya, Islam. Hal tersebut seperti dikutip dari QS. Al-Baqarah [2]: 218 dalam Pahdepi, (2017): ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Selain itu, menurut Pahdepie (2017), hijrah juga merupakan kata kerja-berpindah atau menyingkir dari suatu tempat ke tempat yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya). Dengan demikian, hijrah merupakan usaha manusia untuk kehidupan yang lebih baik dan dapat dilandasi mendapatkan rahmat Allah. Berkaitan hal ini, kata ’hijrah’ merupakan permasalahan umum yang dialami oleh masyarakat di Indonesia. Hijrah juga dilatarbelakangi oleh nilai- nilai di dalamnya, salah satunya nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan dapat bersumber dari kepribadian, watak, dan temperamen. Menurut G. Allport dalam Gea, Wulandari, dan Babari (2003),”Kepribadian adalah organisasi dinamis di dalam individu yang terdiri dari sistem-sistem psikofisik yang menentukan tingkah-laku dan pikirannya secara karakteristik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.” Watak menurut G. Eswald (Gea, Wulandari, dan Babari, 2003),”totalitas dari keadaan-keadaan dan cara bereaksi jiwa terhadap perangsang baik yang dibawa sejak lahir maupun watak yang diperoleh lingkungan, pendidikan, dan pengalaman.” Adapun, temperamen menurut G. Ewald (Gea, Wulandari, dan Babari, 2003),”Temperamen adalah konstitusi psikis yang berhubungan dengan konstitusi jasmani.” Selain itu, definisi temperamen menurut Allport (Gea, Wulandari, dan Babari, 2003),”Gejala karakteristik daripada sifat emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala cara daripada fluktuasi dan intensitas suasana hati. Gejala ini bergantung pada faktor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan.” Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketiganya saling berkaitan dalam memaknai nilai- nilai kemanusiaan. Hal tersebut karena menyangkut diri seseorang baik pembawaan seseorang dengan keunikannya masing-masing; pembentukan tanggung jawab pada diri sendiri baik normatif maupun deskriptif; struktur fisik-biologis seseorang yang bersifat jelas, tetap antara orang yang satu dengan yang lainnya; serta proses pembentukan jati diri seseorang. Nilai-nilai kemanusiaan juga dapat dikaji melalui pemaknaan katanya. Secara umum, istilah umum makan berdasarkan para filsuf dan linguistik terdapat tiga hal, yaitu menjelaskan makna secara alamiah, mendeskripsikan kalimat secara alamiah, dan menjelaskan makna dalam proses komunikasi (Kempson dalam Pateda, 2001). Makna dapat dibahas berdasarkan dua pendekatan, yaitu p-ISSN 2086-6151 e-ISSN 2579-3438 93