Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Vol. 33 No. 1, 2022 :1 - 10 * Alamat Korespondensi : DOI : http://dx.doi.org/10.21082/bullittro.v33n1.2022.1-10 0215-0824/2527-4414 @ 2017 Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat This is an open access article under the CC BY-NC-SA license (http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/) Accreditation Kemenristekdikti Number : 30/E/KPT/2018 1 FORMULASI SEDIAAN EYESHADOW DARI EKSTRAK MAHKOTA BUNGA TELANG (Clitoria ternatea Linn.) SEBAGAI AGEN PEWARNA ALAMI Formulation of Eyeshadow with Butterfly Pea Petal (Clitoria ternatea Linn.) Extract as Natural Coloring Agent Dyah Carinae Yalapuspita 1) , Exsyupransia Mursyanti*, Yustina Sri Hartini 2) 1) Program Studi Biologi Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jalan Babarsari No 44 Yogyakarta 55281 2) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta INFO ARTIKEL ABSTRAK/ABSTRACT Article history: Pewarna dalam pembuatan eyeshadow umumnya menggunakan pewarna sintetik. Zat pewarna sintetik dapat menimbulkan efek samping karena adanya kandungan asam sulfat dan asam nitrat yang bersifat toksik. Bunga telang (Clitoria ternatea Linn.) memiliki pigmen biru yang disebut juga ternatin, secara tradisional digunakan sebagai pewarna makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode yang sesuai untuk ekstraksi mahkota bunga telang, nisbah simplisia dan pelarut yang optimum, efek iritasi dan alergi pada sediaan eyeshadow serta stabilitas eyeshadow mahkota bunga telang. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah determinasi dan identifikasi bunga telang, pembuatan simplisia, ekstraksi, identifikasi kandungan fitokimia, pembuatan sediaan eyeshadow, pengujian iritasi primer, uji stabilitas, dan uji hedonitas. Pembuatan ekstrak untuk formulasi eyeshadow dilakukan melalui dua metode ekstraksi yaitu dekok dan maserasi dengan tiga varian perbandingan simplisia dan pelarut, yaitu 1:5, 1:10 dan 1:20. Metode ekstraksi maserasi dengan perbandingan simplisia mahkota bunga telang 1:20 menjadi kombinasi yang paling optimum dalam menghasilkan ekstrak bunga telang yakni sebanyak 16,5982 g. Eyeshadow dengan penambahan ekstrak mahkota bunga telang tidak menimbulkan efek alergi dan iritasi. Metode maserasi 1:5 merupakan formula yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Metode ini lebih stabil baik dari aroma, warna dan waktu simpan lebih lama yaitu 15 hari pada suhu rendah (-5°C) serta memiliki nilai hedonitas yang tinggi dibandingkan dengan sediaan dari metode yang lain, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pewarna alami kosmetik. Diterima: 09 Februari 2022 Direvisi: 27 Maret 2022 Disetujui: 23 Mei 2022 Kata kunci: Clitoria ternatea Linn.; dekok; maserasi; iritasi primer; stabilitas Keywords: Clitoria ternatea Linn.; decoction; maceration; primary irritation; stability The butterfly pea flower (Clitoria ternatea Linn.) has a blue pigment called ternatin, traditionally used as a food coloring. This study aimed to determine the proper method to extract butterfly pea petals, the optimum ratio of simplicia and solvent, the effect of irritation and allergy, and the stability of the eyeshadow. The research stages were determination and identification, simplicia making, extraction, phytochemical content identification, eyeshadow material preparation, primary irritation evaluation, stability, and hedonic test. Two extraction methods were decoction and maceration with three variants of simplicia and solvent ratios, e.g., 1:5, 1:10, and 1:20. The maceration method with a 1:20 ratio indicated the optimum combination for producing butterfly pea petals extract (16.5982 g). Moreover, eyeshadow with the addition of butterfly pea petal extract showed no indication of allergic and irritating effects. Therefore, the maceration method with a 1:5 ratio could be further developed. Furthermore, this method was more stable in terms of odor and color, possessed a longer shelf-life of 15 days at low temperature (-5°C), and had a high hedonic value compared to other methods. Thus, the eyeshadow formulation with butterfly pea petal extract as its natural dyes was potential to be developed as cosmetics.