Ekonomi, Keuangan, Investasi dan Syariah (EKUITAS) Vol 3, No 2, November 2021, Hal 61−66 ISSN 2685-869X (media online) DOI 10.47065/ekuitas.v3i2.1067 Yulpa Rabeta | Jurnal EKUITAS, Page 61 Skills Based Competency dan Daya Saing Praktisi Akuntansi Pada Emerging Market Asean Sanusi Gazali Pane * , Saparuddin Siregar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Indonesia Email: sanusi.gazali.pane@uinsu.ac.id Submitted: 16/11/2021; Accepted: 26/11/2021; Published: 30/11/2021 Abstrak−Kerangka kompetensi sangat dibutuhkan praktisi akuntansi di dalam organisasi untuk melaksanakan peran mereka secara efektif. Lebih lagi dalam konteks integrasi ekonomi dan mobilitas tenaga kerja antar negara regional, peran praktisi akuntasi menjadi salah satu dari delapan profesi yang terkena dampak persaingan profesi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kompetensi praktisi akuntansi dengan menggunakan metode assesmen kompetensi yang mengacu pada penilaian teknis maupun non teknis melalui pengumpulan bukti yang relevan pada pekerjaan akuntansi. Hasil penelitian ini menunjukkan selama kurun waktu pengujian tahun 2018-2020 sebanyak 83,01 gagal memenuhi tingkat kompetensi. Sedangkan 16,01 persen memiliki standar kompetensi pada kwalifikasi teknisi akuntansi dan kluster profesi. Implikasi dari temuan ini menggambarkan tingkat kesukaran aksesbilitas pasar tenaga kerja di kancah domestik maupun regional akan semakin meningkat dan daya saing yang dihasilkan akan semakin rendah. Improvisasi yang terkendali dan relevan pada, terutama pada dunia pendidikan dengan mengarahkan kurikulum berbasis paradigma kerangka kompetensi. Konsep ini setidak-tidaknya selaras dengan komitmen pemerintah menciptakan sumber daya manusia unggul untuk Indonesia tumbuh dan lebih maju. Kata Kunci: Kompetensi; Sertifikasi Kompetensi; Teknisi Akuntansi Abstract−The competency framework is needed by accounting practitioners in organizations to carry out their roles effectively. Moreover, in the context of economic integration and labor mobility between regional countries, the role of accounting practitioners is one of the eight professions affected by professional competition. The purpose of this study was to measure the level of competence of accounting practitioners by using a competency assessment method that refers to technical and non-technical assessments through collecting relevant evidence on accounting work. The results of this study indicate that during the 2018-2020 testing period, 83.01 failed to meet the competency level. Meanwhile, 16.01 percent have competency standards in accounting technician qualifications and professional clusters. The implication of this finding illustrates that the level of difficulty of labor market accessibility in the domestic and regional arena will increase and the resulting competitiveness will be lower. Controlled and relevant improvisation, especially in the world of education by directing a curriculum based on the competency framework paradigm. This concept is at least in line with the government's commitment to create superior human resources for Indonesia to grow and be more advanced. Keywords: Competence; Competency Certification; Accounting Technician 1. PENDAHULUAN Berdasarkan global competitiveness report tahun 2019, peringkat daya saing Indonesia berada pada urutan ke-50 dari 141 negara di dunia, atau masih di bawah Singapore, Malaysia dan Thailand untuk wilayah Asia Tenggara. Sementara sistem pendidikan Indonesia menempati urutan 55 dari 73 negara di dunia. Bahkan dalam persfektif kompetensi, lulusan pendidikan sekolah menengah dan perguruan tinggi masih sangat rendah. Sebagaimana hasil pengujian kompetensi terhadap 3.328 orang yang mengajukan sertifikasi teknisi akuntansi dari jenjang vokasi SMK, diploma III dan sarjana, selama kurun waktu 2018-2020 hanya 16,09% memiliki standar kompetensi. Selebihnya atau sekitar 83,01% gagal memenuhinya. Seyogianya merujuk pada tingkat kesesuaian pendidikan dengan levelitas skema yang diujikan, jumlah peserta kompeten seharusnya jauh lebih besar. Selanjutnya bila data tersebut dibelah berdasarkan jenjang pendiidikan, maka tingkat kompetensi SMK hanya 4,74 persen, diploma 5,55 persen dan sarjana 5,79 persen. Sebagai ilustrasi pendidikan jenjang sarjana selayaknya memiliki kompetensi pada kwalifikasi 5 atau sebagai teknisi akutansi madya, namun realitas tingkat kompetensi yang dicapai hanya kwalifikasi 2. Level ini diperuntukkan bagi asesi yang berasal dari pendidikan vokasi seperti sekolah menengah kejuruan akuntansi (SMK). Walaupun pelaksanaan uji kompetensi dilakukan di provinsi Sumatera Utara dan Aceh, namun hasil ini dapat menggambarkan kualitas pendidikan secara umum di Indonesia. Hasil ini cukup mengkhawatirkan, tingkat kemampuan akademik dan praktek lulusan pendidikan vokasi maupun perguruan tinggi belum menunjukkan kualitas terbaik. Kondisi ini setidak-tidaknya membenarkan urutan tingkat daya saing dan sistem pendidikan nasional yang tidak sebaik negara-negara di Asia lainnya. Namun pada sisi lain, hasil ini dapat menjadi kajian dan bahan evaluasi untuk memperbaiki dan sistem pendidikan dan peningkatan kualitas lulusan dari sistem pendidikan nasional Indonesia. Secara lengkap jenjang pendidikan dan skema materi uji kompetensi disajikan sebagai berikut: Tabel 1. Asesmen Kompetensi Jenjang Pendidikan Akuntansi SMK D-III S-1 Jenis Skema : Kluster Profesi 572 364 615 Kwalifikasi Teknisi Akuntansi 148 741 888 Total 720 1.105 1.503