Jurnal Sylva Scienteae Vol. 04 No. 4 Agustus 2021 ISSN 2622-8963 (media online) 671 PENGERINGAN KAYU KARET (Hevea brasiliensis) DENGAN METODE RADIASI MATAHARI (GREEN HOUSE) UNTUK TUJUAN PENGAWETAN KAYU Rubber wood (Hevea brasiliensis) Drying with the Solar Kiln Method (Green House) for Wood Preservation Purpose Nur Afik Bagustiana, Wiwin TyasIstikowati, Budi Sutiya Program Stud Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat ABSTRACT.BThisBstudyBaimsBtoBdetermineBthe optimal drying time of rubber wood (Hevea brasiliensis) related to preservation by the method of hot and cold immersion using boric acid material so as to prolong the use of wood and also reduce costs and canBbeBusedBasBa referenceBinBresearch.BThe parameters tested in the preservation of wood are theoretical absorption and retention values. The optimal drying time of rubber wood (Hevea brasiliensis) for the preservation process of the absorption value and theoretical retention by the method of hot and cold immersion using boric acid material is at 2 weeks drying time. Factors that influence the absorption and retention are caused by water content and length of immertion. Keywords: Wood preservation, Hevea brasiliensis, Boric acid ABSTRAK.BPenelitianBiniBbertujuanBuntukBmengetahui waktu pengeringan kayu karet (Hevea brasiliensis) yang optimal terkait pengawetan dengan metode perendaman panas dingin menggunakan bahan asam borat sehingga dapat memperpanjang pemakaiaan kayu dan juga menekan biaya yang dikeluarkan serta bisa dijadikan acuan dalam penelitian. Parameter yang diuji dalam pengawetan kayu adalah nilai absorbsi dan retensi teoritis. Waktu optimal pengeringan kayu karet (Hevea brasiliensis) untuk proses pengawetan dari nilai absorbsi dan retensi teoritis dengan metode perendaman panas dingin menggunakan bahan asam borat yaitu pada lama pengeringan 2 minggu. Faktor yang mempengaruhi nilai absorbsi dan retensi pada pengawetan kayu disebabkan oleh kadar air kayu dan lama perendaman. Kata kunci: Pengawetan kayu, Hevea brasiliensis, Asam borat Penulis untuk korespondensi, surel: nurafikshut@gmail.com PENDAHULUAN Kalimantan Selatan memiliki potensi kayu karet (Hevea brasiliensis) yang besar. Karet banyak di temukan di berbagai perkebunan yang ada di indonesia seperti Perkebunan Inti Rakyat seluas 166.069 Ha, Perkebunan Besar Swasta seluas 12.194 Ha dan Perkebunan Karet Milik Negara seluas 13.879 Ha pada data tahun 2007 menurut Arifin (2008). Kayu Karet yang sudah tidak produktif lagi dapat dimaanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kayu di indonesia dalam hal industri pengolahan kayu, menurut Aryan (2004). Pengawetan adalah salah satu upaya untuk meningkatkan dn memperbaiki kualitas kayu, menurut Basry & B Efrida (1990). Menurut Muslich & Krisdianto (2006), Bahan pengawet akan dimasukkan kedalam kayu dalam guna mengawetkan kayu agar tidak terserang hama. Meskipun penilaian keberhasilan suatu pengawetan akhirnya ditentukan oleh umur pakai kayu yang bersangkutan, namun ada kriteria langsung dari perlakuan yang harus diketahui yaitu jumlah bahan pengawet yang mampu diabsorsi dan tinggal dalam kayu. Kayu kelas awet III, IV dan V perlu pengawetan sudah tercantum dalam SNI 03- 5010.1-1999, sedangkan kayu gubal kelas awet I dan II bisa di awetkan dalam kondisi tertentu (Sumaryanto, 2013). Kayu Karet termasuk kelas awet V dan kurang awet, untuk meningkatkan nilai guna pakainya makanya di lakukan pengawetan (Budiman, 1997). Pengawetan adalah upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kayu rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pengeringan kayu karet (H. brasiliensis) yang optimal terkait pengawetan dengan metode perendaman panas dingin menggunakan bahan asam borat.