Jurnal Medika Veterinaria Agustus 2018 12 (2):97 - 102 I-SSN : 0853-1943; E-ISSN : 2503-1600 DOI:https://doi.org/10.21157/j.med.vet.v1 1i1.4065 97 The Effect of Indigofera sp. Leaf on the Protein Level of Rabbit Meat (Orictolagus sp) Yuza Al Iqwal 1 , Rastina 2, , Abdul Harris 3 , T. Reza Ferasyi 2 , Al Azhar 4 , Muslim Akmal 5 1 Program Studi Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 2 Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 3 Laboratorium Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 4 Laboratorium Biokimia, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 5 Laboratorium Histologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh E-mail: yuzaaliqwal@gmail.com ABSTRACT This study aimed to determine the effect of Indigofera sp. leaf to increase protein content of rabbit meat (Origtolagus sp). This study used a complete randomized design, consisted of 3 treatments and 3 replications. The samples were nine local male rabbits aged two months. P0 was control group which was given commercial feed, P1 was given 80% commercial feed and 20% Indigofera sp. pellet leaf, and P2 was given 70% commercial feed and 30% Indigofera sp. pellet leaf. The feeding and drinking was conducted at 07:00 to 08:00 am and at 04:00 to 05:00 pm ad libitum. Protein content was measured using Kjeldahl method after eight weeks of treatments. The data was analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) with SPSS v16.0 for Windows. The results showed that mean value (±SD) of meat protein for P0, P1 and P2 were 18.79+0.81%, 19.40+0.33% and 20.88+0.74%, respectively. We can conclude that the leaves of Indigofera sp. was highly significant (P<0,01) in increasing protein level of rabbit meat at a concentration of 30%. Keywords : Indigofera sp. rabbit, protein, proksimat analysis PENDAHULUAN Subsektor peternakan memegang peranan penting sebagai salah satu sumber pertumbuhan, khususnya bagi sektor pertanian dan umumnya perekonomian Indonesia. Subsektor peternakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sektor pertanian, diutamakan untuk memenuhi pangan dan gizi melalui usaha pembinaan daerah-daerah produksi yang telah ada serta pembangunan daerah- daerah baru (Widagdho, 2008). Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang gizi menyebabkan kebutuhan protein hewani juga semakin tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, daging kelinci merupakan salah satu alternatif selain ternak ayam dan kambing. Kelinci merupakan salah satu jenis ternak yang semakin populer dimasyarakat. Hal ini terbukti dengan semakin banyak masyarakat yang berminat untuk memelihara kelinci dan mulai meningkatnya masyarakat yang mengkonsumsi produk yang dihasilkan dari kelinci yaitu dagingnya (Cibro, 2014). Daging kelinci mengandung lemak dan kolesterol yang jauh lebih rendah dibanding daging hewan lain, tapi memiliki kandungan protein yang lebih tinggi. Kandungan lemak kelinci hanya sebesar 8% , sedangkan daging ayam 12%, daging sapi 24%, daging domba 14%, dan daging babi 21%. Kadar kolesterol daging kelinci sekitar 164 mg/100 gr, sedangkan daging ayam, daging sapi, domba dan babi berkisar 220-250 mg/100g daging. Kandungan protein daging kelinci mencapai 21% sementara ternak lain hanya 17-20% (Masanto dan Agus, 2013). Pakan merupakan faktor penting dalam usaha peternakan, nutrisi yang seimbang akan menghasilkan produksi daging yang tinggi. Akan tetapi kualitas pakan yang rendah akan mengakibatkan produksi ternak menjadi rendah. Kemajuan dan