Agroprimatech Vol. 3 No. 1, Oktober 2019 e-ISSN : 2599-3232 11 ESTIMASI CADANGAN KARBON KELAPA SAWIT BIBIT BERSERTIFIKAT PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KABUPATEN SERDANG BEDAGAI SUMATERA UTARA SARI ANGGRAINI 1 , NUR AFRIYANTI 2 1,2 Universitas Prima Indonesia E-mail : sarianggraini@unprimdn.ac.id ABSTRAK Peningkatan konsentrasi CO 2 ke atmosfer menjadi salah satu penyebab pemanasan global akibat efek gas rumah kaca, Perluasan perkebunan kelapa sawit, terutama bila mengonversi hutan, berpotensi menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK). Tanaman kelapa sawit yang merupakan tanaman tahunan yang berpotensi dalam penyerapan emisi karbon. Penelitian dilakukan di perkebunan kelapa sawit PTPN IV Adolina (tipe bibit bersertifikat) dan kebun masyarakat (bibit non sertifikat) di Kabupaten Serdang Bedagai, Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan metode sampling tanpa pemanenan (non-destructive sampling) untuk pengukuran biomassa pohon hidup, pohon mati, dan kayu mati dan metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling) untuk pengukuran biomassa tumbuhan bawah dan serasah. Pengamatan pada plot-plot contoh sesuai dengan asal tipe bibit kelapa sawit bersertifikat. Penelitian akan dilaksanakan pada Juli - Agustus 2019, Dengan plot ukuran 20 m x 60 m sebanyak dua kali ulangan. Biomassa tanaman kelapa sawit bersertifikat yaitu 26,973 Ton/Ha, biomassa tumbuhan bawah pada kelapa sawit yaitu 0,03123 Ton/Ha, karbon tersimpan pada kelapa sawit bersertifikat yaitu 12,40758 Ton C/Ha, Dapat di simpulkan bahwa cadangan karbon pada tanaman kelapa sawit bersertifikat memiliki nilai rata-rata yang tinggi karena memiliki mekanisme produksi dan areal yang dikelola dengan baik. Kata kunci: Kelapa Sawit, Estimasi, Cadangan karbon, Bibit bersertifikat Pendahuluan Peningkatan konsentrasi CO 2 ke atmosfer menjadi salah satu penyebab pemanasan global akibat efek gas rumah kaca, sehingga membuatnya menjadi isu yang ramai dibicarakan oleh masyarakat secara luas, indikatornya adalah terjadinya peningkatan temperatur udara permukaan bumi. Menurut laporan IPCC (2007), dari tahun 1906-2005 telah terjadi kenaikan temperatur udara permukaan bumi rata-rata 0.74˚C. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya CO 2 yang terperangkap di atmosfer bumi, sehingga konsentrasi karbon di atmosfer meningkat secara tajam yang dapat mempengaruhi sistem kehidupan di bumi. Untuk mencegah terjadi pemanasan global lebih parah, maka pada tahun 1997 telah dirumuskan kesepakatan secara internasional Protokol Kyoto,dan pada tanggal 16 Februari 2005 Indonesia ikut meratifikasi Protokol Kyoto. Pemerintah Indonesia akan mengurangi laju pemanasan global dengan e-ISSN : 2599-3232 brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Universitas Prima Indonesia: Open Journal Systems