52 JKGT VOL.3, NO.2, DESEMBER (2021) 52-56 (Laporan Kasus) Penatalaksanaan dan Pemilihan Teknik Augmentasi Tulang pada Pemasangan Implan Dental 1 Eureka Koharaudi Halimi, 3 Yessy Ariesanti* 1 Mahasiswa SID Angkatan XIII Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti Harvest Dental Care Ruko Glaze I Blok A No.25, Gading Serpong, Tangerang, Indonesia 3 Bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti Jakarta, Indonesia Jl. Kyai Tapa No.1, Tomang, Grogol, Petamburan, Jakarta Barat, 11440 *Email : yessy.ariesanti@trisakti.ac.id ABSTRACT Inadequate bone condition in dental implants can be a fundamental problem. The success of implant therapy Background: depends on adequate bone thickness at the implant site. Inadequate bone condition due to atrophy, periodontal disease, trauma, or vertical, horizontal, and sagittal intermaxillary relationships can result in insufficient bone volume for implant placement. Bone augmentation for implant treatment it’s a common practice to obtain the function and aesthetics expected in areas of inadequate bone. Several techniques and materials of bone augmentation with varying success rates are known, one of which is Guided Bone Regeneration (GBR). To add information about the management of bone Objective: augmentation in dental implants using the Guided Bone Regeneration (GBR) technique. A 20-year-old female Case Report: patient attended a clinic to solve a functional problem and prevent dental shifting after tooth extraction. She wanted to have permanent dentures for the left mandibular. After undergoing several examinations, it was decided to perform dental implants on tooth 36, diameter 3.4 mm and length 10.5 mm with a cemented-screw type PFM crown. In this case, the bone augmentation technique is Guided Bone Regeneration (GBR) with allograft bone grafts. After being observed for approximately one year, it appears that new bone formation has occurred, which supports the success of the dental implant treatment. Various bone augmentation techniques are effective in correcting inadequate bone conditions prior Conclusion: to implant placement. Keywords: bone augmentation, bone graft, dental implant. LATAR BELAKANG Pasien yang mengalami kehilangan gigi sebagian atau total membutuhkan penggantian giginya yang hilang. Hal ini dapat diatasi dengan gigi tiruan lepasan, gigi tiruan cekat, atau gigi tiruan dukungan implan. Pada kasus yang tidak langsung digantikan setelah pencabutan seringkali terjadi resorpsi tulang. 1 Resorpsi tulang alveolar merupakan proses biofisika yang umum terjadi setelah kehilangan gigi secara alami. Atrofi tulang alveolar merupakan gangguan yang menyebabkan beberapa masalah fisik pada pasien edentulous.1 Resorpsi tulang setelah pencabutan gigi terjadi dengan cepat yang pada akhirnya menyebabkan perubahan morfologi tulang alveolar baik secara horizontal maupun vertikal. Pada umumnya, pasca pencabutan gigi rahang bawah akan terjadi resorpsi pada daerah bukal lebih banyak dibandingkan daerah lingual. Oleh karena itu, pada beberapa kasus akan dilakukan socket preservation untuk mencegah terjadi resorpsi yang berlebih. 2 Klasifikasi dasar kerusakan tulang akibat resorpsi pasca pencabutan dapat memudahkan operator untuk menentukan rencana perawatan dengan tepat. Terdapat enam kelas kerusakan tulang yang mendasar dan petunjuk pemilihan teknik serta pemilihan bio-material yang akan digunakan. Hal ini menjadi penting dalam persiapan pemasangan implan dental, karena tulang yang adekuat merupakan kunci perawatan implan dental. Berikut klasifikasi morfologi kerusakan tulang yang perlu diperhatikan sebelum melakukan prosedur augmentasi tulang. (Tabel 1 dan Gambar 1) 2,3 Tabel 1. Klasifikasi kerusakan morfologi tulang. 2