Ornamen: Jurnal Kriya ISI Surakarta Vol. 19., No. 2, Desember 2022 ISSN 1693-7724, eISSN 2685-614X https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/ornamen/ 113 Pengembangan Motif Batik Papua Barat Dengan Sumber Ide Burung Kasuari Alifia Ayu Pratiwi a.1* , Setyawan a.2 a Program Studi Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret 1 ayualifia0@gmail.com, 2 setyawan@staff.uns.ac.id ABSTRACT KEYWORDS The purposes of this creative process is to add a new variation of Papuan Batik which focusing on Cassowary bird as the point of interest in the pattern so that the immigrant people can get to know more about the unique fauna of Papua, Cassowary. The method used in this design process is the Colin Clipson design method, quoted by Prof. Dr. Nanang Rizali, MSD in his book which covers problem identification, design analysis, ctreative process, and in this designing process, the study of production also conducted to give conclusion on how to improve West Papuan Batik pattern using the idea of Cassowary bird. Based on the results of survey and data analysis, 8 design was created using repeated technique. Those designs include the exploration of Cassowary as the main pattern, areca nut leaves as the supporting pattern and Asmat wood craving which give distinct contrast between Papuan Batik and Javanese Batik. The design will be realized in the form of cloth measuring 200cm x 100cm. Batik, Papuan Batik, Cassowary This is an open access article under the CC BY-SA license 1. Pendahuluan Burung Kasuari merupakan salah satu fauna Indonesia yang hanya ditemukan di Papua dan saat ini Kasuari tergolong ke dalam fauna yang hampir punah dan dilindungi pemerintah karena masalah yang cukup serius yaitu perburuan liar, baik terhadap burung Kasuari dewasa, anak Kasuari, maupun telurnya. Dalam bukunya, Shanaz dan Rudyanto (1995) menjelaskan bahwa burung kasuari merupakan salah satu jenis burung yang rentan kepunahan karena selalu diburu untuk diambil bagian-bagian tubuhnya. Hal ini dipercepat lagi dengan rusaknya habitat alami, sebagai dampak dari pembalakan liar, kebakaran hutan, bencana alam, serta konversi hutan menjadi area untuk pemanfaatan lain seperti perkebunan, pertambangan, transmigrasi, dan pemukiman penduduk. Setio (1997) mengemukakan bahwa penduduk setempat umumnya memanfaatkan dagingnya sebagai sumber protein hewani, sedangkan tulangnya dimanfaatkan sebagai senjata (mata tombak, mata panah dan pisau), karena strukturnya sangat keras, sedangkan perburuan telur dilakukan sebagai bahan pembuatan cinderamata berupa ukiran telur kasuari. Beragam fakta di atas maenjadi landasan penulis untuk mengembangkan desain motif Batik Papua Barat yang mempunyai ciri khas yang kuat dan nilai kebaharuan. Pengembangan motif mengambil sumber ide Burung Kasuari. Olahan visual burung Kasuari menjadi motif utama, menjadi point of interest, di dalam batik secara keseluruhan untuk menonjolkan kekhasan kain Batik Papua Barat dan juga untuk memperlihatkan identitas Papua Barat. Perancangan ini menampilkan burung Kasuari sebagai motif pendukung dengan visual yang lebih sederhana, terdapat juga daun pinang sebagai motif pendukung serta ukiran kayu khas Papua untuk mempertahankan ciri khas batik Papua. Pentingnya pengembangan batik ini juga dikarenakan pertama, kurangnya variasi dari motif yang ada di Papua Barat maka dari itu pengembangan ini dilakukan agar terdapat kebaruan motif dalam batik Papua. Kedua, perancangan ini mengambil fauna khas Papua yaitu Kasuari sehingga menonjolkan kekayaan fauna di tanah Papua. Ketiga, bercampurnya banyak motif dalam satu kain menciptakan kesan ramai sehingga sulit untuk menentukan motif utama serta point of interest didalamnya, maka dalam perancangan ini, motif akan lebih sederhana karena berfokus pada satu motif utama yang menjadi point of interest.