61 pISSN: 2723-3472 eISSN: 0000-0000 eISSN: 2746 -1033 Volume 3, Issue 1, March 2022, pages 61-66 REKONSTRUKSI TADULAKO Civil Engineering Journal on Research and Development https://new.jurnal.untad.ac.id/index.php/renstra Asesmen Bangunan Gedung Pemda Kota Palu, Donggala dan Parigi Moutong Pasca Gempa 28 September 2018 H. Listiawaty a , I.K. Sulendra a dan T. Hilmansyah a a Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Palu, Indonesia, 94112 * Corresponding author’s e-mail: hlistiawaty@yahoo.com Received: 04 February 2022; revised: 17 February 2022; accepted: 23 February 2022 Abstract: After a strong earthquake with a magnitude of 7.4 on the Richter Scale with a hypocenter of 10 km and an epicenter of about 70 km north of Palu City, precisely in Lende Village, Sirenja District, Donggala Regency, it caused damage and collapse of buildings due to vibrations, fractures of down lifts and up lifts around the fault trajectory. Palu-Koro. Damage and failure of high-rise and non-rise buildings occurred in Palu City, Donggala City, and Parigi City. Damage to the building can be categorized as light, moderate or heavy damage, so it is deemed necessary to conduct an assessment according to the applicable requirements both on a national scale (using the Ministry of Public Works and Public Housing's 2010 form) and an international form (using a form from the World Bank). This activity aims to determine the level of damage and post-earthquake handling in the form of minor repairs, reinforcement and repair of structural and non- structural elements. There are 6 (six) main buildings in the 3 (three) areas that have been assessed to determine the category of damage and actions for rehabilitation and reconstruction. Damage to the building structure with the category of Light Damage occurred in the Palu City DPRD Office building, the Donggala Regent and DPRD Office and the Anuntaloko Parigi Hospital Inpatient Building. Those that were moderately damaged were the Palu Mayor's Office building and the Parigi Moutong DPRD office. The damaged buildings still allow for repairs and reinforcement according to the level of damage. The repair and strengthening of buildings in order to get good results must be carried out with the right method, good materials and tools and technology and carried out by experienced workers with high qualifications Keywords: assessment, building structure, damage categories,rehabilitation, reconstruction Abstrak: Pasca gempa kuat dengan magnitudo 7,4 SR dengan hiposenter 10 km dan episenter sekitar 70 km arah Utara Kota Palu tepatnya di Desa Lende Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala telah menyebabkan kerusakan dan keruntuhan gedung akibat getaran, rekahan down lift dan up lift yang di sekitar lintasan sesar Palu-Koro. Kerusakan dan kegagalan struktur gedung bertingkat maupun bangunan tidak bertingkat terjadi di Kota Palu, Kota Donggala, dan Kota Parigi. Kerusakan pada bangunan tersebut dapat dikategorikan sebagai kategori rusak ringan, sedang maupun berat, sehingga dirasa perlu untuk melakukan asesmen sesuai persyaratan yang berlaku baik skala nasional (menggunakan form Kementerian PUPR tahun 2010) maupun form yang bersifat internasional (menggunakan form dari World Bank). Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan serta penanganan pasca gempa baik berupa perbaikan ringan, perkuatan dan perbaikan elemen struktur dan non strukturnya. Terdapat 6 (enam) bangunan utama di ke 3 (tiga) wilayah tersebut yang telah dilakukan asesmen untuk mengetahui kategori kerusakan dan tindakan untuk rehab dan rekonnya. Kerusakan struktur gedung dengan kategori Rusak Ringan terjadi pada bangunan Kantor DPRD Kota Palu, Kantor Bupati dan DPRD Donggala dan Gedung Rawat Inap RSUD Anuntaloko Parigi. Yang mengalami Rusak Sedang adalah gedung Kantor Wali Kota Palu dan kantor DPRD Parigi Moutong. Bangunan yang mengalami kerusakan tersebut masih memungkinkan dilakukan perbaikan dan perkuatan sesuai tingkat kerusakannya. Adapun perbaikan dan perkuatan bangunan agar mendapatkan hasil yang baik harus dilakukan dengan metode yang tepat, bahan dan alat serta teknologi yang baik serta dikerjakan oleh pekerja yang berpengalaman dengan berkualifikasi yang tinggi Kata kunci: asesmen, bangunan gedung, kategori kerusakan, rehabilitasi, rekonstruksi 1. Pendahuluan Fenomena gempa bumi, khususnya gempa tektonik selain merupakan suatu peristiwa yang menimbulkan ketakutan dan trauma sesungguhnya merupakan peristiwa yang dapat diambil pembelajarannya [1-4]. Dengan terjadinya peristiwa gempa, masyarakat yang wilayahnya berisiko tinggi mengalami peristiwa gempa harus kooperatif dan familiar terhadap bangunan sederhana tahan gempa [5- 8]. Pada tahun 2010 Indonesia telah memperkenalkan peta zonasi gempa yang baru, peta ini terus mengalami pemutahiran karena magnitudo dan intensitas gempa yang terus meningkat [9-11]. Telah diketahui sekitar 295 sesar di wilayah Indonesia berdasarkan Peta Gempa Indonesia tahun 2017. Peta ini nantinya akan dimasukkan pada peraturan perencanaan bangunan tahan gempa yang baru menggantikan peraturan perencanaan bangunan tahan gempa yang lama (SNI-1726, tahun 2002 menjadi tahun 2018). Secara umum peta zonasi gempa yang baru ini cenderung akan memberikan beban gempa yang lebih besar pada bangunan dibandingkan dengan yang ditentukan dalam peraturan gempa yang lama tersebut [12]. Terkhusus wilayah Palu dan sekitarnya yang dilintasi sesar Palu-Koro yang catatan kegempaannya terus meningkat. Hal ini menjadi “warning” bagi semua stakeholder di wilayah ini untuk secara berkelanjutan melakukan proses mitigasi bencana gempa bumi [13]. Pasca Gempa Padagimo (Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong) pada 28 September 2018 masih menyisakan permasalahan yaitu masih ada bangunan yang belum dilakukan asesmen kondisi kerusakan pasca gempa