Rasionalitas Konsumsi Handphone Pada Keluarga Miskin Di Desa Kudubanjar 1 RASIONALITAS KONSUMSI HANDPHONE PADA KELUARGA MISKIN DI DESA KUDUBANJAR Ria Anggraini S1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya riaanggraini581@gmail.com Martinus Legowo S1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya m_legawa@yahoo.com Abstrak Penelitian ini membahas tentang Rasionalitas Konsumsi Handphone pada Keluarga Miskin. Kendala yang dihadapi oleh masyarakat adalah bersumber dari segala kebutuhan yang tidak terbatas dan juga sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apapun yang sudah mereka miliki. Salah satu kebutuhan manusia pada jaman sekarang adalah handphone yang merupakan salah satu hasil dari kemajuan teknologi. Mereka harus dapat berpikir rasional sebelum membuat keputusan untuk memasukkan handphone dalam kebutuhan yang akan mereka konsumsi. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana rasionalitas konsumsi handphone pada keluarga miskin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif yang berusaha menggali, memahami, dan mencari fenomena sosial yang kemudian menghasilkan data yang mendalam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif denan pengambilan data dengan menggunakan observasi dan wawancara. Hasil pada penelitian ini dapat ditemukan dua jenis tipe rasionalitas, yaitu rasionalitas instrumen dan rasionalitas nilai. Dalam temuan data diketahui ada beberapa alasan membeli handphone yaitu untuk bekerja serta komunikasi dan hal tersebut merupakan tindakan rasionalitas instrumen. Satu hasil penelitian yang menunjukkan tindakan rasionalitas nilai yaitu membeli handphone karena gengsi dan takut minder dengan sekitarnya. Kata Kunci: Rasionalitas, Konsumsi, Handphone, Keluarga miskin Abstract This research about Rationality of mobile phone consumption in poor families. Obstacles faced by the community is funded by all the things not limited and also human nature who never are satisfied with any that they had have .One of the needs in the now is a cell phone that was one of the results of technological progress .They should be able to think rationally before making the decision to admit a cell phone in the need to be happening to them .This research has aimed to know and understand how rationality cell phone consumption of the poor families .Methods used in this research is qualitative research was conducted who try to dig , understand , and look for social phenomena which produces the data deep . the result of this study can be found in two types of rationality. This research uses the method the qualitative study denan the data by using observation and interview .Outcomes this research is there are several reasons buy cell phone which is to work and communication and this would be the act of rationality an instrument .One yield that research shows the act of rationality value that is buy cell phone because prestige and fear minder of to surrounding . Keywords: Rationality, Consumption, Mobile, poor family PENDAHULUAN Masalah kemiskinan telah menjadi perhatian pada semua negara. Hal itu dinyatakan dalam SDG’s (Sustainable Development Goals). SDG’s merupakan kesepakatan bersama negara-negara untuk mencapai kesejahteraan manusia. Untuk mengatasi kemiskinan, sebenarnya pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Ada beberapa program dari pemerintah yang dimaksudkan sebagai solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan. Menyiapkan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja agar tidak banyak pengangguran. Pemerintah juga berusaha untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok agar keluarga miskin tetap bisa tetap mmenuhi kebutuhan pokok mereka untuk sehari-hari. Pada kenyataannya walaupun pemerintah selalu melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah kemiskinan, Indonesia masih belum bisa terlepas dari jerat kemiskinan. Kemiskinan merupakan sebuah fenomena dan fakta yang terjadi di negara Indonesia, sebuah masalah yang sejak dulu hingga sekarang masih juga belum bisa teratasi baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah. Masyarakat sudah seharusnya dapat menyeimbangkan antara pendapatan