Seminar Nasional APTIKOM (SEMNASTIKOM), Hotel Lombok Raya Mataram, 28-29 Oktober 2016 Seminar Nasion Multimedia 2016 STMIK AMIKOM ISSN : 2302-3805 360 DESAIN MEDIA SIMPAN UNTUK MENINGKATKAN DAYA TAHAN SUSU BUBUK Agung Kridoyono 1) , Agus Hermanto 2) , Geri Kusnanto 3) 1) 2) 3) Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl Semolowaru 45 Surabaya 60118, Telp. 031-5921516 Email : akridoyono@untag-sby.ac.id 1) , hermanto_if@untag-sby.ac.id 2) , gerikusnanto@untag-sby.ac.id 3) Abstrak Susu bubuk termasuk produk yang tidak tahan lama yang mengalami perubahan kualitas tiap waktu. perubahan kualitas ini dikarenakan pengaruh suhu, kelembaban atau kontak dengan material, pertumbuhan spora B. cereus dan C. perfringens. Kadar oksigen, wettability, bilangan peroksida merupakan jenis parameter penentu kualitas susu bubuk tersebut. Dalam paper ini dibahas pembuatan media simpan susu bubuk sehingga diharapkan kualitas susu lebih tahan lama saat disimpan dalam keadaan terbuka atau tertutup juga pertumbuhan bakteri B. cereus dan C. perfringens dapat dikendalikan agar kualitas susu terjaga dan media ini dapat digunakan untuk uji susu. Pengaturan parameter penentu kualitas susu bubuk ini merupakan proses yang dioptimasi pada media simpan yang dibuat. Keywords : Penyimpanan susu bubuk, Model reference adaptive control, inkubator 1. Pendahuluan Hampir semua produk industri sebelum sampai ke konsumen akan mengalami penyimpanan. Bagi produk industri yang peka terhadap kerusakan seperti makanan, kondisi ruang penyimpanan seperti suhu, mendapat perhatian. Salah satu produk makanan tersebut adalah susu bubuk. Susu bubuk merupakan suatu hasil olahan yang terbuat dari bahan dasar susu sapi segar yang telah mengalami proses pengeringan melalui proses spray drying. Setelah itu dilakukan penambahan bahan lain, terutama untuk mengantikan zat gizi yang telah mengalami keruskan selama proses pengeringan [1]. Prinsip pembuatan susu bubuk adalah mengurangi kadar air yang terdapat dalam susu sampai batas tertentu, untuk menghambat aktivitas kimia atau mikroba dalam susu. Sehingga daya simpan susu ini menjadi lebih lama. Namun, susu memiliki sifat yang rentan atau mudah rusak terutama oleh kondisi dan lamanya penyimpanan, dengan demikian perlu diperhatikan. bagaimana penyimpanan yang baik, karena pada kenyataannya suhu dan lamanya penyimpanan mempengaruhi kualitas susu bubuk tersebut [1,2]. Parameter kerusakan yang diamati adalah meliputi pengujian kadar oksigen, pengujian wettability, pengujian bilangan peroksid (peroxide value), serta keadaan fisik seperti warna, lumps (gumpalan) dan flecks (kotoran yang terdapat dalam susu). Oksigen berpengaruh terhadap reaksi kimia dari lemak yang terkandung dalam susu yang mengakibatkan ketengikan. Reaksi ini terutama akan terjadi pada lemak yang mengandung asam lemak tak jenuh, dan susu bubuk ada penambahan jenis asam lemak seperti omega 3 dan 6 untuk meningkakan nilai gizinya. Sementara bilangan peroksida merupakan hasil reaksi ketengikan ini. Salah satu cara untuk menghilangkan kandungan oksigen yang terdapat di dalam kemasan susu bubuk tersebut adalah dengan mengalirkan suatu gas yang bersifat inert. Biasanya digunakan gas inert yang disuntikkan ke dalam kemasan susu bubuk adalah gas Nitrogen karena gas tersebut bersifat inert dan murah [3]. Bentuk bubuk tidak memerlukan cara penyimpanan yang khusus, setelah kemasan dibuka, susu formula cukup disimpan pada tempat yang kering dan tertutup rapat. Pelarutannya kembali, cukup ditambahkan air matang dengan suhu minimal 70 0 C, maka susu formula sudah bisa dikonsumsi [4]. Anjuran tersebut tidak sepenuhnya dipatuhi oleh para ibu dalam melarutkan susu formula. Perlakuan yang tidak semestinya pada penyimpanan dan preparasi, menjadikan susu formula sebagai pangan yang berisiko tinggi karena kepekaan bayi terhadap bakteri enterik patogen dan respon yang berlebihan terhadap toksin. Wettability adalah waktu kemampuan susu untuk bercampur dengan air. Pengujian dilakukan ada saat sampel susu bubuk tenggelam seluruhnya di dalam air. Residu yg tidak terlarut disebabkan oleh protein yang terdenaturasi, partikel yang hangus atau lengket ( burnt and sticky particles), partikel sukar larut dan bahan campuran (impuritas), Faktor-faktor yang mempengaruhi solubilitas adalah ukuran partikel, suhu udara pengeringan, tekanan udara pengeringan, suhu udara keluar. Parameter ini penting dalam pengawasan mutu susu bubuk [5,6,7]. Produk makanan umumnya dikemas dalam suatu aluminium foil, untuk menghindari pengaruh luar [8]. Walaupun demikan selama transportasi bisa menimbulkan kerusakan masih bisa terjadi,terutama ketika pendistribusian ke daerah-daerah terpencil.