B I O D I V E R S I T A S ISSN: 1412-033X Volume 9, Nomor 3 Juli 2008 Halaman: 222-226 Alamat Korespondensi: Komplek Laboratorium Pusat Universitas Nasional. Jl. Harsono R.M. No. 1 Ragunan, Jakarta 12550. Tel.: +62-21-7800981 Fax.: +62-21-7801024 Email: info@ffi.or.id Keberadaan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae Pocock, 1929) dan Hewan Mangsanya di Berbagai Tipe Habitat Hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera The existence of Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae Pocock, 1929) and their prey in different forest habitat types in Kerinci Seblat National Park, Sumatra YOAN DINATA 1,3 , JITO SUGARDJITO 2,3, 1 Fakultas Biologi, Universitas Nasional (UNAS), Jakarta 12520. 2 Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911. 3 Fauna-Flora International-Indonesia Program, Jakarta 12550. Diterima: 27 Nopember 2007. Disetujui: 28 Mei 2008. ABSTRACT A study on the relationships between prey animals and the occurence of sumatran tiger was conducted in Kerinci Seblat National Park, western Sumatra from May up to September 2001. The data have been collected from eight study sites based on the forest habitat types and its threats. The results showed that frequency of encounters with prey animals in different forest habitats were no difference. This might indicates that the prey animals were distributed fairly in all types of forest habitat. The frequency encounters of the sumatran tiger signs, however, have shown differently between locations. The encounters of tiger signs were more frequent in the forest habitats that close to the streams; in forest habitats with few animal huntings; and in forest habitats with no logging activities. This findings support the hypotheses that the existence of sumatran tiger as a predator is determined by the dense vegetations surrounding streams as hiding place used in an ambush; availability of prey animals as food, and habitat disturbances as shown by logging. © 2008 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae); forest habitat; prey animals. PENDAHULUAN Harimau sumatra hanya dijumpai di pulau Sumatera, terutama di hutan-hutan dataran rendah sampai dengan pegunungan. Wilayah penyebarannya pada ketinggian 0- 2.000 m dpl (O’Brien et al., 2003), tetapi kadang-kadang juga sampai ketinggian lebih dari 2.400 m dpl (Linkie et al., 2003). Satwa predator ini setiap hari harus mengkonsumsi 5-6 kg daging yang sebagian besar (75%) terdiri atas hewan-hewan mangsa dari golongan rusa (Sunquist et al., 1999). Di Sumatera, rusa sambar (Cervus sp) dan muntjak (Muntiacus muntjak) adalah hewan mangsa utama bagi harimau, meskipun hewan mangsa yang lebih kecil juga menjadi pakannya. Sebagai hewan pemangsa utama (top predator), harimau memerlukan wilayah habitat yang luas supaya dapat hidup dan berkembang biak. Oleh karena itu, kepadatan hewan mangsa sebagai sumber pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung keberlanjutan populasi harimau. Ketersediaan hewan mangsa ini juga memainkan peran penting dalam menentukan daerah jelajah individu harimau (Ahearns et al., 2001). Daerah jelajah harimau sumatra jantan telah diketahui sekitar 110 km 2 dan betinanya mempunyai kisaran daerah jelajah antara 50-70 km 2 (Franklin et al., 1999). Daerah-daerah jelajah ini keberadaannya tumpang tindih antara individu harimau. Alih fungsi kawasan hutan secara besar-besaran menyebabkan hilangnya habitat hutan atau terpotongnya blok kawasan hutan yang luas menjadi bagian-bagian kecil yang terpisah-pisah. Kompetisi ruang dan sumber pakan antara manusia dan harimau telah mendorong masyarakat untuk memusuhi dan membunuh satwa ini. Perusakan habitat dan perburuan hewan mangsa telah diketahui sebagai faktor utama yang menyebabkan turunnya jumlah harimau secara dramatis di Asia (Seidensticker et al., 1999; Karanth dan Stith, 1999; Nyhus dan Tilson, 2004). Pada pertemuan population and habitat viability assessment (PHVA) tahun 1992 di kota Padang, dinyatakan bahwa hanya tersisa 400 ekor harimau sumatra yang bertahan hidup di lima kawasan konservasi besar di Sumatera. Seratus individu lainnya diperkirakan hidup di hutan-hutan di luar kawasan konservasi (Faust dan Tilson 1994; Seal et al., 1994). Di dalam struktur piramida makanan, harimau terletak paling atas atau dikenal dengan top predator, sehingga keberadaannya sangat rawan terhadap kepunahan dibandingkan dengan jenis satwa lain apabila kawasan hutan terpisah-pisah menjadi blok-blok hutan kecil yang tidak mampu mendukung populasi hewan mangsa (Woodroffe dan Ginsberg, 1998). Kepunahan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau bali (P. tigris balica) telah menjadikan pelajaran berharga bagi para pengelola satwa liar dalam upaya penyelamatan harimau sumatra. Pada prinsipnya untuk mempertahankan hidup, harimau sumatra memerlukan tiga kebutuhan dasar yaitu keterse-