84 * Rudy Christiyanto Pongenda, Mery Napitupulu dan Daud K. Walanda Pendidikan Kimia/FKIP - Universitas Tadulako, Palu - Indonesia 94118 Abstract Keywords: Biocharcoal, salak seed, adsorption, chromium, ands pektroDirect Pendahuluan Salak (Salacca edulis) adalah buah yang banyak dijumpai di hampir seluruh daerah Indonesia. Buah salak dikenal dalam bahasa Inggris disebut snake fruit, karena kulitnya mirip dengan sisik. Kulit buah tersusun seperti sisik-sisik/genteng berwarna cokelat kekuningan sampai kehitaman. Daging buah tidak berserat, warna dan rasa tergantung varietasnya. Dalam satu buah terdapat 1-3 biji. Biji keras, berbentuk dua sisi, sisi dalam datar dan sisi luar cembung (Suskendriyati dkk., 2000) Buah ini termasuk dalam keluarga palmae dengan batang batang tertutup oleh pelepah daun yang tersusun sangat rapat dan juga buahnya bersisik coklat tersusun di dalam tandan (tersekap diantara pelepah daun). Daging buah salak mempunyai rasa yang kelat, asam, dan manis. Ada beberapa varietas salak yang sudah dikenal sebagian masyarakat dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia (Widyastuti & Paimin, 1993). Contohnya salak pondoh (Sulawesi Tengah). Selama ini, konsumsi buah salak menghasilkan sisa berupa biji salak yang sayangnya oleh masyarakat hanya dianggap sebagai sampah yang tidak berguna. Biji salak kurang mendapatkan perhatian karena memiliki tekstur yang keras dan kasar sehingga sangat jarang yang memanfaatkannya untuk hal yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomis. Penelitian sebelumnya tentang salak lebih terfokus pada dagingnya (Kusumo, dkk., 2012). Dagingnya diproses menjadi berbagai macam produk olahan pangan. Saat ini banyak industri pengolahan salak yang menghasilkan limbah biji salak. Hampir semua limbah biji salak tersebut dibuang karena dianggap sudah tidak bermanfaat lagi. Biji salak sangatlah keras dan tidak mudah hancur, sehingga untuk mengolah biji salak ini sangatlah sulit dan berdampak pada studi pemanfaatan biji salak selama ini sangatlah jarang. Dengan demikian biji salak yang tidak berguna menyebabkan adanya limbah organik bagi lingkungan. Dampak negatif yang dihasilkan dunia Salak is one of many kind fruit that is much preferred by people because its taste is sweet, crunchy and because it has a high nutrient content and have good prospects for cultivated. During this time, only fesh fruit of salak are utilized and the seed become waste. Terefore, it has been done a research about Biocharcoal of Salak seed (Salacca edulis) as an absorbent for chromium. Te method used in this study was a laboratory experiment using Salak seeds biocharcoal as the adsorbent for chromium, concentration of absorbed chromium was measured by using a spektroDirect spectrophotometer. Te results showed that the optimum time for adsorption of metal ion chromium obtained was 60 minutes with the absorption efciency of 99.67%, the optimum weight for absorption of metal ion chromium obtained was 80 mg with the absorption efciency of 99.70% and the optimum concentration for absorption of metal ion chromium was 80 ppm with the absorption efciency of 99.77%. J. Akademika Kim. 4(2): 84-90, May 2015 ISSN 2302-6030 BIOCHARCOAL DARI BIJI SALAK (Salacca edulis) SEBAGAI ADSORBEN TERHADAP KROMIUM Biocharcoal of Salak Seed (Salacca edulis) as an Absorbent for Chromium Received 13 March 2015, Revised 10 April 2015, Accepted 11 May 2015 *Correspondence: Rudy Christiyanto Pongenda Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako email: rudychristiyantopongenda@yahoo.com Published by Universitas Tadulako 2015 brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal Akademika Kimia