Al-Kauniyah Jurnal Biologi Volume 8 Nomor1, April 2015 32 INDUKSI KALUS DARI EKSPLAN DAUN IN VITRO KELADI TIKUS (Typhonium sp.) DENGAN PERLAKUAN 2,4-D DAN KINETIN Marlina Agustina Sitinjak, Mayta Novaliza Isda, Siti Fatonah Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Riau Pekanbaru *Coresspondinga author: maytaisda@yahoo.com Abstract Rodent tuber (Typhonium sp.) belongs to Araceae that has a potential as medicinal plant. This procedure takes a long periode to produce a large quantity of plant. Therefore, an in vitro propagation using callus culture is necessary to solve this problem. This research aimed to determine the best concentration of 2,4-D and kinetin to induce callus of in vitro leaf rodent tuber explants. This research used in vitro leaft explants of rodent tuber with MS medium. The design used is Randomize Group Design with 10 treatment. The results showed that explants could not produce callus, the explants response just a swelling leaf explants. The treatment that could give up to 100% swelling response was 2.4-D 0.5 mg / L dan 1 mg / L and the combination treatment 0.5 mg / L 2.4-D + 0.3 mg /L kinetin, 0.5 mg / L 2.4-D + 0.5 mg / L kinetin and 1.5 mg / L 2.4-D + 0.5 mg / L kinetin. The treatments that could maintain 66.67% explants growth was the combination 0.5 mg / L 2.4-D + 0.5 mg / L kinetin and 1 mg /L 2.4-D + 0.5 mg / L kinetin. Keywords: Callus, in vitro, kinetin, rodent tuber, 2.4-D PENDAHULUAN Keladi tikus (Typhonium sp.) tergolong famili Araceae, termasuk salah satu jenis tumbuhan liar yang berpotensi sebagai tanaman obat yang mengandung senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin dan steroid digunakan sebagai tanaman obat penyakit kanker (Mudahar et al., 2006). Perbanyakan tanaman keladi tikus hingga saat ini dilakukan melalui perbanyakan vegetatif menggunakan umbi yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memproduksi tanaman dalam jumlah banyak. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan metode kultur jaringan (in vitro) yang dapat dilakukan secara langsung dari organ tanaman ataupun melalui fase kalus. Kultur kalus sering digunakan untuk memperoleh tanaman bebas virus, embrio- genesis somatik, regenerasi varian genetika dan menghasilkan senyawa metabolit sekun- der (Zulkarnain, 2009). Untuk itu dilakukan penelitian pemberian zat pengatur tumbuh 2,4-D dan kinetin dalam beberapa taraf perlakuan untuk menginduksi kalus pada eksplan daun in vitro keladi tikus. Induksi kalus sangat berkaitan dengan zat pengatur tumbuh endogen dan eksogen. Zat pengatur tumbuh yang paling berpengaruh pada induksi kalus adalah auksin dan sitokinin. Penggunaan auksin (2,4-D) dan sitokinin (BA atau kinetin) akan meningkat- kan proses induksi kalus. Penambahan auksin atau sitokinin ke dalam media kultur dapat meningkatkan konsentrasi zat pengatur tum- buh endogen di dalam sel, sehingga menjadi “faktor pemicu” dalam proses tumbuh dan perkembangan jaringan (Lestari, 2011). Kom-binasi zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam medium merupakan faktor utama penentu keberhasilan kultur in vitro (Indah & Ermavitalini, 2013). 2,4-D efektif untuk merangsang pembentukan kalus karena aktiv-itas yang kuat untuk memacu proses diferensiasi sel, organogenesis dan menjaga pertumbuhan kalus. Beberapa golongan sito-kinin yang sering digunakan dalam metode kultur jaringan untuk menginduksi kalus adalah BA dan kinetin. Hasil penelitian Syahid & Kristina (2007)