Jurnal Terapan Sains & Teknologi E-ISSN: 2721-6209 Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Kanjuruhan Malang Vol. 2, No. 1, 2020 17 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN OPEN-ENDED PROBLEM TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 MALANG Sisi Rensi Djami 1 , Nurul Ain 2 , Chandra Sundaygara 3 Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Kanjuruhan Malang 1,2,3 Email: sisirensi96@gmail.com Abstrak. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan (1) mengetahui perbedaan motivasi belajar fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran Open-Ended Problem dengan model pembelajaran Konvensional, (2) mengetahui perbedaan prestasi belajar fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran Open-Ended Problem dan model pembelajaran Konvensional, (3) mengetahui interaksi model pembelajaran Open-Ended Problem dan motivasi terhadap prestasi belajar fisika siswa. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang. Pengumpulan sampel menggunakan tes purposive sampling. Metode yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi Experimental Design), dengan rancangan only-posttest control group design. Peniliaian motivasi belajar siswa dilakukan melalui observasi sedangkan untuk prestasi belajar siswa dilakukan melalui test. Data yang yang diperoleh kemudian diuji analisis dengan uji Anova Dua Jalur ( Two Way Anova) menggunakan bantuan program SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata motivasi belajar pada kelas eksperimen (89,4) dan kelas kontrol (73,3), sedangkan prestasi belajar pada kelas eksperimen (89,13) dan kelas kontrol (76,09). Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Open-Ended Problem berpengaruh terhadap motivasi dan prestasi belajar fisika siswa. Kata Kunci: Open-Ended Problem, Motivasi, Prestasi Belajar PENDAHULUAN Fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala atau fenomena alam. Sehingga untuk memahami fisika, tidak cukup dengan hanya memberikan teori, tetapi perlu dilakukan suatu penyelidikan atau memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Hal ini sejalan dengan dikatakan oleh Ayu, 2017 bahwa “pembelajaran fisika seharusnya dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga menambah kemampuan dalam mengkonstruksi, memahami, dan menerapkan konsep yang telah dipelajari”. Dengan demikian, “siswa akan terlatih menemukan sendiri berbagai konsep secara holistik, bermakna, otentik serta aplikatif untuk kepentingan pemecahan masalah” (Ayu, 2017). Hal ini juga didukung dengan apa yang disampaikan oleh Hermansyah (2015) yang mengatakan “pembelajaran fisika menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi siswa”. Permasalahan yang sering dijumpai dalam belajar fisika adalah siswa kurang menyenangi pelajaran fisika (Hari, 2008). Selanjutnya Lusiyana., Rohim & Rohman (2017) mengatakan “banyak siswa menganggap bahwa fisika adalah pelajaran yang sulit, penuh dengan rumus-rumus yang harus dihafal dan teori-teori yang membosankan”. Rasa kurang senangnya siswa pada pelajaran fisika inilah membuat siswa tidak termotivasi untuk belajar fisika (Iradelina, 2016). Selain itu, Ayu, 2017 mengatakan “permasalahan yang sering dijumpai dalam proses pembelajaran fisika adalah kurangnya interaksi antara guru dan siswa serta komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa masih satu arah atau bisa dikatakan bahwa pembelajaran masih berorientasi pada guru (teacher center), sedangkan siswa hanya bekerja secara