Jurnal PASTI Volume XI No. 1, 13 - 21 13 IDENTIFIKASI RISIKO ERGONOMI DENGAN METODE QUICK EXPOSURE CHECK DAN NORDIC BODY MAP Paoce Pratama, Hendy Tannady, Filscha Nurprihatin, Heksa Bekti Ariyono, Setyo Melany Sari Universitas Bunda Mulia, Jalan Lodan Raya No. 2 Email : p.paoce@yahoo.com; htannady@bundamulia.ac.id; fnurprihatin@bundamulia.ac.id ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang risiko ergonomi yang diamali oleh pekerja bagian desainer pada salah satu perusahaan desain interior di Jakarta. Adapun risiko ergonomi tersebut diidentifikasi menggunakan Quick Exposure Check dan Nordic Body Map. Hasil dari pengolahan data Quick Exposure Check menunjukkan exposure score 57,14% pada pekerja 1, 53,20% pada pekerja 2, dan 58,13% pada pekerja 3 mengindikasikan bahwa pekerjaan yang dilakukan dikategorikan kurang aman. Sedangkan Nordic Body Map memberikan hasil berupa keluhan pekerja terutama pada bagian leher, punggung, pantat, bahu, lengan, tangan dan pergelangan tangan. Dari kedua metode yang digunakan, didapatkan bahwa pekerjaan tersebut memerlukan tindakan perbaikan atau perubahan untuk mengurangi risiko ergonomi yang dialami pekerja. Kata Kunci : Risiko Ergonomi, Quick Exposure Check, Nordic Body Map, Exposure Score ABSTRACT This This research talk about the risks ergonomics in practice by workers designer on one of the interior design in jakarta. Risk ergonomics was identified using Quick Exposure Check and Nordic Body Map. The result of data processing Quick Exposure Check show exposure score 57,14 % on workers 1, 53,20 % on workers 2, and 58,13 % on workers 3 indicates that work done are less secure. While nordic body the results of complaints workers especially on the neck, back, butt, shoulder, arms, the hand and wrist. Both methods used, got that the job requires action improvement or change to reduce the risk ergonomics experienced workers. Keywords: risk ergonomics, Quick Exposure Check, Nordic Body Map, Exposure Score PENDAHULUAN Kinerja yang baik serta produktivitas yang tinggi dari pekerja adalah hal yang secara kontinu ingin dicapai oleh perusahaan. Ada berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dan produktivitas pekerja, salah satunya adalah kondisi fisik atau kelelahan pekerja tersebut (Ilman, et al. [1]; Bidiawati dan Suryani [2]; Vachhani, et al. [3]). Kondisi fisik yang dimaksud dan harus dihindari lebih sering dikenal dengan istilah Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs). Dengan kondisi fisik yang baik (tidak mudah lelah), maka pekerja dapat secara maksimal melaksanakan pekerjaannya sehingga produktivitasnya akan tinggi. Sedangkan bila kondisi fisik pekerja kurang baik (mudah lelah), maka dapat menimbulkan keluhan dan kendala, baik kendala psikologis maupun kendala kesehatan, yang nantinya akan berakibat kinerja dan produktivitasnya terganggu. Lebih jauh lagi, Choobineh, et al. [4] mengatakan bahwa WMSDs berkaitan erat dengan tipe pekerjaan, usia, berat badan, pengalaman kerja, jenis kelamin, status pernikahan dan tingkat pendidikan.