Prosiding Pendidikan Guru Paud ISSN 2460-6421 9 Implementasi Pendidikan Karakter melalui Bermain Peran Bagi Anak Usia 3-4 Tahun di TK Pertiwi III Epi Yogyanti, Ayi Sobarna, Adang M. Tsaury Program Studi Pendidikan Guru Paud, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Bandung Bandung, Indonesia yogyantievie@gmail.com AbstractThis study aimed to determine the effect of the issuance of bonds and sukuk rating to the company's value on the company issuing the securities and listed in Indonesia Stock Exchange 2015-2018 period. The method used is quantitative research methods. The population of this research is that penerbitkan sukuk company and is listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI). Purposive sampling data retrieval techniques generate as much as 44 Data sukuk issued by companies listed on the Stock Exchange. Statistical analysis method used is partial hypothesis test (T) and simultaneous (F). The test results showed that partial (T) statement of sukuk does not have a significant contribution to the value of companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2015-2018 period and the sukuk ranking is significantly related to the value of companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2015- 2018 period, and simultaneously (F) submits sukuk and sukuk rank together - the value of companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2015-2018 period. Keywordssecurities, rating the company's value. AbstractPendidikan karakter dilakukan untuk membentuk pribadi seseorang agar memiliki budi pekerti, tabiat yang baik, perilaku yang baik. Karakter merupakan watak, tabiat, kepribadian seseorang yang terbentuk dari proses perpaduan antara nurani yang sudah dibawa sejak lahir dengan nilai, moral, norma, yang digunakan sebagai landasan bersikap, dan bertindak. Tujuan penelitian adalah untuk menerapkan pendidikan karakter pada anak usia dini dalam kegiatan belajarnya. Pendidikan karakter yang telah dilakukan di lembaga pendidikan PAUD selama ini lebih banyak menggunakan model pembelajaran ceramah dan bercerita. Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai implementasi pendidikan karakter. Metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yang mengacu pada pendapat Suharsimi Arikunto. Pendidikan karakter diharapkan menjadi prioritas dalam program belajar di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini. Bermain peran adalah salah satu model pembelajaran bermain yang dilakukan secara berkelompok. Memerlukan media sebagai alat untuk memperjelas tujuan yang ingin dicapai dari proses belajar yang dilakukan. Hasil Penelitian Tindakan Kelas di kelas A Strawberry TK Pertiwi III Bandung, pada siklus I menunjukkan pencapaian nilai kategori rendah. Setelah dilakukan tindakan melalui siklus II, muncul perilaku baik peserta didik hingga rata-rata mencapai kategori baik, hal ini dapat dilihat melalui tabel penilaian dan grafik. Implementasi pendidikan karakter melalui bermain peran pelaksanaannya melalui dua siklus yaitu, siklus I dan siklus II. Setiap siklus terdiri dari tiga tahap yaitu; tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Pada setiap akhir siklus dilakukan refleksi untuk mengetahui kelemahan atau kelebihan dari tindakan yang telah dilaksanakan. Kelemahan yang ada pada siklus I dapat disempurnakan pada siklus berikutnya (siklus II). AbstractPendidikan Karakter, Anak Usia Dini, Bermain Peran. PENDAHULUAN I. A. Latar Belakang Menurut Masnipal Marhun dalam pandangan Montessori tentang anak, orang dewasa harus menghilangkan sifat egosentris dan otoriter terhadap anak serta tidak memaksa keinginannya untuk menjejal anak dengan pengetahuan dan pengalamannya, meskipun menurutnya itu baik bagi anak. Sebaliknya, orang dewasa seharusnya bertindak sebagai fasilitator yakni menciptakan iklim lingkungan kondusif, aman dan nyaman sehingga perkembangan anak dapat beproses secara alamiah. Orang dewasa juga berperan mengantar anak agar ia memiliki kesiapan untuk mempelajari sesuatu untuk dirinya dan tidak selalu menggantungkan dirinya kepada orang dewasa [1] . Menurut Montessori anak-anak pada usia dini, mereka menunjukkan kecenderungan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru melalui inderanya. Mengeksplorasi semuanya, dan begitulah cara mereka belajar, temuan ini dikatakan Montessori sebagai “periode sensitif” [2]. Mereka mengerjakan apa yang mereka temui di sekelilingnya. Setelah mendapatkan pengetahuan dari lingkungan sekitarnya, dan melalui tahap ini dengan baik, mereka akan mulai terkontrol dalam memenuhi keinginannya selanjutnya. Semua anak harus dapat melalui tiap tahapan perkembangannya dengan baik. Mereka memerlukan perhatian yang cukup. Pendidikan karakter adalah membentuk akhlak anak, tabiat/perilaku anak sesuai nilai-nilai agama dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Menurut [3], karakter adalah suatu tabiat/perilaku yang sangat berkaitan erat dengan pengetahuan tentang moral atau konsep moral