148 SALT SUPPLY CHAIN MANAGEMENT IN BIREUEN DISTRICT, ACEH PROVINCE MANAJEMEN RANTAI PASOK GARAM DI KABUPATEN BIREUEN PROVINSI ACEH Naya Desparita 1* , Elfiana 2 , Nursayuti 3 1,2) Dosen Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Almuslim 3) Dosen Prodi Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Almuslim Jl. Almuslim Peusanngan No. 1 *e-mail: nayadesparita@gmail.com Abstrak Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengidentifikasi aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi pada rantai pasok garam di Kabupaten Bireuen. Dengan menggunakan analisis data deskriptif kualitatif yaitu membagi SCOR pada beberapa tahapan terdiri Plan (proses perencanaan), Source (pengadaan), Make (proses produksi), dan Deliver (proses pengiriman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani garam di Kabupaten Bireuen melakukan proses produksi garam dengan menggunakan bibit garam dari madura dengan teknik perebusan dan penguapan hingga jadi garam mampu mengahasilkan produksi mencapai 120 kg s/d 160/kg, dengan harga jual berkisar pada harga Rp 4.000-4.500/ kg. Bahan baku utama dalam pembuatan garam dapur di Desa tanoeh Anoe yaitu bibit garam madura yang dibeli pada agen di Medan, petani garam membeli garam dengan harga mencapai 150 kg/ zak hingga 180kg/zak. Desa Tanoeh Anoe memiliki 40 gubuk petani garam yang tersebar disepanjang jalan lintas Kecamatan Jangka, pada setiap gubuk mampu menghasilkan 180 kg / harinya dan 5.400 kg/ bulannya, aliran rantai pasok sudah baik tidak mengalami kendala yang urgent, hanya aliran informasi yang relatif berubah yaitu informasi ketersediaan stok sehingga agen yang ingin membeli garam melebihi kapasitas pesanan tidak memperoleh stok dan mengalihkan pembelian keprodusen lainnya. Kata kunci: Garam, manajemen, rantai pasok Abstract The purpose of this study is to identify product flows, financial flows and information flows in the salt supply chain in Bireuen Regency. By using qualitative descriptive data analysis, dividing the SCOR into several stages consisting of Plan (planning process), Source (procurement), Make (production process), and Deliver (delivery process). The results showed that salt farmers in Bireuen Regency carried out the salt production process using salt seeds from Madura with boiling and evaporation techniques so that salt was able to produce production reaching 120 kg to 160/kg, with selling prices ranging from IDR 4,000- 4,500 / kg. The main raw material for making table salt in Tanoeh Anoe village is Madura salt seeds purchased from an agent in Medan, salt farmers buy salt at prices ranging from 150 kg/bag to 180 kg/zak. Tanoeh Anoe village has 40 salt farmer huts scattered along the road in the Kecamatan Jangkac, each hut is capable of producing 180 kg/day and 5,400 kg/month, the flow of the supply chain is good, there are no urgent problems, only the flow of information has relatively changed, namely information stock availability so that agents who wish to buy salt exceeding the order capacity do not acquire stock and divert purchases to other producers. Keyword: Salt, management, supply chain