Ahmad Syuhada, Jurnal Teknik Mesin Unsyiah, volume 6, nomor 1 (Juni 2018) ISSN 2301-8224 17 Kaji Sistem pengering Kakao dengan Menggunakan Energi Hybrid (Energi Matahari dan Bahan Bakar Gas) Ahmad Syuhada, Ratna Sary, Farid Isnan Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk. Syech Abdurrauf No. 7 Darussalam Banda Aceh 23111, I ndonesia e-mail:Farid.isnan20@gmail.com Abstract Cocoa one of the agricultural commodity which grow well that in Aceh and could producing the fruit for the rest of the year. In 2017, the wide of productive area reached 98,233 hectares (HA). The result of the crop was capable attained 32,403 tons/year. However, due to Aceh has climate tropical, when the dry season came, the drying process was still could on processing but when rainy season came, the drying process will be hampered and if the weather was still not sunny probaly it could make the fungus appeared. The aim of the research was to get the more optimal drying system so that it could be used when it was dry or rainy. The research described about drying system with 3 drying methods that is solar collector dryer, combustion dryer and hybrid dryer. From the result which conducted on 16 kg using a solar collector, the drying time was 25 hours with total energy used was 23.491,01 Kj. On the trial used hybrid energy, the drying time was 19 hours which total energy used was 160.636,19 Kj. On the trial used combustion energy, the drying time reached 14 hour with total energy used was 184.546,58 kj. in concluions that hybrid energy could get the best result in colour, kakao aromatic that more scents, no fungus, and the the seed could not break so that it reach I SNI quality. Keywords: Cocoa, Cocoa production, drier, Solar collector, Fuel 1. Pendahuluan Aceh merupakan provinsi di ujung barat Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Beragam komoditas pertanian tumbuh subur salah satunya adalah tanaman kakao. Pada tahun 2017 khususnya di Aceh, tanaman kakao memiliki luas area lahan produktif mencapai 98.233 hektar (HA). Dimana 98.159 ha merupakan perkebunan kakao yang di kelola oleh rakyat dan 74 ha perkebunan kakao yang dikelola oleh swasta dengan total hasil produksi sekitar 32.403 ton pertahunnya [1] Pada umumnya petani kakao di Aceh melakukan pengeringan masih sangat tradisonal dimana penjemuran di lakukan di atas aspal jalan, di atas goni dengan memanfaatkan energi matahari. Proses pengeringan ini membutuhkan waktu 5 -7 hari untuk dapat menurunkan kadar air yang mencapai 7- 8% dari biji kakao [2] dan Saat cuaca berawan, waktu penjemuran mencapai 12 - 14 hari sehingga menyebabkan tumbuhnya jamur di permukaan biji [3] Tanaman kakao merupakan jenis tanaman yang dapat berbuah sepanjang tahun. Namun dengan iklim di Indonesia yang tropis, dimana terdapat dua musim yaitu musim kemarau dan hujan. Ketika musim kemarau proses pengeringan masih dapat berlangsung, akan tetapi ketika musim hujan proses pengeringan kakao akan terganggu dan apabila cuaca tidak kunjung cerah maka dapat menyebabkan kehadiran jamur sehingga dapat merusak aroma serta rasanya juga akan ikut rusak. Pemanfaatan energi matahari sebagai proses pengeringan akan lebih efektif apabila menggunakan kolektor surya karena dengan memanfaatkan kolektor surya temperatur pengeringan dapat ditingkatkan hingga 70 - 80 o C [4]. Namun apabila kondisi alam tidak memberikan energi matahari yang bagus (mendung ataupun hujan) maka proses pengeringan dapat digantikan dengan pengeringan bahan bakar (gas atau kayu). Pengeringan kakao basah menjadi kering ini dapat digantikan menggunakan teknologi pengering dengan pendistribusian temperatur yang merata dan waktu yang lebih singkat. Sehingga proses pengeringan ini akan lebih baik bila menggunakan pengeringan hybrid (kolektor surya dan bahan bakar gas) karena peralatan pengering ini dapat digunakan diwaktu panas maupun hujan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan sistem pengeringan biji kakao yang lebih optimal (waktu dan kualitas) sehingga dapat digunakan dicuaca panas maupun hujan karena menggunakan 3 metode pengeringan. diharapkan mampu menjadi solusi untuk meningkatkan produksi dan mutu biji kakao dengan waktu pengeringan yang lebih singkat. Meningkatnya mutu dari biji kakao diharapkan mampu meningkatkan harga jual agar dapat membantu perekonomian masyarakat khususnya bagi petani kakao Aceh. Dalam penelitian sebelumnya [5] dijelaskan untuk mengeringkan kakao dengan sebesar 6 kg membutuhkan waktu 18 jam [5]. Selanjutnya dari hasil penelitian [6] penambahan preheater pada kolektor surya dapat meningkatkan temperatur keluar