PSIKOPEDAGOGIA ©2015 Universitas Ahmad Dahlan
2015. Vol. 4, No.1 ISSN: 2301-6167
13
Faktor-Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kebahagiaan pada
Lanjut Usia Suku Jawa di Klaten
Ahmad Muhammad Diponegoro
Universitas Ahmad Dahlan
Jl. Kapas No. 9, Kota Yogyakarta, DIY, Indonesia
Email: tugaspa@gmail.com
Mulyono
SMP Negeri 2 Klaten
Jl. Pemuda Selatan No. 4, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia
Email: mulyono.smpn2klaten@gmail.com
This study aimed to investigate the psychological factors that influence happiness of the Javanese elderly in
Klaten. This study belongs to phenomenology that using qualitative approach. Questionnaire and interview
guidance delivered to three participants were used as the research instrument. The results of this study
indicate that there are 14 factors that affect happiness elderly (income; age; religion; culture; gratitude;
physical activity; social relationships; forgiveness; quality of life; individual hospitality; health; married life;
having good relationship with children, grandchildren, and daughter, as well as with the brothers) and there
are 13 factors that affect the happiness (happiness, patience, calmness, optimistic, feel assured,
compassionate, considerate, passionate, has no resentment, relaxed, polite, happy to help / give, and does not
afraid of death / surrender to the fate)
Keywords: elderly, happiness, social relationships, qualitative approach
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi kebahagiaan lanjut
usia Suku Jawa di Klaten. Pendekatan yang digunakan kualitatif dengan jenis studi fenomenologi. Teknik
pengumpulan data dengan observasi dan wawancara terhadap tiga orang objek penelitian. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat 14 faktor yang mempengaruhi kebahagiaan lanjut usia (penghasilan; usia;
agama; budaya; bersyukur kepada Tuhan; aktivitas fisik; hubungan sosial; memaafkan; kualitas hidup;
silaturahmi; sehat; menikah; berhubungan baik dengan anak, cucu, dan menantu; serta berhubungan baik
dengan saudara) dan terdapat 13 afek yang mempengaruhi kebahagiaan lanjut usia (merasa senang, sabar,
suasana tenang, optimis, ayem tenteram, trenyuh, perhatian, bersemangat, tidak dendam, santai, sopan,
senang menolong/memberi, dan tidak takut meninggal/pasrah kepada takdir diusia tua). Berdasarkan hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 14 faktor dan 13 afek yang mempengaruhi kebahagiaan lanjut
usia. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi keluarga lansia dan masyarakat agar dapat menentukan sikap dalam
menghadapi dan memenuhi kebutuhan lansia. Selain itu, hasil penelitian bermanfaat pula bagi konselor
sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan konseling gerontologi (konseling lanjut usia) untuk
membantu lansia mencapai kebahagiaan.
Kata kunci: lanjut usia, kebahagiaan, hubungan sosial, pendekatan kualitatif
Pendahuluan
Pada dasarnya setiap orang ingin hidup
bahagia, termasuk para lanjut usia (lansia).
Kebahagiaan adalah sesuatu yang ingin dicapai
oleh semua manusia, baik orang kaya atau miskin,
dan juga pejabat maupun buruh. Setiap orang
berhak mendapatkan kebahagiaan masing-masing
dan berhak pula mendapatkan segala sesuatu yang
ingin dicapai. Permasalahan dalam hidup tidak
akan membatasi seseorang untuk berhenti
mengejar kebahagiaan. Menurut Hassan (dalam
Akhirudin, 2015) Hidup Seimbang Hidup Bahagia
adalah sebuah refleksi diri, misalnya membaca Al-
Qur’an disaat break training, sholat di saat macet,
dan zikir sebelum tidur”. Berkaitan dengan itu,
penyair besar Inggris Coleridge (dalam Etty, 2002)
mengatakan bahwa salah satu segi utama dari
kebahagiaan adalah bahwa orang yang bahagia
mengetahui dan menilai dirinya sebagai orang
yang bahagia.
Kebahagiaan menurut Diener (dalam
Diponegoro, 2013) memiliki istilah ilmiah
kesejahteraan subyektif (subjective well being).
Selanjutnya menurut Diener kesejahteraan
subjektif dapat didefinisikan sebagai evaluasi
kognitif dan afektif terhadap kehidupan. Evaluasi
kognitif orang yang bahagia berupa kepuasan
hidup yang tinggi, evaluasi afektif adalah
banyaknya afek positif dan sedikitnya afek negatif
yang dirasakan. Definisi senada juga disampaikan
oleh Headey dan Wooden (dalam Diponegoro,
2014) yaitu subjective well being mengandung
dimensi kepuasan hidup dan perasaan yang positif