Transaksi Perdagangan di Wilayah Perbatasan Kabupaten Sambas Perspektif Mas}laha}h Jurnal Diskursus Islam Volume 05 Nomor 2, Agustus 2017 19 TRANSAKSI PERDAGANGAN DI WILAYAH PERBATASAN KABUPATEN SAMBAS PERSPEKTIF MAS}LAHA}H Munadi Sabri Samin Kasjim Salenda Kurniati Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas munadi176176@gmail.com Abstrak: Penelitian ini ingin melihat sejauhmana transaksi tersebut sesuai dengan konsepsi hukum Islam terutama teori-teori mas}lah}ah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif serta teori- teori hukum Ekonomi Syariah, sehingga transaksi perdagangan di wilayah perbatasan dapat ditinjau dari kedua pendekatan teori tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa bentuk perdagangan di wilayah perbatasan di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat diantara: Perdagangan dengan pemesanan barang, pemesanan barang ini dilakukan oleh para pembeli dari Malaysia yang memesan barang kepada pedagang Indonesia di pasar Temajuk. Mekanisme pemesanan barang ini yaitu dengan pemberian uang panjar. Sesuai dengan spesifikasi barang yang dipesan. Dalam hukum Islam dinamakan dengan ba’i salam, dan ba’i salam telah sesuai dengan aspek-aspek transaksi di sistem Muamalah. Diantara bentuk transaksi perdagangan di wilayah perbatasan lainnya yaitu perdagangan mata uang asing atau biasa disebut dengan jual beli s}arf. Perdagangan mata uang ini dilakukan antara pembeli dan penjual. Hal ini terjadi disebabkan pembeli dari Malaysia menggunakan mata uang Ringgit. Apabila pembelian tersebut terdapat sisa pengembalian maka penjual akan mengembalikannya dengan mata uang Rupiah. Oleh karena itu, disamping para pedagang tersebut menjual barang dagangannya, mereka juga sembari menjual mata uang Rupiah kepada pembeli dari Malaysia, dengan kurs yang mereka sepakati. Keywords : Wilayah Perbatasan, Salam, S}arf. I. PENDAHULUAN Perbatasan menjadi salah satu isu yang selama ini terus menjadi masalah di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat. Meskipun wilayah perbatasan menjadi garda terdepan hubungan regional antara Indonesia dengan negara tetangga, faktanya wilayah perbatasan masih belum terorganisir dengan baik dan terabaikan. Contohnya, pengembangan infrastruktur maupun pembangunan sumber daya manusia. Padahal masyarakat berharap penuh pada pemerintah dengan dibentuknya kementrian khusus yang menangani wilayah perbatasan dan daerah tertinggal. Akan tetapi, implementasi pengembangan wilayah perbatasan sepertinya masih belum merata. Hasilnya, berbagai persoalan sosial keagamaan bermunculan. Problematika yang muncul di lapangan bervariasi, mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial keagamaan, sengketa perbatasan dengan negara tetangga yang brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by E-Jurnal UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar