Seminar Internasional Riksa Bahasa XIV http://proceedings.upi.edu/index.php/riksabahasa e-ISSN: 2655-1780 p-ISSN: 2654-8534 390 Seminar Internasional Riksa Bahasa XIV STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KARAKTER PADA PENDIDIKAN TINGGI VOKASI Nailiya Nikmah Politeknik Negeri Banjarmasin, Banjarmasin, Indonesia nailiya.nikmah@gmail.com ABSTRAK Sebagai penghela ilmu pengetahuan, maka mata kuliah Bahasa Indonesia dengan sendirinya memiliki posisi dan peran yang lengkap untuk membawa misi pendidikan karakter melalui proses belajar-mengajar (PBM). Dengan misi mulia tersebut, perlu dipertimbangkan dengan baik dan cermat, strategi pembelajaran yang seperti apa yang dapat diterapkan atau diimplikasikan pada pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi, khususnya pendidikan tinggi vokasi. Berdasar hal tersebut, peneliti merumuskan masalah bagaimanakah strategi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis karakter pada perguruan tinggi vokasi? Berdasar hal tersebut, tulisan ini menyimpulkan bahwa jika dikaitkan dengan 8 Kompetensi Lulusan yang harus dibangun oleh pendidikan vokasi, yaitu Communication Skills, Critical and Creative Thinking, Information/Digital Literacy, Inquiry/Reasoning Skills, Interpersonal Skills, Multicultural/Multilingual Literacy, Problem Solving, Technological Skills, pembelajaran berbasis karakter dapat bersinergi membangun delapan (8) kompetensi ini melalui beberapa langkah strategis. Kata kunci: Bahasa Indonesia; Pendidikan Karakter; Pendidikan Vokasi; Strategi Pembelajaran. PENDAHULUAN Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata kuliah wajib umum (MKWU) di perguruan tinggi selain tiga mata kuliah lain, yaitu Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan. Hal ini telah diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. Penempatan mata kuliah tersebut sebagai mata kuliah wajib umum bukan tanpa alasan. Bahasa Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi yang unik dan strategis sebagai bahasa di Negara Republik Indonesia. Mempelajarinya hingga tingkat perguruan tinggi tentu membawa tujuan khusus yang berbeda dibanding mata kuliah lainnya. Kenyataan atau fakta di lapangan, ada program studi yang setelah menjalani proses penilaian atau akreditasi, baru menyadari perlunya memasukkan mata kuliah bahasa Indonesia ke dalam bagian kurikulum program studi. Bahkan seringkali, inipun hanya sebatas melaksanakan kewajiban sebagaimana yang telah diatur oleh pemerintah dalam undang-undang. Kadang-kadang mata kuliah Bahasa Indonesia dipandang sebelah mata dan dianggap mengurangi jatah jumlah beban SKS program studi. Keadaan lainnya yang cukup memprihatinkan adalah ketika mata kuliah Bahasa Indonesia diampu oleh pengajar yang sembarang saja atau tidak berlatar belakang pendidikan bahasa Indonesia. Ini terjadi karena mata kuliah tersebut dianggap sepele, tanpa mencoba berupaya memahami hakikat pembelajaran bahasa yang sesungguhnya. Terminologi pendidikan karakter dikenalkan sejak 1900-an, Thomas Lickona dalam Samrin (2016) dianggap sebagai pengusungnya, mengandung 3 unsur pokok. Karakter mengacu pada serangkaian pengetahuan, sikap dan motivasi serta perilaku dan keterampilan. Ketika masyarakat dihadapkan pada persoalan-persoalan karakter seperti menurunnya moral dan akhlak, para ahli pendidikan dan para ahli lainnya dari berbagai rumpun bidang ilmu mulai mengkaji dan menganalisis serta mengusulkan beragam alternatif sebagai langkah-langkah mengupayakan solusi.