406 Vol. 4 No. 1 (2022): 406-417 June 2022 e-ISSN 2656-0194 REAKTIVASI DAN TRANSFORMASI PROGRAM PANGAN BERSUBSIDI DI MASA PANDEMI COVID-19 REACTIVATION AND TRANSFORMATION OF SUBSIDIZED FOOD PROGRAM DURING THE COVID-19 PANDEMIC Azwar Anas Biro Perekonomian dan Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta Jalan Medan Merdeka Selatan, Nomor 8-9, Jakarta Pusat, 10110 email: aanperekonomian@gmail.com ABSTRAK Pandemi COVID-19 membuat tingkat kesejahteraan masyarakat Jakarta menurun. Hal ini terlihat dari kenaikan jumlah penduduk miskin di Jakarta dari 365,55 ribu orang (2019) menjadi 498,29 ribu orang (2021) dan kenaikan Gini ratio dari 0,391 (2019) menjadi 0,411 (2021). Kebijakan pemerintah di masa pandemi umumnya fokus pada pendistribusian bantuan sosial dan bantuan kepada usaha mikro kecil menengah, padahal ada kebijakan lain seperti program pangan bersubsidi. Penelitian program pangan bersubsidi penting untuk memahami implementasi kebijakan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai reaktivasi dan transformasi program pangan bersubsidi di Jakarta. Metode yang digunakan untuk menjawab penelitian yaitu melalui studi literatur dan implementasi kebijakan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan reaktivasi program pangan bersubsidi dilakukan sebagai bagian kebijakan jaring pengaman sosial untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat tertentu, seperti pelajar dari keluarga tidak mampu, lansia dan penyandang disabilitas yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Target penerima manfaat sekitar 1 juta orang pada tahun 2021 dan 2022. Mekanisme pendaftaran mengalami transformasi dari sistem luring menjadi kombinasi sistem luring dan sistem daring. Mekanisme pendistribusian menggunakan jumlah kuota harian dan menerapkan protokol kesehatan. Terjadi kenaikan nilai subsidi 2021-2022 dari Rp246.800/orang atau 66% dari total harga pangan menjadi Rp268.500/orang atau 68% dari total harga pangan. Kata kunci: program pangan bersubsidi, kesejahteraan, kemiskinan ABSTRACT The COVID-19 pandemic has reduced the welfare of the people of Jakarta. This can be seen from the increase in the number of poor people in Jakarta from 365.55 thousand people (2019) to 498.29 thousand people (2021) and the increase in the Gini ratio from 0.391 (2019) to 0.411 (2021). Government policies during the pandemic generally focus on distributing social assistance and assisting micro, small and medium enterprises, even though there are other policies such as subsidized food program. Research on subsidized food program is important to understand the implementation of policies to reduce poverty and improve people's welfare. This study aims to provide an explanation of the reactivation and transformation of the subsidized food program in Jakarta. The method used to answer the research is through literature studies and policy implementation in the field. The results showed that the reactivation of the subsidized food program was carried out as part of the social safety net policy to meet the food needs of certain communities, such as students from poor families, elderly and persons with disabled who cannot fulfill their basic needs. The target beneficiaries are around 1 million people in 2021 and 2022. The registration mechanism is undergoing a transformation from an offline system to a combination of offline and online system. The distribution mechanism uses daily quotas and applies health protocols. There will be an increase in the value of the 2021-2022 subsidy from Rp. 246,800/person or 66% of the total food price to Rp. 268,500/person or 68% of the total food price. Keywords: subsidized food program, welfare, poverty