https://doi.org/10.56211/pubhealth.v1i3.208 Attribution-ShareAlike 4.0 International Some rights reserved Artikel Penelitian Penggunaan APD dan Personal Hygiene Berhubungan dengan Keluhan Subjektif Dermatitis pada Nelayan di TPI Blanakan Subang Jawa Barat Meiana Harfika, Nawal Suryani Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Respati Indonesia, Jakarta Timur, Indonesia INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Diterima Redaksi: 04 Januari 2023 Revisi Akhir: 06 Januari 2023 Diterbitkan Online: 07 Januari 2023 Nelayan merupakan salah satu profesi yang rawan penyakit, termasuk penyakit kulit. Salah satu penyakit kulit yaitu terjadinya keluhan dermatitis pada saat bongkar muat ikan dan melakukan proses pelelangan. Hal ini perlu mendapatkan perhatian karena menjadi salah satu hambatan pada nelayan untuk bekerja sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja para nelayan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan faktor penggunaan APD dan personal hygiene dengan kejadian keluhan subjektif dermatitis pada nelayan di TPI Blanakan Kabupaten Subang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel dari penelitian ini adalah nelayan yang bekerja di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Fajar Sidiq Kelurahan Blanakan Ciasem Subang sebanyak 179 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian terdapat hubungan antara penggunaan APD (p=0,0001) dan terdapat hubungan antara personal hygiene (p=0,0001) dengan keluhan subjektif dermatitis pada nelayan di TPI Blanakan Subang. Saran yang diberikan yaitu pentingnya personal hygiene dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi pekerja yang hubungan langsung dengan air laut / hasil laut. Serta bekerjasama dengan puskesmas setempat untuk memberikan penyuluhan tentang personal hygiene dan penggunaan APD. KATA KUNCI Dermatitis, Keluhan subjektif, Nelayan KORESPONDENSI Phone: 0811-3002-266 E-mail: meianaharfika3005@gmail.com PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai kepulauan terbesar di dunia, sekitar 75 persen wilayahnya berupa laut, dan di wilayah pesisir dan laut terkandung sumber daya alam yang sangat beragam dan besar, sementara sumber daya alam yang ada di wilayah daratan sudah semakin menipis atau sukar untuk dikembangkan, maka tumpuan utama bagi bangsa Indonesia mendatang adalah kelautan bagi pembangunan, kemajuan dan kesejahteraan (Dahuri, 2014). Berdasarkan data hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional 2013 yang diolah, diketahui bahwa sebanyak 2,2 persen rumah tangga di Indonesia yang memiliki kepala rumah tangga berprofesi sebagai nelayan (Harmadi, 2014) Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ikan ataupun budi daya. Berdasarkan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional 2013 menunjukkan bahwa sekitar 25 persen nelayan mengalami gangguan kesehatan. Ditinjau dari aspek kesehatan, nelayan lebih sering menderita atau terjadinya suatu masalah kesehatan seperti dermatitis (BPS, 2013). Para ahli menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi kejadian dermatitis secara langsung seperti daya larut, konsentrrasi dan ukuran molekul. dan untuk faktor tidak langsung seperti masa kerja, riwayat penyakit, personal hygiene, penggunaan APD, suhu dan kelembaban serta lama kontak (Akbar, 2002). Dermatitis adalah suatu penyakit yang diakibatkan karena adanya peradangan pada kulit, baik lapisan pertama kulit atau lapisan kedua kulit (epidermis dan dermis). Dominasi kasus dermatitis di dunia pada tahun 2010 mempengaruhi sekitar 230 juta orang atau 3,5 persen dari total populasi. Kelompok wanita sering mengalami dermatitis, terutama yang berusia 15-49 tahun. Di negara Inggris dan AS, frekuensi dermatitis diliputi oleh anak-anak, yaitu sekitar 20 persen dan 10,7 persen dari populasi, sedangkan orang dewasa di AS sekitar 17,8 juta (10%) individu. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas setempat yaitu Puskesmas Blanakan pada tahun 2018 ada 67 kasus dermatitis.