105 | MIZANI: Wacana Hukum, Ekonomi dan Keagamaan Volume 6, No. 2, 2019 PENENTUAN WAKTU SALAT ZUHUR DENGAN BATAS AWAL ZAWÂL AL-SYAMS Badrun Taman 1 & Fafa Redy 2 1 Fakultas Syariah IAIN Bengkulu Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Bengkulu Email: badrun.taman@iainbengkulu.ac.id 2 Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah IAIN Bengkulu Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Bengkulu Email: fafa.redy@gmail.com Abstract: There are two different consepts of zawâl al-syams. First consept shows that zawâl al-syams is sun position when it’s east disk get through meridian. Second consept talk that the zawâl al-syams is sun position which it’s center point accros meridian. This different implicate that doing zuhur prayer when sun is in istiwa’ position is legitimated according to second consept, and isn’t legitimated in the view of first consept, because it doesn’t enter initial limit of zawâl al-syams yet. This description bring up two problems, there are: how is the zawâl al-syams consept according to Islamic jurisprudence of prayer time, and how is the initial limit of zawâl al-syams in the view of Islamic prayer time jurisprudence. This is qualitative-library research with descriptif-analitical-comparative method and normative-astronomic approach. The research conclusions are zawâl al-syams in Islamic jurisprudence perspective is zawâl zhahiri (observable zawâl) with zhuhur fai’ al-zawâl criteria means appearance of zawâl shadow. So that, Zawâl zhahiri is slipping of the sun from meridian signed bay appearance of shadow increase ini length moving to the east. Initial limit of zawâl is started from the first motion of sun. Keywords: Prayer Time, Zuhur, Zawâl al-Syams Abstrak: Ada dua konsep yang berbeda tentang zawâl al-syams. Konsep pertama menyatakan bahwa zawâl al-syams merupakan posisi matahari ketika piringan matahari sebelah timur telah melewati titik tengah langit. Konsep kedua, mengatakan zawâl al-syams adalah posisi ketika markaz (titik pusat) bundaran matahari memotong titik tengah langit atau titik istiwa’. Implikasinya kemudian, menunaikan salat Zuhur tepat pada saat posisi istiwa’ adalah sah menurut pendapat kedua. Namun menurut pendapat pertama, salat Zuhur tersebut tidak sah karena belum memasuki batas awal zawâl al-syams. Paparan ini memunculkan dua rumusan masalah, yaitu bagaimana konsep zawâl al-syams perspektif fikih waktu salat, dan bagaimana batas awal zawâl al-syams perspektif fikih waktu salat. Penelitian ini bersifat kualitatif-library research dengan metode deskriptif-analitis-komparatif dan pendekatan fikih-astronomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zawâl al-syams perspektif fikih waktu salat adalah zawâl zhahiri (zawâl tampak) dengan kriteria zhuhur fai’ al-zawâl (tampak bayangan zawâl). Jadi, secara kualitatif zawâl zhahiri adalah tergelincirnya matahari dari titik kulminasi yang ditandai dengan tampaknya pertambahan panjang bayangan yang bergerak ke arah Timur. Batas awal zawâl al-syams kualitatif adalah dimulai dari penampakan pertama pergerakan fai’ al-zawâl (bayangan zawâl). Kata kunci: Waktu Salat, Zuhur, Zawâl al-Syams Pendahuluan Ada beberapa problematika fikih dan falak tentang waktu-waktu salat yang hingga sekarang menjadi bahan perdebatan baik di kalangan ulama klasik maupun modern. Di antara problematika tersebut adalah: (1) fenomena fajar sebagai tanda awal waktu salat subuh, meliputi antara lain kriteria fajar sadiq, fajar kazib, galas (fajar gelap), isfar (fajar terang), dan zawiyah al-fajr (sudut waktu fajar), (2) fenomena syafaq sebagai tanda waktu Isya, meliputi antara lain permasalahan al-syafaq al-ahmar dan al-syafaq al-abyad, dan besar sudut awal waktu Isya, (3) brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by E-Journal System IAIN Bengkulu (Institut Agama Islam Negeri)