Monitoring Kualitas Air Secara Real-Time Terintegrasi Integrated Real-time Water Quality Monitoring Yudi Yuliyus Maulana * , Dadin Mahmudin, R. Indra Wijaya dan Goib Wiranto Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Komp LIPI Gd 20, Jl Sangkuriang 21/54D, Bandung 40135, Indonesia Abstrak Perkembangan budi daya ikan yang menggunakan keramba jaring apung (KJA), saat ini tersebar di berbagai waduk dan danau di seluruh Indonesia, saat ini tumbuh pesat dan menjadi andalan pendapatan daerah. Selama ini monitoring kualitas air dilakukan secara manual, yaitu melakukan pengukuran kualitas air di tempat budidaya ikan tersebut. Selain memerlukan waktu yang lama, biasanya budi daya ikan tersebut berada jauh dari pusat kota. Dalam makalah ini akan dijelaskan desain dan realisasi sistem monitoring kualitas air dan peringatan dini secara real-time yang terintegrasi. Sistem ini telah diterapkan secara khusus untuk memantau parameter suhu, DO (dissolved oxygen) dan pH di sentral budidaya ikan di Waduk Cirata. Tujuannya adalah memantau kualitas air secara real-time, bisa diakses di mana saja dan sekaligus mencegah kematian ikan secara massal yang disebabkan oleh terjadinya up-welling dengan menggunakan sistem peringatan dini. upwelling terjadi apabila nilai suhu menurun drastis mencapai 25 derajat celcius lalu nilai DO menurun sampai 2,38 mg/L. Di sisi lain, data dari stasiun pengukuran yang dikumpulkan di stasiun perantara dapat diakses atau dikirimkan ke stasiun pengendali dengan menggunakan sistem telemetri. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan suatu sistem monitoring kualitas air untuk memantau parameter suhu, DO dan pH sekaligus peringatan dini terjadinya upwelling. Sistem ini untuk mendukung pembudidayaan ikan di danau-danau di Indonesia. Kata kunci: budidaya ikan, kualitas air, peringatan dini, real-time, suhu, upwelling. Abstract Development of fish farming by means of keramba jaring apung (KJA) method, which is found in many lakes in Indonesia lakes throughout Indonesia is currently growing rapidly and become a mainstay of the income of fishermen around the lake. During this time water quality monitoring is done manually, which perform water quality measurement at the fish farms. In addition to requiring a long time, usually reservoirs or lakes are located far from the center of town and difficult to reach. This paper describes the design and realization of the integration of water quality monitoring systems and early warning in real time. This system has been implemented to monitor the parameters of temperature, DO (dissolved oxygen) and pH in one of the central aquaculture in Cirata. The aim of this system is to monitor water quality and prevent mass fish deaths caused by the upwelling by using an early warning system. Upwelling occurs when the value of the temperature decreases dramatically to 25 degrees and DO value decreases to 2.38 mg/L. On the other hand, the data collected from measuring stations at intermediate stations can be accessed or transmitted to the master station by using a telemetry system for further analysis and study. The Results of this study show a water quality monitoring system to monitor the parameters of water quality such as temperature, DO and pH, in real- time, as well as integrated with the early warning system for upwelling phenomenon This system is built to support the cultivation of fish in lakes in Indonesia. Keywords: early warning; fish aquaculture; real-time; temperature; upwelling; water quality. I. PENDAHULUAN Dalam budidaya ikan menggunakan keramba jaring apung (KJA), mengetahui kualitas air yang baik sangat penting untuk menjamin kehidupan ikan sehat sepanjang periode budidaya (biasanya 3-4 bulan untuk jenis ikan mas) [1]. Meskipun banyak parameter- parameter yang mempengaruhi kualitas air, tapi ada tiga yang paling penting, yaitu parameter temperatur, pH, dan DO [2]. Fungsi pH sebagai indikator untuk reaksi kimia dan biologi dalam lingkungan air, yang digunakan sebagai ukuran keasaman atau kebasaan air. Sedangkan DO dan suhu merupakan indikator untuk metabolisme air, yang dapat digunakan untuk memantau organik serta polutan nutrisi [3], [4]. Secara konvensional, pemantauan kualitas air pada budidaya ikan dilakukan secara manual dalam mengambil sampel air, dan kemudian menganalisisnya di laboratorium [5]. Dengan teknik yang lebih maju pengukuran kualitas air dilakukan dengan menggunakan hand held instrumen secara berkala. Kedua metode ini memiliki kelemahan karena tidak praktis, tenaga kerja mahal, dan faktor kesalahan manusia yang cukup tinggi. Selain itu, cara konvensional tidak memiliki kemampuan pengumpulan data dengan baik, yang mana data tersebut sangat penting untul prediksi di masa depan dan untuk mempelajari karakteristik kualitas air di daerah budidaya [6]. Waduk yang digunakan budidaya ikan seringkali menimbulkan masalah yang cukup kompleks. Salah satunya adalah penurunan kualitas air akibat sisa pakan. Kondisi ini menjelma menjadi musibah bila terjadinya upwelling. Akibatnya, ribuan ton ikan mati seketika dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit [7]. Terjadinya upwelling biasanya ditemui pada kondisi suhu air permukaan lebih dingin, dan berat jenis * Corresponding Author. Email: yudiym@gmail.com Received: April 11, 2015; Revised: April 24, 2015 Accepted: June 5, 2015 Published: June 30, 2015 2015 PPET - LIPI doi : 10.14203/jet.v15.23-27