Jurnal Fisika Unand Vol. 4, No. 2, April 2015 ISSN 2302-8491 144 PENGARUH PENAMBAHAN INHIBITOR EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS TERHADAP PENURUNAN LAJU KOROSI BAJA ST-37 Lusiana Br Turnip, Sri Handani, Sri Mulyadi Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Andalas, Padang e-mail:lusiana_turnip@yahoo.com ABSTRAK Penelitian tentang pengaruh penambahan inhibitor ekstrak kulit buah manggis terhadap laju korosi baja St-37 menggunakan metode potensiodinamik telah dilakukan. Medium korosif yang digunakan adalah NaCl 3% dengan variasi konsentrasi inhibitor ekstrak kulit buah manggis yang digunakan adalah 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%. Penambahan inhibitor ke dalam larutan NaCl dapat menurunkan laju korosi. Efisiensi inhibitor korosi yang paling besar terjadi pada konsentrasi 2% dengan efisiensi 26,05%. Hal ini juga terlihat dari analisis foto optik morfologi dimana permukaan baja dengan penambahan ekstrak kulit buah manggis 2% mengalami korosi paling sedikit. Kata Kunci : korosi, inhibitor, buah manggis, potensiodinamik ABSTRACT A research about the influence of addition of inhibitors from mangoesteen peel extract to the corrosion rate of steel St-37 using the potentiodynamic method has been done. Corrosive medium used is NaCl 3% and the concentrations of the extract used are 2%, 4%, 6%, 8% and 10%. The addition of inhibitor to NaCl solution results decreasing of corrosion rate. The results showed that the maximum efficiency of corrosion inhibition occur at inhibitor concentration of 2% with efficiency 26.05%. Optical photographs morphology of St-37 steel from optical photographs showed that the addition of 2% mangosteen peel extract suffered least corrosion. Keywords : corrosion, inhibitors, mangosteen, potentiodynamic I. PENDAHULUAN Korosi adalah reaksi dari suatu logam dengan senyawa lain yang berada di sekitarnya yang menghasilkan senyawa yang tidak dikehendaki. Peristiwa korosi mengakibatkan degradasi atau penurunan mutu material, sehingga logam menjadi material yang kurang bermanfaat. Korosi merupakan masalah yang sering muncul dalam berbagai peralatan yang berbahan dasar logam seperti kapal, mesin, mobil, gedung dan lain sebagainya. Di negara maju, sekitar 3,5% dari penghasilan negara digunakan untuk perbaikan, pemeliharaan, dan penggantian peralatan yang menggunakan logam (Trethewey, 1991). Korosi pada logam sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung gas limbah (sulfur dioksida, sulfat, hidrogen sulfida, klorida), kandungan O 2 , pH larutan, temperatur, kelembaban, kecepatan alir, dan aktifitas mikroba (Asdim, 2007). Korosi tidak bisa dihentikan tetapi laju korosi bisa diperlambat. Untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkan korosi dapat dilakukan tindakan pengendalian dan perlindungan terhadap logam, seperti pemilihan material, pelapisan (coating), proteksi katodik dan penambahan inhibitor (Jones, 1996). Inhibitor biasanya berasal dari senyawa organik dan anorganik. Inhibitor organik atau alami bekerja dengan membentuk senyawa kompleks yang mengendap (adsorpsi) pada permukaan logam sebagai lapisan pelindung yang bersifat hidrofobik yang dapat menghambat reaksi logam tersebut dengan lingkungannya. Reaksi tersebut dapat berupa reaksi anodik dan katodik ataupun keduanya. Inhibitor organik dapat menetralisisasi konstituen korosif dan mengabsorbsi konstituen korosif tersebut (Putra, 2011). Inhibitor organik diklasifikasikan menjadi inhibitor organik sintetis yang terbuat dari bahan bakar fosil dan inhibitor organik alami yang terbuat dari ekstrak tumbuhan. Salah satu kandungan dari ekstrak bahan alam yang dapat digunakan menjadi inhibitor korosi adalah tanin. Tanin mempunyai kemampuan membentuk senyawa kompleks karena memiliki unsur-unsur yang memiliki pasangan bebas yang berfungsi sebagai pendonor elektron terhadap logam Fe2+ yang berfungsi sebagai inhibitor. Beberapa tumbuhan yang memiliki kandungan tanin yaitu daun inai sebanyak 10,2% (Wildani, 2009), daun papaya sebanyak 5-6% (Widjastuti, 2009), dan daun teh sebanyak 7-15% (Sari, 2013).