Dinamika Spasial Terumbu Karang pada Perairan Dangkal .............................................................................................(Nurdin, N., dkk.) 83 DINAMIKA SPASIAL TERUMBU KARANG PADA PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT DI PULAU LANGKAI, KEPULAUAN SPERMONDE (Spatial Dynamics of Coral Reefs in Shallow Water using Landsat Image in Langkai Island, Spermonde Archipelago) Nurjannah Nurdin 1 , Hermansyah Prasyad 2 dan Muh. Akbar A.S. 3 1 Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin 2,3 Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah Tata Ruang & Informasi Spasial, Universitas Hasanuddin E-mail : nurj_din@yahoo.com Diterima (received): 7 Oktober 2013; Direvisi (revised): 1 November 2013; Disetujui dipublikasikan (accepted): 21 November 2013 ABSTRAK Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk mengevaluasi perubahan ekosistem dasar perairan dangkal secara multitemporal merupakan bagian dari informasi geospasial yang bermanfaat sebagai acuan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Kepulauan Spermonde memiliki tingkat keanekaragaman terumbu karang yang cukup tinggi. Namun dalam kurun waktu 12 tahun terakhir terjadi penurunan tingkat penutupan karang hidup dan keragaman jenisnya sebanyak 20%. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran terumbu karang pada dasar perairan dangkal dan menganalisis perubahan luasannya dalam kurun waktu 14 tahun (1997-2011) di Pulau Langkai, Kepulauan Spermonde. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat (TM dan ETM+) akuisisi 24 Oktober 1997, 4 November 2004 dan 5 September 2011 dengan kondisi pasang surut yang sama. Pengolahan citra Landsat dilakukan dengan melakukan perbaikan citra (gap fill) pada citra Landsat ETM+ dengan menggunakan perangkat lunak Frame and Fill. Algoritma yang digunakan adalah Algoritma Lyzenga yang diintegrasikan dengan hasil pengecekan lapangan (ground truth) untuk menghasilkan citra baru. Persentase perubahan luas tutupan karang hidup di Pulau Langkai berdasarkan citra terklasifikasi yakni dari tahun 1997 ke tahun 2004 terjadi penurunan luas sebesar 24,27% sedangkan dari tahun 2004 ke tahun 2011 terjadi peningkatan luas sebesar 14,83%. Kata Kunci : geospasial, landsat, perbaikan citra, Algoritma Lyzenga, terumbu karang ABSTRACT Utilization of multitemporal remotely sensed imageries to evaluate ecosystem changes in shallow waters is a useful geospatial information to be used as a reference in coastal areas and small islands management in Indonesia. Spermonde Archipelago has a high diversity of corals, however, during the last 12 years there has been a decreasing in the coverage of living coral cover and coral diversity at about 20%. The aims of this study were mapping the distribution of coral reefs in shallow water and analyzing the changes on coral reef during 14 years (1997-2011) in Langkai Island, Spermonde Archipelago. The data used were Landsat (TM and ETM+) with acquisition dates of 24 th October 1997, 4 th November 2004 and 5 th September 2011. Landsat image processing included image gap filling for Landsat ETM+ image using Frame and Fill software and application of Lyzenga Algorithm combined with ground truth to obtain a new image. Based on the image classification in Langkai Island from 1997 to 2004, the percentage of living coral has reduced by 24.27 %, and then increased by 14.83% during the period of 2004 to 2011. Keyword : geospatial, landsat, gap fill, Lyzenga Algorithm, coral reef PENDAHULUAN Latar Belakang Ekosistem terumbu karang memiliki peranan yang sangat penting, baik dilihat dari sisi manusia maupun keanekaragaman dan keberlanjutan biota laut. Hampir sepertiga penduduk Indonesia yang tinggal di pesisir menggantungkan hidupnya pada perikanan laut dangkal. Penurunan tingkat penutupan karang hidup masih terus berlanjut hingga saat ini, karena eksploitasi sumberdaya yang tidak berkelanjutan. Pemanfaatan yang tidak berkelanjutan akan mengarah pada proses kelangkaan dan kerusakan sumberdaya alam. Pertambahan penduduk yang cepat dan pemanfaatan teknologi yang maju akan mempercepat usaha untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam laut. Kepulauan Spermonde memiliki tingkat keanekaragaman terumbu karang yang cukup tinggi. Jompa (2010) menjelaskan bahwa Kepulauan Spermonde memiliki 78 genera dan sub genera, dengan total spesies 262, dimana sekitar 80-87% terdapat di daerah terumbu terluar. Namun dalam kurun waktu 12 tahun terakhir terjadi penurunan tingkat penutupan karang hidup dan keragaman jenis sebanyak 20%. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by GEOMATIKA