Fransiskus Xaverius Rema, Dentiana Rero, Romaldus Ndena Kajian Simbol, dan Makna budaya dalam Tradisi Masyarakat etnis Bajawa - Flores 1 Kajian Simbol, dan Makna budaya dalam Tradisi Masyarakat etnis Bajawa - Flores Fransiskus Xaverius Rema, Dentiana Rero, Romaldus Ndena remafransiskus@gmail.com, dentianarero@gmail.com, ndenaromaldus@gmail.com ABSTRACT The existence of ancestral culture today has begun to be displaced by increasingly unstoppable advances in technology and information. That arena is where the digging of the noble values of local wisdom must be carried out so that it can obtain a deep meaning which is used as an identity and identity of a nation. The problem in this research is how the implementation of the study of symbols, meanings and traditions in sa'o mataraga, watu nabe and watu lewa in ethnic Bajawa, Flores, NTT. While the aim is to describe the implementation of the study of symbols, meanings and traditions in sa'o mataraga, watu nabe and watu lewa in the Bajawa ethnic community. This research is based on the precept that is to carry out symbolic reflection it must be based on the assumption that by following the indications given by the symbolic meaning we will arrive at an understanding of human existence. From these symbols contain a very deep meaning which is an ancestral heritage that can foster a sense of pride in the tradition by the owner of the culture. The research method used is qualitative. Data collection techniques use literature review. The data analysis technique in this research is through stages, namely, data collection, data reduction, and drawing conclusions. Kata Kunci: simbol, Makna, tradisi Etnis Bajawa Belakangan ini Indonesia dihadapkan dengan masalah rasialisme. Suatu masalah yang sudah dikeluhkan oleh manusia pada beberapa abad lampau. Masalah ini seharusnya menjadi cerminan sejarah yang sekarang bisa dijadikan referensi untuk dipepertahankan keutuhan hidup berbangsa dan bernegara. Ironisnya oleh beberapa oknum, masalah SARA menjadi senjata yang ampuh sebagai tameng memecah belah anak bangsanya sendiri. Hal ini terjadi dengan sangat sistematis, ada penggerak dan pendorong bahkan ada juga sebagai pemeran utama di belakang layar. Sudah saatnya kita sebagai bangsa saling memahami dan menghargai agar isu yang berkaitan dengan rasialisme, ataupun tentang suku, agam a dan ras ( SARA) dapat diminimalisir dengan di bekali berbagai informasi pengetahuan dari sisi budaya dan tradisi. Eksistensi sebuah tradisi budaya menjadi pudar karena perubahan zaman sehungga tercerabutnya akar budaya. Salah satu factor penghambat yang lainnya adalah kurangnya masyarakat berinteraksi dengan budaya lainnya sehingga pemilik budaya sendiri dianggap ISSN: 1857-2257, Vol. 17 No. 2 Desember 2020