269 Nyoman Ngurah Arya et al.: Perbaikan Kelayakan Usahatani Bawang Merah pada Dataran Tinggi di Bali Melalui Perbaikan Teknologi Budidaya ... Perbaikan Kelayakan Usahatani Bawang Merah pada Dataran Tinggi di Bali Melalui Perbaikan Teknologi Budidaya (Improving Feasibility of Shallot Farming at High Land in Bali Through the Improvement of Cultivation Technology) Nyoman Ngurah Arya, I Ketut Mahaputra, dan I Made Budiartana Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali, Jln. By Pass Ngurah Rai, Pesanggaran, Denpasar, Indonesia 80222 E-mail: arya_ngurah66@yahoo.com Diterima: 4 September 2019; direvisi: 5 November 2019; disetujui: 4 Desember 2019 ABSTRAK. Usahatani bawang merah telah menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian petani di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Namun, biaya usahatani yang dibutuhkan semakin meningkat dan dapat berdampak terhadap penurunan efsiensinya. Pengkajian ini bertujuan menganalisis kelayakan paket teknologi usahatani bawang merah. Pengkajian terdiri atas tiga perlakuan dan 15 ulangan, yakni: p 0 = teknologi eksisting (jarak tanam 23 cm x 23 cm + 12,5 – 15 ton pupuk kandang ayam/ha + 330 kg Urea/ha + 300 kg ZA/ha + 360 kg NPK 16:16:16/ha + pestisida kimia); p 1 = jarak tanam 20 cm x 15 cm + 5 ton kompos kotoran sapi/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + feromon exi + pestisida kimia; dan p 2 = jarak tanam 23 cm x 23 cm+ 5 ton kompos kotoran sapi/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + feromon exi + pestisida kimia. Lahan yang digunakan seluas 1,35 ha melibatkan 15 orang petani. Luas setiap perlakuan adalah 300 m 2 sehingga luas lahan yang digunakan pada masing-masing petani adalah 900 m 2 . Penanaman dilakukan pada April 2106. Kelayakan usahatani dianalisis dengan pendekatan R/C rasio. Hasil analisis menunjukkan bahwa paket teknologi p 2 memiliki kelayakan lebih baik daripada teknologi eksisting. Kata kunci: Kelayakan; Feromon exi; Jarak tanam; Kompos sapi ABSTRACT. Shallot farming has become the main source of income for some farmers in Kintamani District, Bangli Regency. However, the facts that shallot production costs tend to be more expensive over the year may have negative impacts to farm effciency and farmers’ income. This study was aimed to analyze the feasibility of shallot farming technology packages alternative. The study consisted of 15 replications and three treatments, namely: p 0 = existing technology (spacing 23cm x 23cm + 12.5 – 15 tons chicken manure/ha + 330 kg Urea/ha + 300 kg ZA/ha + 360 kg NPK 16:16:16/ha + chemical pesticides); p 1 = spacing of 20cm x 15cm + 5 tons cow compost/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + sex pheromone + chemical pesticides; and p 2 = spacing of 23 cm x 23 cm + 5 tons cow compost/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + sex pheromone + chemical pesticides. Land used is 1.35 ha involving 15 farmers. The area of each treatment is 300 m 2 , so the area of land used in each farmer is 900 m 2 . Planting was done in April 2106. The feasibility of shallot farming was analyzed by R/C ratio. The result of analysis showed that, technology package on p 2 has a better feasibility than existing technology. Keywords: Feasibility; Sex pheromone; Plant spacing; Cow compost Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas strategis Kementerian Pertanian. Pengembangan bawang merah di Indonesia diarahkan pada peningkatan kuantitas dan kualitas produksi secara berkesinambungan serta peningkatan pendapatan petani. Bawang merah telah dibudidayakan hampir di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk di Bali. Sentra produksi bawang merah di Bali terdapat di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Pada tahun 2016 jumlah produksi bawang merah di Bangli sebanyak 17.141 ton atau sebesar 95,10% jumlah produksi bawang merah di Bali (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali 2017). Keberhasilan usahatani bawang merah di antaranya sangat dipengaruhi oleh tingkat penerapan teknologi budidayanya. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa pengelolaan usahatani bawang merah dilakukan secara intensif, namun pada beberapa komponen teknologi budidayanya masih ada yang belum sesuai dengan hasil-hasil penelitian yang ada, yakni pengaturan populasi, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit (Sumarni, Rosliani & Suwandi 2012; Napitupulu & Winarto 2010; Moekasan, Basuki & Prabaningrum 2012). Pengaturan jarak tanam identik dengan pengaturan populasi tanaman, semakin lebar jarak tanam maka populasinya per satuan luas semakin rendah. Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu rapat menyebabkan populasi tanaman terlalu padat sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman juga kurang baik. Jarak tanam yang terlalu lebar atau terlalu rapat berdampak terhadap kuantitas dan kualitas produksi. Menurut petani bawang merah di lokasi pengkajian, jarak tanam yang ideal rata-rata 23 cm x 23 cm. Jarak tanam yang baik untuk tanaman bawang merah 20 cm x 15 cm atau 20 cm x 20 cm (Sumarni, Rosliani & Suwandi 2012; Sumarni & Hidayat 2005). KWWSG[GRLRUJMKRUWYQS