Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra (Konnas Basastra) V | 209 RAGAM DIALEK SUNDA MAJALENGKA DALAM INTERAKSI KOMUNIKASI PADA MAHASISWA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MAJALENGKA Pipik Asteka Universitas Majalengka Surel: pipikasteka86@gmail.com Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keragaman dialek Sunda Majalengka pada mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka yang memiliki latar belakang geografi dan sosial penutur yang berada di kota Majalengka dan kabupaten Majalengka perbatasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ditetapkan di Universitas Majalengka. Informan sebagai sumber data adalah penutur yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi, wawancara, pengisian kuesioner dan pencatatan. Majalengka merupakan kabupaten dengan luas wilayah 1.204,24 Km² dan berbatasan langsung dengan kabupaten Indramayu di bagian Utara, kabupaten Cirebon dan sebagian wilayah kabupaten Kuningan di bagian timur, sebagian wilayah kabupaten Sumedang di bagian Barat, serta berbatasan dengan sebagian wilayah kabupaten Ciamis, Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya di bagian selatan. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka sebagian besar berasal dari wilayah kabupaten Majalengka yang berbatasan langsung dengan kabupaten lain. Berdasarkan hal tersebut, dialek Sunda yang digunakan oleh para mahasiswa dalam interaksi komunikasi sehari-hari di lingkungan kampus menjadi sangat beragam, meskipun mereka saling mengerti, karena masih terdapatnya kesamaan sistem atau sub-sistem di antara dialek yang mereka miliki. Kata kunci: ragam dialek, bahasa sunda, Majalengka, interaksi komunikasi. PENDAHULUAN Bahasa Sunda merupakan bahasa yang dipergunakan oleh sebagian besar masyarakat tutur di Jawa Barat. Bahasa Sunda sebagai bahasa etnik suku Sunda mempunyai ragam atau dialek. Dialek dalam hal ini adalah bahasa sekelompok masyarakat yang tinggal di suatu daerah tertentu. Perbedaan dialek di dalam sebuah bahasa maka ditentukan oleh letak geografis atau region kelompok pemakainya. Oleh karena itu, dialek disebut dialek geografis atau dialek regional. Batas- batas alam seperti sungai, gunung, laut, hutan dan sebagainya membatasi dialek yang satu dengan dialek yang lain. Bahasa Sunda merupakan bahasa terbesar kedua setelah bahasa Jawa di Indonesia (Wahya, 1995, 2005; Dienaputra, 2012). Sebagian besar penduduk yang bermukim di Provinsi Jawa Barat menguasai bahasa Sunda. Wilayah Priangan merupakan pusat konsentrasi pengguna bahasa Sunda. Dengan persebaran yang sangat luas tentu bahasa Sunda memiliki variasi geografis (dialek), tetapi perbedaan dialek tidak membuat mereka menjadi tidak saling mengerti. Sebagai bahasa daerah, meskipun penuturnya terbesar kedua di Indonesia, keberadaannya semakin terdesak oleh bahasa nasional bahasa Indonesia sehingga pergeseran bahasa daerah tinggal menunggu waktu (Gunarwan, 2006). Majalengka merupakan kabupaten dengan luas wilayah 1.204,24 Km² dan berbatasan langsung dengan kabupaten Indramayu di bagian Utara, kabupaten Cirebon dan kabupaten Kuningan di bagian timur, sebagian wilayah kabupaten Sumedang di bagian Barat, serta berbatasan dengan sebagian wilayah kabupaten Ciamis, Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya di bagian selatan. Letak geografis Kabupaten Majalengka yang menjadikan dialek sunda Majalengka menjadi beragam karena secara geografis kabupaten Majalengka berbatasan langsung dengan kabupetan lain yang tidak hanya berbeda secara dialek tetapi juga berbeda bahasa yakni bahasa jawa Cirebon dan bahasa jawa Indramayu. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by FKIP UNS Journal Systems