JSLK 2(2) 54-57 Jurnal Saintek Lahan Kering (2019) International Standard of Serial Number 2622-1020 G.A. Wiguna, R. Fardela, dan J.B Selly/ JSLK 2(2)54-57 54 Klasifikasi Tingkat Maturitas Katarak Berbasis Citra Digital Berdasarkan Jangkauan ( Range) Nilai Histogram Gede Arya Wiguna a , Ramacos Fardela b , Jannes Bastian Selly c a Program Studi Biologi Universitas Timor, Kefamenanu; gede.arya@unimor.ac.id b Program Studi Teknik Komputer STT Payakumbuh, Payakumbuh; c Program Studi DIII Kebidanan Universitas Citra Bangsa, Kupang; Artikel Ini Telah Diseminarkan Pada Seminar Nasional Saintek Unimor 2019 Article Info Abstrak Article history: Received 21 November 2019 Received in revised form 23 November 2019 Accepted 26 November 2019 Katarak merupakan gangguan mata yang beresiko menyebabkan terjadinya kebutaan. Resiko kebutaan ini dapat dicegah dengan mendeteksi penyakit katarak serta tindakan yang tepat berupa operasi. Pemeriksaan katarak di poli mata biasanya menggunakan peralatan berupa slit lamp. Peralatan ini hanya terdapat pada rumah sakit yang memiliki poli mata. Minimnya rumah sakit yang memiliki slit lamp akan menyebabkan jumlah penderita katarak yang semakin meningkat. Untuk dapat membantu mengatasi hal tersebut diperlukan sistem deteksi katarak yang mudah diimplementasikan. Pada penelitian ini dibuat sistem klasifikasi tingkatan maturitas katarak berbasis citra digital berdasarkan jangkauan ( range) nilai histogram. Peralatan yang digunakan untuk memperoleh citra digital yaitu kamera Nikon D90 12,3 Megapixel dengan lensa AFD Nikon 50 mm F1.8. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai range untuk mata normal 29–46, mata imatur 54 – 67 dan mata matur 91 – 121. Terlihat bahwa mata matur memiliki range paling tinggi. Diharapkan metode ini dapat membantu mendeteksi dan mengklasifikasi penyakit katarak berbasis pengolahan citra digital. DOI: https://doi.org/10.32938/slk.v2i2.869 Keywords: Klasifikasi maturitas Katarak Histogram Range 1. Pendahuluan Mata merupakan salah satu organ penting bagi manusia yang fungsinya sebagai sensor cahaya. Hal tersebut karena mata terdiri dari sistem optik kompleks yang fungsinya mengumpulkan cahaya dari lingkungan sekitarnya. Intensitas cahaya yang masuk ke mata melalui pupil diatur diafragma yang kemudian difokuskan melalui lensa mata agar cahaya tersebut tepat mengenai retina dan oleh otak dibentuk sebuah gambar (Navarro, 2009). Diagram skematik sistem optik mata ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1. Skematik sistem optik mata(Navarro, 2009). Lensa mata memiliki fungsi untuk memfokuskan cahaya agar tepat jatuh pada retina. Lensa mata tersusun dari protein lensa terutama protein larut air (water soluble protein) yang disebut kristalin yang berbentuk kapsul elastis(Prinyanti, 2013). Kapsul elastis ini yang dapat menyebabkan manusia dapat melihat benda yang jauh dan melihat benda dekat yang disebut daya akomodasi (Atchison, 2017). Ilustrasi daya akomodasi pada mata di tunjukkan pada Gambar 2. Dalam keadaan rileks mata dapat melakukan refraksi sebesar 60D dan pada keadaan akomodasi besarnya refraksi mata adalah 70D (sumber). Lensa mata menyumbang refraksi sebesar 15D sampai 20D. Kemampuan refraksi ini terjadi karena adanya konsentrasi yang sangat tinggi dari protein lensa terutama protein larut air (water soluble protein) yang disebut kristalin (Prinyanti, 2013). Gambar 2. Pengaruh akomodasi mata pada bentuk dan posisi lensa mata (Atchison, 2017). Seiring bertambahnya usia lensa mata mengalami ganguan berupa mekanisme proteksi antioksidan lensa mata karena paparan agen luar secara terus-menerus sehingga terjadi akumulasi radikal bebas yang berlebihan (Prinyanti, 2013). Reaksi radikal bebas dengan lipid membran sel lensa mata dan protein akan menyebabkan cross-linking lipid dan protein, agregasi protein lensa, peningkatan protein tidak larut air (water insoluble protein) sehingga menyebabkan kejernihan lensa menurun dan terjadi katarak (Prinyanti, 2013). Kekeruhan ini akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa serta akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada usia tertentu (Ilyas, 2009). Jadi katarak merupakan salah satu keadaan patologik lensa, dimana lensa menjadi keruh. Berdasarkan usia katarak dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu kongenital, juvenil dan Senilis. Katarak senilis yaitu katarak yang disebabkan karena usia tua. Pada umumnya katarak senilis timbul pada saat usia 50 tahun keatas. Faktor yang mempengaruhi katarak senilis yaitu sinar ultraviolet dan perokok. Tingginya paparan cahaya matahari dan kebiasaan merokok akan sangat mempengaruhi penyakit katarak yang diderita seseorang. Berdasarkan maturitasnya, katarak senilis dapat dibagi menjadi empat yaitu insipien, imatur, matur dan hipermatur (Ilyas, 2009). Dalam katarak imamatur warna keputihan yang muncul di dalam pupil lebih sedikit dibandingkan dengan matur dan hipermatur (Supriyanti & Ramadhani, 2011). Biasanya imamatur merupakan kondisi yang belum serius. Pada katarak hipermatur warna keputihan dalam pupil sangat banyak dan dapat menyebabkan lensa mata berhenti untuk bekerja jika tidak dilakukan operasi. Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kebutaan (Supriyanti & Ramadhani, 2011). Gambar 3 menunjukkan contoh dari berbagai kondisi katarak. Normal Imamatur Matur Hipermatur Gambar 3. Gambar mata normal dan mata Katarak (Supriyanti & Ramadhani, 2011). Di Indonesia, khususnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) prevalensi katarak sebesar 2,3% dengan tiga alasan utama penderita katarak belum dioperasi adalah karena ketidaktahuan (41,4%), tidak mampu membiayai (14,1%), dan ketidakberanian (5,7%) (Riskesdas, 2013). Hal ini berarti bahwa katarak cukup tinggi karena banyak penderita katarak tidak mengetahui dirinya CORE Metadata, citation and similar papers at core.ac.uk Provided by Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)